"What?! Lo ngeliat Sasha pulang bareng Faris? Faris bukannya udah punya cewek, ya?" Sisy mengedarkan pandangan ke seisi meja—dimana Nina, Pedro, dan Nalendra duduk bersamanya. Meminta salah satu dari mereka membenarkan ucapannya. Tapi jelas, hanya Nalendra yang menanggapi. Sebab Nina dan Pedro mana update soal gosip terpanas.
"Makanya, Mbak!" Nalendra menanggapi menggebu-gebu. "Sus banget waktu gue ngeliat Sasha masuk ke mobil Faris."
"Sasha nebeng kali," Nina menanggapi netral.
"Apart mereka nggak searah, Nina." Sisy membantah. "Ngapain Sasha nebeng?"
"Yaudah, biarin aja nggak, sih?" Nina mendesah malas. "Bukan urusan kita juga."
"Urusan kita dong, Teh." Sahut Nalendra. Masih sama berapi-apinya. "Sasha kan anak kantor kita. Malu banget kalau sampai jadi selingkuhan."
Nina menghela napas. "Sebahagia kalian, deh."
Selagi Sisy dan Nalendra lanjut bergosip. Nina mengangkat wajahnya, menatap Pedro yang paling banyak diam di antara mereka berempat.
Saat ini mereka berada di salah satu kafe di daerah SCB—menerima traktiran Pedro yang berulang tahun hari ini. Lebih tepatnya traktiran yang terpaksa dilakukan Pedro karena Nalendra maksa minta ditraktir.
"Kamu ngerti yang mereka omongin nggak sih, Mas?" tanya Nina iseng.
Pedro menggeleng. "Mereka ngomongnya cepat banget. Terus lompat-lompat topik mulu."
Nina tertawa kecil. "Lebih enak dengerin klien ya, Mas?" ledeknya.
Sudut bibir Pedro terangkat. Tersenyum sedikit. "Nggak juga. Lebih enakan dengar kamu ngomong," balasnya kalem.
Kalimat tak terduga itu cukup mengejutkan Nina. Gadis itu mengerjapkan mata. Bingung harus merespon apa karena tidak biasanya Pedro bicara seperti ini padanya. Meskipun Nalendra sering meledek mereka berdua, Nina tak pernah menanggapinya serius. Begitu pun dugaan Sisy soal Pedro menyukainya. Pedro hanya nyaman dengannya karena mereka sering satu tim. Lebih dari pada itu, Nina tak merasa perhatian pria itu adalah bentuk rasa suka. Melainkan hanya kepedulian pada rekan kerja saja. Iya, kan?
Ponselnya yang bergetar di atas meja mengalihkan kecanggungan di antaranya dengan Pedro. Nina meraih ponselnya yang memang ia balikan posisinya agar notifikasinya tidak dapat dilihat orang lain.
Sebab belakangan, memang ada hal yang Nina sembunyikan dari orang-orang.
Mas Dewa
Aku baru sampai tempat gym
Kamu masih di sana?
Nina
Iya
Baru selesai makan.
Mas Dewa
Pulangnya gimana?
Mau aku jemput nggak?
Nina
Nanti pulang bareng Sisy kok.
Mas Dewa
Okay
Kabarin kalau mau pulang, ya.
Nina
Iya
Mas Dewa
😘 😘
Nina mendengus. Mengulum bibirnya agar tak tersenyum karena balasan chat Dewa yang menggemaskan.
Barangkali Nina sudah tak lagi menyangkal perasaannya pada Dewa. Tetapi ketakutan itu masih tersimpan di sudut hatinya yang terdalam. Keimpulsifannya memang sempat membuat Nina menyesal dan ingin berkata jujur pada Dewa. Hanya saja, hubungannya dengan Dewa secara mengejutkan berjalan lancar. Pria itu begitu manis, pengertian, dan tentunya memperlakukannya dengan penuh rasa sayang.
She's only human. She's just a girl. Mustahil rasanya ia tidak merasakan apa-apa setelah semua yang Dewa lakukan padanya.
Bahkan, meskipun ia dan adiknya sudah berbaikan—pemikiran untuk mengakhiri hubungannya dengan Dewa sama sekali tak muncul.
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
General FictionDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
