41 | bandung

9.7K 1K 86
                                        

"Ini rumah kamu ya, Sayang?"

Nina melirik pria yang duduk dibalik kemudinya. Bibir Dewa menorehkan senyum antusias meskipun telah menyetir berjam-jam lamanya—padahal dia pun baru saja pulang dari Singapura kemarin malam.

"Rumah ibu, Mas," Nina mengoreksi. "Kalau aku mah belum punya rumah."

"Oh, iya. Punya rumahnya nanti kan sama aku," balas Dewa dengan bibir menungkit menggoda.

Nina mendengus. Lantas mengajak Dewa turun dari mobil. Rumah ibunya jelas tidak sebesar dan semewah rumah orang tua Dewa. Tetapi Nina selalu merasakan kedamaian di tempat ini—sebab rumah ini adalah rumah kakek dan neneknya sebelum akhirnya diwariskan kepada ibunya yang merupakan anak tunggal.

Dulu, sewaktu masih kecil, Nina sempat tinggal di Bandung selama beberapa tahun. Ia tinggal di rumah ini—bersama kakek dan neneknya yang kini telah tiada. Banyak kenangan yang tersimpan di sini sehingga selalu ada perasaan sentimentil setiap kali Nina pulang.

"Rumah ibu adem banget, ya," komentar Dewa setelah turun dari mobil sambil menjinjing dua paper bag yang berisi hadiah untuk sang calon mertua. Matanya menyusuri pekarangan rumah yang luas—ditumbuhi oleh banyak tanaman hijau sehingga memberi kesan asri. Bangunan satu lantai tersebut berdesain rumah lama ala belanda—dengan elemen tambahan yang inovatif sehingga juga memberi kesan modern.

"Ibu kayaknya di belakang makanya nggak sadar ada mobil di depan," ucap Nina seraya melingkarkan tangan di lengan Dewa, mengajak pria itu mengambil langkah mendekati teras rumah. Nina menekan bel, menunggu pintu dibukakan sementara Dewa terus menatap bangunan rumah ibu Nina dengan pancaran penuh ketertarikan.

Bibir Nina menorehkan senyum lembut tatkala melihat sosok wanita paruh baya dari kaca pintu.

"Ya ampun, Teh. Bibi nggak dengar ada mobil di luar," Ucap Bi Ayi—wanita paruh baya yang sudah bekerja dengan ibunya sejak lama. "Lama nggak nunggunya?"

"Nggak kok, Bi," Nina manggeleng, kemudian menyalami tangan Bi Ayi. "Teteh baru sampai, kok."

Bi Ayi mengangguk, lantas melirik pria tinggi dan tampan di sebelah anak majikannya. "Oh, ini pacarnya Teteh, ya. Yang sering dicertain ibu. Ya ampun. Kasep pisan, Teh," ucap Bi Ayi dengan mata berbinar-binar. Sama sekali tak menyembunyikan keterpesonaannya.

Nina mengulum bibirnya tersipu. Menganggukan kepalanya seraya mengenalkan Dewa pada Bi Ayi. Dewa menyalami tangan wanita paruh baya itu sopan—mengenalkan dirinya sebagai kekasih Nina dengan ekspresi senang dan penuh semangat sampai Bi Ayi tertawa kecil lantas membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan keduanya masuk ke dalam.

"Ibu mana, Bi?" tanya Nina heran. Padahal ia sudah memberitahu bahwa hari ini ia akan pulang dan mengajak Dewa ikut serta.

Sebenarnya ide ke Bandung tercetus dari Dewa. Pria itu merasa tidak enak terus menerima kiriman masakan dari calon mertuanya tetapi belum sakali pun mengunjungi beliau. Sebab itu, begitu mendapatkan waktu libur. Dewa langsung memanfaatkan untuk ke Bandung bersama kekasihnya.

"Di belakang, Teh. Lagi rapihin tanaman," jawab Bi Ayi. "Dari tadi pagi udah sibuk beres-beres soalnya Teteh mau bawa pacarnya ke rumah. Ibu nggak mau rumah kelihatan berantakan."

"Duh, jadi nggak enak sama ibu," ucap Dewa sungkan.

"Nggak perlu nggak enak, Mas," sahut Bi Ayi. "Ibu memang gitu kalau lagi senang. Semuanya bersih sama beliau."

Nina terkekeh menyetujui. Ibunya memang suka sekali bersih-bersih. Saat suasana hatinya melonjak—entah itu karena sedih atau bahagia. Ibu pasti melampiaskannya dengan membersihkan rumah.

"Sebentar, biar bibi panggilan ibu dulu," ucap Bi Ayi yang dibalas anggukan kepala oleh Nina.

"Duduk, Mas," Nina mengajak Dewa duduk di sofa ruang tamu berwarna cream nan sederhana. Ia memperhatikan Dewa yang duduk di sebelahnya. Tidak ada kegelisahan di raut wajah pria itu, Dewa sepenuhnya berseri-seri yang membuat Nina juga merasa senang dan lega.

Called It LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang