Dewa menyisiri area lobi dengan matanya ketika Risyad tengah berkicau di sampingnya. Tak terlalu fokus mendengarkan rekan kerjanya itu bicara—karena otaknya tengah bertanya-tanya kenapa Nina belum juga turun, padahal jam makan siang sudah dimulai.
Dewa menunduk, mengecek Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya untuk melihat waktu.
Seharusnya jam segini Nina sudah turun.
Dewa mengangkat pandangannya lagi. Menimang untuk menghubungi Nina—sampai sosok gadis yang ia tunggu-tunggu muncul. Seketika senyum Dewa merekah lebar. Hatinya mengembang begitu matanya menangkap sosok mungil yang mengenakan kulot hitam dipadu dengan kemeja asimetris keluar dari lift bersama sahabatnya, Sisy.
"Elaaah, ternyata ngajak gue makan di kantin bareng ada sebabnya, toh," Risyad berdecak kecil. "Sampai kapan sih mau backstreet?"
Dewa mengangkat bahu. Sebetulnya, ia juga tidak ingin backstreet terlalu lama. Tetapi hubungannya dengan Nina belakangan mengalami peningkatan yang cukup signifikan sejak ciuman mereka. Nina semakin nyaman dengannya. Tak ada lagi ekspresi tegang maupun tubuh kaku bila Dewa melakukan skinship. Bahkan, setiap kali Dewa mencium gadis itu, Nina tak pernah menghindar maupun menolak.
Damn it! Membayangkan ciuman mereka praktis membuat otak Dewa meliar. Darahnya pun berdesir hingga ia buru-buru mengenyahkan bayangan tersebut di dalam kepalanya—dan segera menghampiri Nina yang terkejut ketika melihatnya
"Mas Dewa," Nina mengerjap bingung begitu Dewa berdiri di hadapannya bersama Risyad yang melirik Sisy dengan canggung.
"Hi, Sa—Nin," Dewa segera meralat sebelum panggilan itu selesai. Ia nyengir saat Nina melolotinya galak. "Mau ke kantin, ya? Bareng, yuk!"
Nina mengerutkan kening sambil menatap Dewa dengan pandangan kesal. Gadis itu kemudian melirik Sisy, meminta pendapat sahabatnya. Mengingat hubungan Risyad dan Sisy sedang renggang dan menggantung, Nina bisa membayangkan betapa tidak nyamannya makan siang mereka nanti jika ia menyetujui ajakan Dewa.
Lagian, kenapa Dewa tidak bilang-bilang dulu sih mau makan siang bersamanya?
Sisy mengerling pada Risyad ragu. Lalu berpaling pada Dewa yang menatapnya penuh harap. Jelas hal itu membuat Sisy tidak enak menolak. "Boleh, deh. Seru juga makan rame-rame, kan?" sahut Sisy memaksakan diri agar tampak ceria.
Nina menggandeng Sisy ketika mereka berjalan lebih dulu ke kantin. "Nggak perlu ngerasa nggak enak, Sy." Bisik Nina. "Kalau lo nggak mau, nanti gue yang bilang sama Mas Dewa."
Sisy menggeleng. "Santai aja, Nin. Gue okay, kok. Besides, gue nggak mau merusak pedekatean lo sama Mas Dewa." Sudut bibir Sisy terangkat ketika menangkap ketegangan di wajah Nina—yang ia sangka sebagai pertanda karena tebakannya yang benar. Padahal, Nina tegang karena merasa bersalah belum memberitahu Sisy soal statusnya dengan Dewa yang telah resmi berpacaran. "Mas Dewa makin terang-terangan aja, ya. Terus ekspresinya pas ngeliat lo itu berseri-seri banget. Kayak orang lagi jatuh cinta."
Nina meringis. "Lebay lo."
"Ih, serius!" Sisy bersikeras. "Lo aneh sih kalau sampai sekarang belum ngerasain apa-apa buat Mas Dewa."
Nina merasakannya. Sesungguhnya ia malah telah merasakan banyak hal pada Dewa. Terlalu banyak sampai Nina tak mampu membendungnya.
"Kamu mau pesan apa? Biar aku pesenin?" Dewa bertanya begitu mereka duduk di meja. Pandangan begitu lurus, hanya tertuju pada Nina seorang.
"Nina aja yang ditawarin ya, Mas. Iya, deh. Ngerti gue." Goda Sisy. Sekaligus pengalihan agar ia tidak terus melirik Risyad yang duduk di hadapannya.
Dewa terkekeh. "Minta pesenin Risyad, gih. Gue mah emang cuma nawarin Nina."
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
Fiction généraleDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
