"Sumpah, kok ada manusia secantik Mbak Raline, ya?" Nalendra bergumam dengan mata yang mengarah pada Samudera dan Raline yang saling berpegangan tangan di lobi. Pasangan yang telah menjadi suami istri itu memang tampak semakin bahagia dan mesra setelah pernikahan mereka yang diadakan private di Bali bulan lalu. Kini keduanya sering sekali terlihat bersama. Entah itu Raline yang berkunjung ke kantor Samudera untuk menjemput sang suami makan siang. Atau pun sebaliknya.
"Pasangan good looking yang bikin orang-orang minder buat ngerasa iri," Sisy menimpali sambil manggut-manggut menyetujui. "Kayak ... mau iri gimana? Orang memang mereka berdua sama-sama cakep, jadi wajar aja saling suka. Bingung juga nggak sih, mau iri sama Mas Sam? Atau mbak Raline? Karena dua-duanya memang deserved each other."
Nina tak bersuara. Tetapi diam-diam membenarkan ucapan teman-temannya.
"Eh, ada Mas Ped!" Nalendra berseru ketika melihat Pedro keluar dari lift. "Gue ke sana, ya. Semenjak cinta ditolak Mas Ped jadi makin introvert!"
"Ngapain lo ngeliatin gue?!" Nina langsung defensif ketika menerima tatapan penuh arti dari Nalendra.
Nalendra nyengir. "Nggak kenapa-napa, Teh. Lo cantik makanya gue liatin."
Nina mendesis sambil memutar bola matanya.
Hubungannya dengan Pedro baik-baik saja meskipun mereka sempat canggung setelah pria itu menyelesaikan cutinya selama dua minggu. Mengingat karakter Pedro yang pendiam, Nina yang mengajak pria itu bicara duluan . Nina tidak ingin mereka terus saling menghindar. Mau bagaimanapun, mereka rekan kerja yang harus profesional. Sekarang mereka baik-baik saja, kendati sangat berhati-hati pada satu sama lain.
Pedro sadar betul Nina sudah memiliki kekasih. Dan Nina pun tidak ingin membuat Dewa salah paham.
"Soooo, gimana? Gimana? Lo nggak mungkin nggak mau cerita liburan lo sama teman-teman Mas Dewa, kan?" tanya Sisy semangat setelah Nalendra menyusul Pedro, kemudian mereka keluar dari pintu lobi untuk makan siang bersama.
Nina menipiskan bibirnya. Mengintip ekspresi Sisy yang berbinar-binar. Menyadari jika cerita akan sangat panjang, Nina pun mengajak Sisy duduk di TheWall. Lantas menceritakan yang terjadi di Bali pada sahabatnya.
"Gila! Rese banget tuh cowok!" seru Sisy dengan mata membulat dan badan bergerak mundur. Wajahnya memerah tampak jengkel. "Padahal waktu ketemu kita di lobi kayaknya ramah banget. Nggak tahunya kedok doang! Red flag, red flag! Mas Dewa kok bisa sih masih mau temenan sama orang kayak gitu?"
Nina mengangkat bahu. Menyesap matcha latte-nya sebelum akhirnya bersuara. "Mereka udah temenan sejak kuliah. Terus cowok kan juga jarang nggak sih cut off teman kayak gitu?"
Sisy menggeleng-gelengkan kepalanya. Meraih lemon tea-nya untuk mendinginkan kepalanya yang panas setelah mendengarkan cerita Nina. Tidak terima teman dekatnya diperlakukan seperti itu oleh orang lain. "Tetap aja. Temen kayak gitu bakal jadi racun dalam hubungan kalian. Kayaknya dia memang pengin kalian putus, deh." Balas Sisy menggebu-gebu.
Nina juga menduganya begitu. Bisa jadi hal ini bukan hanya disebabkan karena Nina yang kelewat biasa untuk bersama dengan pria seperti Dewa. Tetapi juga karena Debby adalah teman dekat Peter, dan pria itu masih mendukung mereka untuk kembali bersama.
Kedatangan mantan kekasih Dewa memang cukup mengguncang Nina. Sedikit banyaknya, hal itu juga meng-triggernya. Terlebih, alasan ayahnya berpaling dari ibunya pun karena kemunculan orang lama—dan Dewa menjalin hubungan cukup panjang dengan Debby. Pasti mereka telah melewati banyak hal bersama. Mustahil itu tidak mengganggu pikiran Nina. Namun Dewa selalu menatapnya dengan tulus. Jika itu adalah kebohongan, pria itu harus mencoba berkarir sebagai aktor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
General FictionDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
