"Mas Sam kayaknya lagi happy parah, deh," Nalendra berkata saat bergabung makan siang dengan Nina dan Sisy di salah satu meja kantin. "Mood-nya bagus banget semingguan ini. Padahal kerjaan kita banyak yang nggak bener. Tapi dia masih 'it's okay-it's okay' aja."
"Perasaan Mas Sam emang nggak pernah marah deh." Komentar Sisy sambil menggigit kentang gorengnya.
"Ah, elo nggak tahu aja, Mbak. Kalau lagi badmood, marahnya Mas Sam nggak yang bentak-bentak gitu. Tapi kerjaan kita direvisi jutaan kali sampai lo pengin nangis."
Sisy tertawa. "Itu sadis, sih." Kemudian Sisy menengok ke arah Nina yang diam. "Sama lo, Mas Sam sering marah nggak, Nin?" tanya Sisy sambil menaik turunkan alisnya.
"Sama Teh Nina nggak pernah." Nalendra meyambar sebelum Nina sempat menjawab. "Mungkin nggak enak marah sama mantan kali, ya." Tambah Nalendra cengar-cengir.
Nina mendengus. Melayangkan tatapan galak pada Nalendra. "Gue nggak pernah dimarahin karena kerjaan gue selalu bener."
"Canda, Teh. Elah. Temen lo belakangan sensi banget deh, mbak" Nalendra mengadu pada Sisy.
Sisy tertawa. "Bukanya emang selalu sensi, ya?"
Nalendra ikut tertawa. "Iya juga, ya. Tapi Teh Nin ini, Teteh favorit gue, Mbak. Dibalik judesnya, Teh Nina yang paling perhatian. Gue sakit aja dikirim sup." Tangan Nalendra terlentang untuk memeluk Nina. "Sayang deh sama Teh Nina."
Nina memutar bola matanya lalu menyingkirkan tangan Nalendra dari tubuhnya. "Lepas kalau nggak mau gue tonjok, ya?"
Nalendra mencebikkan bibirnya sok imut. Perlahan-lahan menarik tangannya.
Sisy tergelak. Menikmati interaksi Nina dan Nalendra yang seperti adik-kakak. Walaupun Nina bersikap galak pada Nalendra, justru dia lah yang paling perhatian kalau Nalendra kenapa-napa. Begitu pun sebaliknya. Nalendra yang hobi menjahili Nina pun sebetulnya diam-diam melindungi Nina dari para pria-pria tidak jelas yang berusaha mendekati senior favoritnya.
Kemarin saja, Nalendra sempat menanyakan soal Dewa pada Sisy. Hanya karena satu interaksi, Nalandra langsung tahu jika Dewa tertarik pada Nina.
"Mas Dewa naksir Teh Nina ya, Mbak? Kemarin gue liat dia ngelihatin Teh Nina mulu."
"Gokil!" Sisy terkekeh. "Makin ugal-ugalan aja Mas Dewa."
"Tapi Teh Nina kayaknya males gitu." Beritahu Nalendra. "Lo kan deket sama Mas Risyad, Mbak. Coba lo tanyain Mas Dewa orangnya gimana. Teteh tersayang gue ini. Gue aja ogah kalau ada cowok nggak jelas minta comblangin sama Teh Nina." Nalendra menambahkan protektif.
"Perfect, Len." Sisy menyahut antusias. "Bibit, bebet, bobot. Mas Dewa juga anaknya baik, kok. Terus gentle lagi. Kalau nggak baik, nggak mungkin gue dukung."
"Jaga-jaga aja, Mbak."
Sisy manggut-manggut. "Tapi gimana nih sama temen lo? Masih lempeng-lempeng aja?"
Tahu siapa yang dimaksud, Nalendra tertawa kencang. Untungnya lorong tempat mereka bicara kosong. "Masih gitu aja, Mbak. Udah gue bilang buruan tunjukin lebih jelas sebelum disalip orang—tetap aja Mas Ped lambat. Udah bertahun-tahun, lho."
"Pedro baik, sih. Tapi pendiam banget. Terus nggak satset-satset. Kalau sama Nina nggak bisa lempeng."
"Ya, kalau Mas Dewa udah lolos uji, gue sih dukung-dukung aja selama Teh Nina senang." Ucap Nalendra. "Walaupun agak kasian sama Mas Ped yang udah suka Teh Nina bertahun-tahun."
Nina sebenarnya cukup populer. Bukan hanya satu atau dua pria yang pernah berusaha mendekatinya. Tetapi banyak. Mulai dari Mas-Mas IT sampai Mas-Mas pengacara. Namun karena Nina orangnya sangat cuek dan terlalu mengabdi pada pekerjaannya—pria-pria itu sudah keki duluan dan akhirnya mundur perlahan-lahan. Jika pun ada yang berani mengambil langkah pasti ujungnya menyerah juga karena tak mendapatkan sambutan dari Nina. Atau malah ditolak mentah-mentah tanpa pertimbangan oleh gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
General FictionDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
