45 | make it right

10.1K 978 35
                                        

Nina sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak pernah meragukan perasaan Dewa. Saat kejadian empat hari yang lalu pun, ia bukan ragu. Nina hanya terlalu terkejut dan bingung hingga impulsif meminta Dewa pergi.

Sebetulnya, sebelum memutuskan pulang ke Bandung, Nina berniat menemui Dewa lebih dulu. Tetapi ia tidak punya nyali menghadapi Dewa di saat dirinya tengah rapuh.

Dewa sudah terlalu sering melihatnya dalam titik terendah. Kali ini, Nina ingin menghadapi masalahnya sendiri. Ia ingin mendatangi Dewa dengan versi Kanina yang lebih baik. Meskipun belum sepenuhnya, Nina sudah menata pikirannya. Termasuk tentang hubungan mereka.

Taksi yang ia tumpangi berhenti di depan lobi gedung apartemen yang Dewa tinggali. Nina keluar dari taksi sambil membenarkan letak totebag di bahunya. Tungkai kakinya melangkah penuh keyakinan melewati pintu lobi. Memakai kartu akses yang diberikan Dewa, Nina memasuki lift dan menekan angka yang mengantarkannya pada unit penthouse milik pria itu.

Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Nina berharap kedatangannya tak begitu mengganggu—meskipun itu sudah jelas karena tengah malam seperti ini adalah waktunya orang untuk beristirahat. Tetapi Nina tidak bisa menunggu sampai besok pagi. Ia harus menemui Dewa sekarang, sebab jujur saja—ia merindukan Dewa. Ia merindukan senyum manis berhias lesung pipi itu. Ia merindukan tatapan menggoda Dewa yang membuatnya tersipu. Ia merindukan kalimat-kalimat jail yang membuat Nina gemas ingin mencubit dan mencium Dewa di saat bersamaan.

Lebih dari pada itu, ia merindukan Dewa. Ia merindukan saat mereka bersama.

Nina menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan-lahan lewat mulut sebelum akhirnya menekan bel. Meskipun sebenarnya bisa saja ia langsung masuk ke dalam karena Dewa sudah memberitahu kode akses penthouse padanya. Tetapi Nina ingin sedikit memberi kejutan.

Kejutan yang Nina harap akan pria itu sukai.

Dewa mungkin saja kecewa padanya. Ia tiba-tiba membuat jarak padahal ada sesuatu yang harus mereka bicarakan dan luruskan.

Pemikiran itu entah kenapa membuat Nina gugup. Ia menggigit bibir sambil meremas kemejanya. Jantungnya berdegup kencang sampai suara denting kunci terbuka, lalu tarikan pintu membuatnya mengerjap.

Nina membeku ketika tatapannya beradu dengan sepasang mata yang Dewa sayu. Bukan karena ia membangun pria itu di tengah tidurnya, tetapi lebih dari itu. Dewa tampak begitu ... rapuh.

"Mas," Nina berbisik lirih—dengan luapan emosi yang muncul ketika ia menangkap lingkaran hitam di bawah mata Dewa, kulitnya yang pucat, serta five o'clock shadow di dagu dan rahang pria itu.

"Sayang," mata Dewa membulat tak percaya pada mulanya. Sampai beberapa detik setelahnya, pria itu berhambur ke depan untuk memeluknya erat. Begitu erat sampai Nina dapat merasakan ketakutan dan kelegaan Dewa. "Oh, God, finally ... finally."

Nina mengangkat tangannya. Membalas pelukan Dewa sembari memberi usapan lembut di punggung pria itu. Menguraikan ketakutan dan ketegangan di otot Dewa hingga perlahan-lahan tubuh pria itu menjadi rileks.

Nina lantas menguburkan hidungnya di dada Dewa. Menghirup aroma maskulin pria itu, merampok sabanyak-banyaknya.

It's feels like. He feels like home.

Mereka berpelukan untuk waktu yang lama. Tak peduli saat ini mereka masih berada di depan pintu sekali pun. Dewa mencium bahu Nina di tengah pelukannya. Ia tak ingin melepaskan gadis itu—-terlalu takut jika Nina akan menghilang begitu ia menarik tubuhnya. Tetapi ia tak mungkin terus berdiri di sini.

"Let's go inside," ucap Dewa menarik kepalanya. Menatap Nina lembut dengan tangan yang masih melingkari pinggang kekasihnya.

Nina mengangguk. Tersenyum pada Dewa, kemudian menunduk pada tangan pria itu yang masih di pinggangnya.

Called It LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang