Pertemuan tak sengaja Kian dan Dewa telah berlalu sejak seminggu yang lalu. Dan Nina tak menyangka Dewa akan langsung akrab dengan Kian—ditambah lagi, diperdebatan mereka mengenai 'berteman dengan mantan kekasih', keduanya berada di pihak yang sama. Hal itu seperti menjadi jembatan penghubung yang membuat mereka memahami satu sama lain.
"He seems good," Kian berkata ketika Dewa menyingkir sebentar untuk mengangkat telepon. Sementara Shyana permisi ke toilet. "Kenapa nggak cerita kamu udah punya pacar?"
"I don't know how to tell you." Nina menunduk. Menatap gelasnya yang isinya tinggal separo.
"Kak," Kian membasahi bibirnya. Tampak ragu-ragu mengucapkannya. "Mas Dewa kelihatan benaran sayang sama kamu. I can see it the way he looks at you. But, seingatku, kamu dengan tegas ngomong nggak tertarik menjalin hubungan sama cowok mana pun—"
"Feeling can change, Kian," sela Nina defensif.
"But not this fast," Kian menyahut. "Kalau kamu udah berbulan-bulan sama Mas Dewa, artinya nggak terlalu lama dari pertengkaran kita waktu itu. Is it because—"
"No," Nina menggeleng. Tetapi Kian jelas tahu sang kakak tidak sepenuhnya jujur, dan Nina mendesah karena tatapan Kian yang seolah bisa membaca pikiran. "Awalnya iya. Aku implusif. Tapi setelah ngejalinin hubungan ini sama Mas Dewa, he's so kind to me. Dan aku nggak bisa menyangkal aku juga tertarik sama dia. Mas Dewa udah lama dekatin aku, and he didn't give up even though I rejected him. Dia terus buktiin kalau dia serius sama aku. And I can see that now."
"Then you like him?"
Nina mengangguk. "I do."
"Are you happy with him?"
Sekali lagi, Nina mengangguk.
Kian tersenyum. Kemudian mengenggam tangan Nina di atas meja. "Ibu udah tahu?"
Nina menggeleng. "Aku nggak tahu gimana caranya ngasih tahu ibu."
"You should tell her ASAP, Kak. Nanti ibu sedih kalau kamu nyembunyiin soal hubungan kamu terlalu lama dari beliau."
"Aku bakal ngasih tahu ibu secepatnya,"
Ternyata rasanya begitu melegakan setelah memberitahu keluarganya soal hubungan dengan Dewa. Nina memberitahu sang ibu keesokan harinya. Respon beliau jelas sangat senang. Nina bahkan tidak menyangka ibunya akan terlihat sebahagia itu. Wajahnya langsung berseri-seri dan bibirnya melengkung membentuk senyuman, yang membuat Nina merasa agak getir. Sepertinya sudah lama sekali sejak ia melihat ibunya bahagia.
Ibu bertanya banyak mengenai Dewa dan bagaimana mereka bertemu. Sampai mereka mengobrol berjam-jam lamanya hingga perasaan Nina terasa lebih ringan.
Nina pun akhirnya memperkenalkan Dewa sebagai pacarnya melalui panggilan video call karena ibunya yang tak pernah berhenti menanyakan Dewa.
Dewa mulanya tampak terkejut, tetapi bibirnya langsung melukisnya senyum bahagia.
Pria itu dengan sopan dan ramah memperkenalkan dirinya pada ibu. Dan seperti biasa, Dewa selalu mudah akrab dengan siapapun itu. Membuat Nina merasa hangat melihat interaksi ibunya dengan sang kekasih. Ibu pun tampak lebih menyukai Dewa setelah mengobrol. Bahkan ibu berencana mengirimkan Dewa makanan ketika Dewa memuji masakan beliau.
"Kamu mirip banget sama ibu, ya," Dewa berkata setelah panggilan video berakhir. "Tapi ibu versi lebih lembutnya."
"Maksud kamu aku barbar gitu?" mata Nina menyipit.
Dewa tergelak. Kemudian memeluk Nina. "Nggak, Sayang. Kamu lumayan galak kalau marah. Tapi kayaknya ibu walaupun marah juga nggak bakal kelihatan marah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
General FictionDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
