31 | toxic

9.7K 1.1K 206
                                        

Dia Debby Wisnatari Djati.

Mantan kekasih Dewa.

Nina tentu mengenali wanita itu karena ia sempat tenggelam dalam aksi stalking-nya di media sosial sewaktu Dewa dengan intens mendekatinya. Dan Nina tak pernah menyangka akan ada hari dimana ia bertemu dengan Debby. Wanita dengan segudang kelebihan yang akan membuat semua perempuan iri.

Debby lebih cantik dari apa yang terlihat di media sosial. Tubuhnya tinggi dengan lekuk sempurna. Neck ruffle dress berwarna merah muda tersebut melekat dengan elegan dan anggun di tubuh wanita itu. Rambut hitam panjangnya jatuh bergelombang di bahunya, berterbarangan indah karena tiupan angin. Nina bisa membayangkan betapa serasinya wanita itu ketika berdiri di sebelah Dewa. Mereka akan menjadi pasangan ideal yang tak akan membuat orang-orang heran kenapa mereka bisa bersama.

Nina tidak menyukai perasaan rendah diri yang melingkupi hatinya. Ia tambah tidak suka ketika dirinya sendirinya lah yang melakukan itu.

Nina menggelengkan kepalanya pelan, kemudian menoleh ke arah Dewa yang tampak gelap. Mata pria itu menatap tajam Debby. Dengan emosi yang tak pernah Nina lihat sebelumnya. Nina tahu Dewa masih menyimpan amarah pada mantan calon istrinya tersebut. Dan entah kenapa, Nina tak menyukainya.

Bukankah perasaan marah menunjukkan ada yang belum selesai di antara mereka?

Membayangkan masih ada sesuatu yang tersisa antara Dewa dengan sang mantan kekasih membuat dada Nina bergemuruh oleh perasaan cemburu. Selama ini Dewa selalu memberinya perhatian yang berlimpah. Pria itu menjadikan Nina pusat dunianya. Dan mengetahui ada seorang wanita yang lebih dulu merasakan itu ... perut Nina terasa melilit. Terlebih tatapan Dewa terpaku pada wanita itu cukup lama. Sementara ia di sini, menatap pria itu dengan harapan Dewa akan berpaling padanya.

Nina menarik napas sembari memejamkan mata sekilas ketika gumpalan keras tersangkut di tenggorokannya. Rasanya ia ingin pergi seperti pengecut. Melarikan diri dari rasa tidak nyaman yang menggerogoti hatinya—seperti biasa yang ia lakuakan.

Tetapi ketika perasaan itu datang, Dewa menoleh. Seakan ada koneksi di antara mereka yang membuat pria itu tahu apa yang ia rasakan—karena dalam langkah cepat, Dewa meraih bahunya. Menatapnya lekat-lekat. "Are you okay?" tanyanya.

Nina menggeleng dengan perasaan lega yang meluap.

"Kita pergi, ya." Dewa berkata dengan cepat. "Kita nggak perlu ada di sini."

"Man, lo nggak bisa pergi sekarang. Kapal udah jalan, dan boat udah pergi." Sela Peter yang membuat Nina kembali melihat kegelapan di bola mata Dewa. Terlebih suara feminim lain pun ikut menimpali, yang membuat Dewa memegang bahunya lebih erat.

"Sadewa, please."

Suasana terasa begitu tegang di tengah matahari yang bersinar terik. Sedikit saja senggolan pasti membuat orang tersulut emosi.

Nina ingin menenangkan Dewa. Namun hantaman pening yang memukul kepalanya membuatnya mengerutkan kening.

"Sayang," Dewa menunduk khawatir. Mencari mata Nina agar membalas tatapan. "Kamu kenapa?"

"Cuma pusing," Nina berbisik pelan. Kemudian mendongakkan wajahnya sambil memberi senyum untuk meyakinkan pria itu. "Aku nggak apa-apa kok, Mas."

Dewa merangkul kekasihnya. Bimbang antara mengikuti egonya yang ingin meledak karena perbuatan Peter atau mengurus Nina yang tampak tidak enak badan. Dan ia jelas mengutamakan Nina di atas segalanya. Melemparkan tatapan tajam pada Peter, Dewa akhirnya meminta crew kapal mengantarkan mereka ke kabin.

Ia akan mengurus Peter setelahnya.

***

"Mas, what are you thinking?" Nina bertanya ketika Dewa diam setelah Nina menelan obat untuk meredakan pusing di kepalanya.

Called It LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang