Nina tidak menyangka menjalani pesta pernikahan akan semelelahkan ini. Pesta pernikahannya bisa dibilang sangat mewah. Diadakan di salah satu hotel bintang lima di Jakarta—acaranya berlangsung meraih dan panjang. Nina mengganti pakaiannya tiga kali. Mengikuti serangkaian acara yang ditangani dengan sangat baik oleh wedding organizer-nya.
Sejujurnya, Nina tak pernah berpikir pernikahannya akan seperti ini. Ia memang dulu tak berniat menikah, tapi ketika membayangkannya sebuah pernikahan, Nina menginginkan pernikahan yang sederhana.
Namun mengingat pria yang dinikahinya berasal dari keluarga cukup terpandang—dan orang tuanya pun menginginkan pernikahan yang tak terlupakan untuk putrinya. Alhasil, Nina mengalah karena tak mampu menolak ekspresi senang di wajah ibunya ketika membantunya mempersiapkan pernikahan.
Bukan berarti Nina tidak bahagia di hari pernikahannya—-ia sangat bahagia sampai bibirnya tak mampu berhenti tersenyum. Meskipun kakinya sudah sangat amat pegal, dan kepala pusing akibat banyaknya tamu yang datang. Ia merasa ... lega. Apalagi Dewa selalu memperhatikannya dan menanyakan kenyamanannya.
Pria itu jelas tahu jika istrinya adalah introvert sejati. Tidak mudah untuk Nina seharian berhadapan dengan banyak orang.
Istri ...
Kata itu membuat Nina berdebar. Bibirnya berkedut ketika mengingat lagi bagaimana ekspresi bahagia dan haru Dewa begitu mereka telah resmi menjadi suami istri.
Setidaknya, semua rasa lelahnya setimpal dengan kebahagiaan yang ia dapatkan.
Nina keluar dari kamar mandi dengan hanya dibaluti bathrobe. Tubuhnya nyaris remuk dan matanya sangat mengantuk sampai ia tak memiliki tenaga mengganti pakaian. Kalau bukan karena Dewa yang dengan pengertiannya meminta Nina untuk beristirahat di kamar hotel duluan, ia pasti sudah pingsan. Acara masih berlangsung di bawah. Tetapi Nina sudah tidak lagi memilki tenaga. Ia bahkan tak repot-repot menyingkirkan kelopak bunga mawar yang berserakan di atas tempat tidurnya.
Ia sangat mengantuk ...
Matanya berat ...
Dan Nina tak terkejut ia langsung tertidur dalam hitungan detik.
Nina tidur dengan sangat amat nyenyak. Tetapi ia tipe orang yang mudah terbangun sehingga kehadiran Dewa langsung menyandarkannya. Nina hanya membuka mata sekilas, mendengar debuman pintu kamar mandi yang disusul kucuran air shower. Tak lama, pintu kembali terbuka. Suara deritan kasur terdengar dengan sebuah lengan kokoh yang melingkari tubuhnya dari belakang.
Sesuatu yang lembut dan basah menempel di lehernya. Deru napas hangat membayangi kulitnya. Nina tersenyum kecil, merasa begitu nyaman dan aman ketika Dewa merengsek semakin rapat hingga tak ada ruang lagi di antara mereka. Tubuh mereka menempel seperti lem.
"Sleep tight, istriku," bisik Dewa pelan. "Makasih udah nerima aku jadi suami kamu. Makasih udah mau menjalani kehidupan sama aku. Makasih untuk semua kebahagiaan yang kamu kasih buat aku. I love you. I love so much, Kanina Salma Hirawan."
Nina tak membalas, tetapi ia memeluk tangan Dewa yang melingkari tubuhnya. Sebab bersama pria itu, Nina tak akan pernah merasa takut lagi. Dewa adalah seseorang yang ia butuhkan selama ini.
END.
catatan sazy :
huwaaa, ending gaesss.
terima kasih untuk semua dukungan baik itu vote, komen, dan dukungan di karyakarsa yaaa 🫶🫶 dewa dan nina nggak mungkin selesai kalau nggak tanpa dukungan kalian.
i know, cerita ini masih belum sempurna. tapi aku bahagia banget bisa menyelesaikannya. semoga kalian juga bahagia membaca kisah mereka ❤️❤️❤️
untuk extra chapter, aku postingnya di karyakarsa yaa.
thank you all!
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
General FictionDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
