"Gimana koas-nya, Dek?"
Kian mengangkat salah satu alisnya karena panggilan akrab Dewa padanya. Well, mereka memang sudah dua kali bertemu. Dan Kian pun telah menyetujui Dewa menjalin hubungan dengan kakaknya. Hanya saja, intensitas tersebut terbilang masih singkat untuk pria itu memanggilnya dengan panggilan yang biasa dilakukan oleh keluarganya.
Tetapi mengingat karakter Dewa yang memang easy going, Kian bisa memakluminya.
"Masih kayak roller coaster, Mas." Kian menjawab. "Kadang naik, kadang turun."
Dewa terkekeh. Meraih hot americano-nya kemudian menyesapnya singkat sebelum kembali bersuara. Menatap calon adik iparnya yang minim ekspresi. "Plus, nano-nano juga ya, Dek. Waktu teman Mas masih koas, dia udah kayak mayat hidup. Tapi kamu normal-normal aja, ya. Very good."
"Susah senangnya di jalanin aja sih, Mas. Toh emang pilihan hidupku."
"Well said," Dewa tersenyum. Meskipun terlalu singkat untuk menyimpulkan karakter Kian. Tetapi Dewa menyukai cara pandang calon adik iparnya. Ia pun langsung menyukai pria itu dan sudah menganggapnya seperti adik sendiri.
Kian tersenyum tipis. Ikut meraih minumannya di atas meja. "Sorry ganggu waktu kerja kamu, Mas," katanya. "Padahal Mas Dewa pasti sibuk."
Dewa mengibaskan tangan dengan senyum di wajahnya. "Santai aja, Dek. Mas senang malah bisa hangout sama kamu."
Kain manggut-manggut. Seperti yang sudah ia rencanakan. Kian menghubungi Dewa untuk membahas soal kakaknya. Mereka bertemu di salah satu coffeeshop yang tak jauh dari rumah sakit. Padahal Kian sudah berkata mereka bisa bertemu di dekat apartemen pria itu saja. Tetapi Dewa menolak karena tahu jarak rumah sakit dan apartemennya cukup jauh—sementara Kian masih harus berjaga hari ini.
Dewa memang sangat pengertian dan perhatian. Kian jadi mengerti alasan kakaknya luluh pada pria itu. Hubungan keduanya pun cukup harmonis dan mesra. Sepertinya Kian bisa mempercayai Dewa untuk membujuk kakaknya.
"Mmm, jadi gini, Mas," Kian mengeluarkan suara. Tak banyak berbasa-basi. "Ada sesuatu yang mau aku bahas soal kakakku ke kamu."
"O ... kay," Dewa menyatukan tangan di atas meja. Tubuhnya bergerak ke depan. Mendengar dengan ekspresi serius karena pembahasannya menyangkut kekasihnya. "I'm all ears."
"Kak Nina udah cerita soal kondisi keluarga kami ke kamu?" tanya Kian penasaran.
"Sedikit banyaknya," Dewa mengangguk, kemudian memberi tatapan tulus pada Kian. "Nina cerita alasan orang tua kalian bercerai."
Sekali lagi, Kian dibuat terkejut karena ternyata hubungan kakaknya dengan pria di hadapannya sekarang bukan hanya mesra dan harmonis—tetapi juga dibalut keterbukaan yang mengejutkan. Padahal Kian tahu sekali betapa tertutupnya sang kakak. Ia berkomitmen cukup lama dalam menyembunyikan hal tersebut dari teman-temannya. Bahkan sampai memilih menjauh dari mereka.
Maka dari itu, mengetahui Nina menceritakan hal tersebut pada Dewa—yang mana hubungan mereka baru berjalan beberapa bulan membuat Kian agak tercengang.
"Well, orang tua kami udah bercerai. Dan itu karena papa ketahuan selingkuh," ungkap Kian dengan nada suara tenang. Hal yang membuat Dewa kagum dengan kedewasaan Kian. Dia pasti masih remaja ketika itu terjadi. "Papa dan Kak Nina dulu dekat banget. Dia bahkan dulu pengen jadi dokter kayak papa. Dan bisa dimengerti kenapa Kak Nina sampai setrauma itu."
"Yeah, It must have been hard for her—" Dewa menggeleng sambil menambahkan dengan nada bersimpati. "I mean, for both of you."
"Nggak ada anak yang bisa menghadapi perceraian orang tuanya dengan mudah kan, Mas?" Kian tersenyum getir. "Kak Nina marah, kecewa, dan hancur. Apalagi dia tahu dari temannya yang nggak sengaja ngeliat papa di Bali sama wanita itu. Bayangin aja, gimana perasaan kamu waktu teman kamu mergokin papa kamu selingkuh? Mungkin karena itu Kak Nina sampai menarik diri dari teman-temannya. Plus, waktu Kak Nina minta papa milih antara kami dan wanita itu. Papa milih ... wanita itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
Ficción GeneralDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
