Dewa mengawasi Nina sembari menyantap steak-nya dalam keheningan. Sejak duduk di meja, Nina berubah menjadi begitu pendiam. Dewa tidak mengerti dengan perubahan suasana hati yang mendadak ini—karena sepertinya, semua tampak baik-baik saja sejak mereka turun dari mobil. Oh, Nina memang agak jengkel karena ia membawanya ke apartemennya tanpa pemberitahuan—tapi masalah itu sudah diatasi.
Dewa yakin bukan hal tersebut yang menyebabkan Nina jadi tak bersuara. Sedikit, hal itu membuatnya khawatir. Jelas bukan ini yang Dewa harapkan saat membawa Nina ke apartemennya.
"How's everything?" tanya Dewa pada akhirnya. "Do you like it?"
Nina yang menunduk sontak menengadahkan kepala—mendapati Dewa tengah menatapnya.
"I like it," Nina tersenyum tipis. "Kamu nggak bohong kalau kamu pintar masak."
Dewa membalas senyum itu sambil melepaskan garpu dan steak knife. Satu tangannya menopang dagu, menatap Nina lekat-lekat. "What's your favorite food?"
"What?"
"I am asking you." Dewa berkata. Ia tak akan membiarkan mereka terjebak dalam keheningan yang canggung lama-lama. "Kita mau kenal satu sama lain, right? Kita bisa ganti-gantiaan nanya, to know each other more. So, Kanina, what's your favorite food?"
Nina menatap Dewa selama sesaat, kemudian menipiskan bibir sembari ikut melepaskan garpu dan steak knife-nya—tertarik dengan permainan pria itu. "Spicy food. Aku suka apapun yang pedas."
"I had expected it," Dewa mengangkat sudut bibirnya.
"What?" Nina mengerutkan kening tak mengerti.
"Waktu kita makan bareng di hari pindahan kamu—aku noticed kamu selalu milih makanan yang pedes." Dewa menerangkan sambil mengangkat bahunya. Lalu menambkan dengan senyum penuh arti. "I always pay attention to you, Kanina."
Nina mengerjap agak terkejut. Ia menatap Dewa yang juga menatapnya. Desir halus itu kembali datang—yang membuatnya berdeham dan mengakhiri adu tatap tersebut. "Why are you interested in me?"
"You're pretty,"
Nina memutar bola matanya. "Come on, Mas. Give me a better reason."
Dewa terkekeh pelan. "Isn't that the best reason?"
Nina menggeleng. "No."
"Okay," Dewa mengusap rahangnya. Ia diam seolah tengah membayangkan sesuatu sambil menatap Nina. Pandangan yang begitu dalam kembali menggetarkan hati Nina. Gadis itu mulai merasakan ketidaknyaman—bukan dalam artian tatapan Dewa mengindikasikan hal buruk. Justru kebalikannya, tatapan itu terlalu tulus sambil perut Nina serasa diputir.
"Honestly, I don't know," gumam Dewa sambil menggelengkan kepalanya. "It's just ... I can't stop looking at you. When you're around me, my heart knows and my eyes immediately go to you. Then I kept watching you, again, and again, and again."
Nina membasahi bibir. Mencoba bersikap normal seolah darahnya tak berdesir, dan pria itu tak berhasil membuat jantungnya berdebar amat kencang.
"What's your favorite book?" tanya Dewa memotong jeda singkat yang tercipta di antara mereka.
"Normal People," Nina menjawab. "Sally Ronney."
"I'll read that book later," Dewa mengangguk-angguk kepalanya. "You're turn,"
"How many ex do you have?"
"The game is getting more interesting, huh." Dewa menyeringai lalu menjawab dengan santai. "Well, five."
KAMU SEDANG MEMBACA
Called It Love
Algemene fictieDibuat patah hati oleh orang yang paling ia sayangi membuat Kanina muak akan hubungan asmara. Ia tak lagi tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Lebih baik ia sendirian sehingga tak perlu takut disakiti. Sampai seorang pria yang bekerja di tow...
