14 | pull to one side

10.3K 1K 67
                                        

Suasana tegang yang mewarnai ruang meeting membuat tak ada yang berani mengeluarkan suara. Samudera—sang creative director—yang selalu diidolakan saat ini dalam mode bos galak. Meskipun begitu, tetap saja—ketampanannya sama sekali tak pudar. Malah dengan rahang mengeras, kening mengerut, dan tatapan mata tajam, pria itu tampak masih sangat menarik dan memesona.

"Buset, marah aja Mas Sam kelihatan seksi banget," Nalendra berbisik di samping telinga Nina. "Lo nyesel nggak sih, Teh, putus dari doi?"

Nina melirik Nalendra sengit. Bibirnya merapat menahan makian. Meskipun begitu, pelototannya berhasil membikin Nalendra menarik tubuhnya sambil tersenyum meminta perdamaian.

"Gue ngasih kelonggaran nggak berarti kalian jadi bisa males-malesan." Samudera berkata dengan dingin. Membuat semua orang semakin membeku. "Kalau males, nggak usah kerja, tidur aja di rumah. Tempat ini bukan buat orang males."

Ketegangan semakin mewarnai ekspresi orang-orang yang menjadi sasaran evaluasi rutin di weekly meeting kali ini. Ketika Nina berkata bekerja di agency itu keras, sungguh, dia tidak berbohong. Bukan hanya waktu yang dirampas, tetapi juga pikiran. Sebagai karyawan biasa, dia mengerti posisi tim Giyas yang saat ini tengah memegang campaign besar, tetapi dalam satu waktu, mereka juga hakus menghandle brand lain. Jujur saja, itu bukan hal yang mudah.

Sementara jika dilihat dari kacamata Samudera, dia sudah memberi kelonggaran waktu. Tetapi hal itu sama sekali tak dimanfaatkan cukup baik.

"Udah gue bilang datanya harus up-to-date." Samudera berkata lagi sambil memijat keningnya. "Data itu benchmark valid sebelum kalian ngambil keputusan." Pria itu akhirnya mendesah. "Gue mau datanya dikirim ke gue jam satu." Katanya final tidak ingin dibantah.

Weekly meeting pun berakhir setelah dua jam mereka berada di ruangan dingin tersebut. Samudera meninggalkan ruang rapat dengan ekspresi keruh di wajahnya.

Nalendra menghela napas lega sambil merentangkan tangan ke atas. Melemaskan otot-ototnya yang kaku—lantas melirik ke samping, pada Nina yang sedang mengobrol dengan Pedro. Pria itu lantas mendekatkan telinganya untuk mencuri dengar.

"Kamu ikut aku ya, Nin, ketemu klien," ajak Pedro. "Nanti kita lunch di luar aja sekalian."

"Okay," Nina mengangguk.

"Kamu mau makan dimana?" tanya Pedro.

Nina berpikir sebentar lalu menjawab. "Aku bebas aja sih, Mas."

"Mmm ... yaudah, liat nanti aja berarti, ya."

"Kok gue nggak diajak?" Nalendra menyerobot menyerukan protes. "Kenapa nggak gue aja sih, Mas? Kenapa Teh Nina?"

Pedro menatap Nalendra penuh arti. Memberi kode agar pria itu tidak usah protes. Memahami kode tersebut, Nalendra mengangkat alisnya. Alhasil mereka berdua saling melempar kode dengan Nina yang duduk di tengah mereka. Nina menatap kedua pria itu bergantian dengan salah satu alis yang meninggi bingung.

Sumpah, Terkadang Nina merasa diasingkan kalau mereka sudah main kode-kodean seperti ini.

"Fine. Gue nggak ikut!" Nalendra akhirnya menukas sambil tersenyum lebar. Menutup iPad-nya lalu cengar-cengir sambil bangkit berdiri. "Have fun ya, Ayah Bunda," ucap Nalendra iseng lalu keluar dari ruang meeting. Meninggalkan Nina dan Pedro yang masih duduk di sana.

Nina menoleh, menatap Pedro bertanya. "Kalian kode-kodean apa, sih?"

Telinga Pedro memerah. "Nggak kode-kodean, kok." Bantahnya kemudian bangkit berdiri. "Yuk, Nin. Siap-siap sekarang."

***

Dorongan pertama yang dilakukan Nina begitu melihat Dewa keluar dari TheWall adalah memutar badannya. Mencegah dirinya tampak oleh penglihatan pria itu.

Called It LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang