15 | somewhere between

10.2K 1.1K 128
                                        

"Kusut banget muka lo." Komentar  Risyad sambil bersandar di kusen pintu ruangan Dewa.

Sebab dinding yang berjenis kaca, Risyad tak mampu menahan diri berhenti sejenak untuk menggoda Dewa yang tampak galau di balik meja kerjanya ketika ia melewati ruangan pria itu.

Dewa mendesah sambil menyugar rambut ke belakang. "Nggak kayak lo yang berseri-seri," balas Dewa masam. "Hubungan lo sama Sisy pasti lancar, ya."

Senyum Risyad memudar. Pria itu mengambil langkah mendekat ke meja Dewa yang penuh dengan desain belum sempurna serta Macbook menyela. "Actually, gue sama Sisy lagi break. Lo tahu, kami harus mikirin lagi mau dibawa kemana hubungan kami mengingat gue sama dia beda." Ucap Risyad muram, lalu melanjutkan ke topik utama. "So, gimana lo sama Nina? Lo sama dia cocok banget lho. Plus, nggak ada halangan buat kalian bareng. Kenapa nggak dicoba dulu?"

"Walaupun kami sama. Belum tentu Nina mau sama gue."

Kening Risyad mengurut bersamaan dengan sebuah tawa meluncur dari mulutnya. "What was that? Kok lo jadi nggak percaya diri gini? Seorang Sadewa, lho. Emang ada yang nolak lo?"

Ada. Buktinya Nina sekarang benar-benar menjauh darinya, renung Dewa.

Dewa belum menyerah. Ia masih akan terus mendekati Nina dengan memberi perhatian yang jelas. Hanya saja, harus ia akui, sikap Nina yang menghindarinya membuatnya agak galau. Ditambah perasaan rindu pada gadis itu menyebabkan Dewa uring-uringan belakangan ini.

Ia ingin bertemu Nina. Bahkan melihat gadis itu dari jauh seperti sebelumnya sudah cukup. Tapi kesibukannya yang mengurus proyek di Surabaya membuat Dewa jarang sekali ada di kantor. Jika pun ia di kantor, kecil kemungkinan ia bisa bertemu Nina. Gadis itu juga sibuk sekali.

"Shit! Jadi lo udah ditolak Nina?!" seru Risyad mengambil kesimpulan karena keterdiaman Dewa.

Dew berdecak. "Nggak! Gue nggak ditolak!" bantah Dewa.

"Terus?"

Dewa menghela napas. "Nina mungkin masih ragu sama gue. Gimana pun, kami belum lama saling kenal."

"Fair enough," Risyad mengangguk menyetujui. "Apalagi lo anak Ruddy Hirawan."

Salah satu alis menungkik. "Emang kenapa kalau gue anak Ruddy Hirawan?"

"You know what I mean, man." Risyad menatap Dewa penuh arti. "Setahu gue, Nina anaknya realistis banget. Bisa aja dia nggak mau sama lo karena keluarga lo."

"Bokap nyokap gue bukan tipe orang yang kayak gitu," ucap Dewa bersungguh-sungguh. Orang tuanya menikah karena cinta. Memang banyak yang tidak begitu dikalangannya—namun orang tuanya tidak akan memaksa Dewa bersama orang yang tidak ia cintai. "Nina nggak perlu khawatir soal keluarga gue. Lagian, she's perfect. Gue nggak yakin ada orang tua yang nggak mau Nina jadi menantunya."

"Buset. Udah menantu aja," ledek Risyad. "Kayaknya kalau Nina nerima lo, nggak butuh waktu lama buat gue dapet undangan pernikahan kalian."

Dewa tertawa kecil. "I hope that too,"

Risyad tercengang selama beberapa saat sebelum tawanya berkumandang keras. Ia tak menyangka jika Dewa ternyata seserius itu pada Nina. Risyad sudah lama menyadari Dewa diam-diam suka melirik Nina setiap kali mereka mampir ke TheWall untuk membeli kopi—hanya saja, dia pikir itu hanya ketertarikan gemas semata. Bagaimanapun, Nina memang menarik dan cantik. Mustahil untuk tidak menengok ke arahnya saat berada di ruangan yang sama dengan gadis itu.

"Yaudah, good luck ya, Wa." Risyad menepuk bahu Dewa. "Tapi saran gue jangan pedekate terlalu lama. Apalagi Nina banyak yang naksir. Lo nggak mau disalip, kan?" imbuh Risyad sambil menyeringai.

Called It LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang