21. Melibatkan BFD

174 17 1
                                    

"Ketika sang peminat tak lagi terlihat, sang warna perlahan diselimuti kesepian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ketika sang peminat tak lagi terlihat, sang warna perlahan diselimuti kesepian. Tanpa perhatian, ia merasa tak lagi diminati, membiarkan dirinya semakin tenggelam dalam pelukan kegelapan yang kian membisu."

Hidden Hues
Ayuureve

-

Tessa memperlihatkan dirinya, tubuhnya sedikit gemetar. Air mata mengalir dari matanya, membuat wajahnya terlihat penuh kesedihan dan kebingungan. Tatapannya lurus ke arah Evrard, menuntut jawaban.

"Kenapa menciumnya?" tanyanya dengan suara yang pecah, tetapi nada kecewanya sangat jelas.

Evrard menghela napas panjang, mengalihkan pandangan sejenak sebelum menatapnya kembali. "Untuk menghentikannya," jawabnya singkat. "Kamu kenapa datang ke sini?"

Tessa menghapus air matanya dengan cepat, meskipun rasa sakit di matanya tetap tak bisa disembunyikan. "Kamu selalu menghentikanku dengan menembak es ke tanganku. Kenapa tidak melakukan hal yang sama padanya?"

Evrard diam sejenak, ekspresinya sulit dibaca. "Dia punya senjata, Tessa," jawabnya akhirnya, nadanya datar tetapi tegas.

Namun, Tessa tampaknya tidak puas dengan jawaban itu. "Kalau begitu," katanya dengan suara yang bergetar tetapi penuh tekad, "aku juga akan kembali meledakkan sesuatu dan aku ingin kau menciumku."

Kata-katanya menggantung di udara, penuh dengan campuran tantangan dan harapan. Evrard menatapnya lama, rahangnya mengencang. Ia mencoba membaca emosi Tessa, tetapi gadis itu tampak lebih sulit dipahami dibandingkan biasanya.

"Tessa, kamu adikku," ucap Evrard dengan nada tegas, mencoba menetapkan batas yang jelas. Tatapannya lurus, tetapi nada suaranya mengisyaratkan kelelahan emosional yang ia coba sembunyikan.

Namun, Tessa tidak terima dengan jawaban itu. "Kenapa kamu selalu menganggapku adik?" serunya, air mata masih mengalir di wajahnya. "Aku... aku menyukaimu, Ed! Bukan sebagai kakak, tapi lebih dari itu!"

Kata-kata itu membuat udara di antara mereka terasa berat. Evrard terdiam sejenak, rahangnya mengeras saat ia mencoba mengontrol emosinya. "Tessa, jangan bahas ini lagi," ucapnya akhirnya, nadanya dingin tetapi penuh kendali. Ia menatap tangan Tessa yang mulai memunculkan percikan api.

"Kamu sedang tidak stabil," lanjutnya, langkahnya maju perlahan mendekati Tessa, tetapi tetap berhati-hati. "Tarik napas, kendalikan dirimu."

Tessa menatapnya dengan penuh amarah dan rasa sakit. "Kenapa kau selalu mengatakan aku tidak stabil setiap kali aku mencoba menunjukkan perasaanku?" serunya, nada suaranya gemetar. Api di tangannya semakin besar, memancarkan cahaya yang menari di dinding ruangan.

Evrard tetap tenang meskipun ketegangan memuncak. "Karena aku peduli padamu, Tessa. Tapi tidak dengan cara yang kamu inginkan. Kamu harus berhenti sebelum melukai diri sendiri atau orang lain."

Hidden HuesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang