28. Takdir ditangan Demitrius

154 20 7
                                    

"Sang peminat tetap bungkam, enggan mengakui atau bahkan memahami apa yang sebenarnya dirasakannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sang peminat tetap bungkam, enggan mengakui atau bahkan memahami apa yang sebenarnya dirasakannya. Sementara itu, sang warna yang lelah menunggu mulai merasa muak. Daripada berharap pada peminat yang tak pasti, ia memilih untuk tetap terkurung dalam kegelapan, di mana setidaknya ia tak perlu lagi terluka oleh harapan yang sia-sia."

Hidden Hues
Ayuureve

-

Evrard memegang setir mobilnya dengan erat, pandangannya tajam menatap jalanan kosong di depan. Mobil Bugatti hitam yang dikendarainya melaju cepat, diikuti oleh iring-iringan mobil bawahannya di belakang. Suara deru mesin memenuhi keheningan malam, mengiringi perjalanan panjang yang terasa semakin menegangkan.

Telinga Evrard menangkap suara statis di earpiece-nya sebelum suara adiknya akhirnya terdengar. "Ed, aku berhasil melacak tempat BFD membawa Tessa. mereka menuju arah utara. Tetap ikuti jalan itu, nanti kau akan menemukan gedung besar dikelilingi pagar tinggi. Letaknya jauh, tidak ada pemukiman warga di sana."

Evrard tidak menjawab langsung, hanya mempercepat laju mobilnya. Tangannya semakin kuat menggenggam setir, seolah mengalihkan kekhawatirannya yang semakin memuncak. "Seberapa jauh lagi?" tanyanya akhirnya, suaranya tenang, namun dengan nada yang sulit disembunyikan, menandakan ketegangan dalam dirinya.

"Masih sekitar tiga puluh menit lagi jika kau tetap pada kecepatan itu," balas suara di earpiece-nya. "aku akan segera berputar ke arah utara untuk menyusulmu. Selamatkan Tessa, Ed. Jangan tunggu aku. Habisi semua orang di sana."

Suara itu menggema di benaknya, membuat darahnya mendidih. Dia tidak perlu diberi perintah dua kali. Tangan Evrard menggenggam setir semakin erat, sementara matanya menatap lurus ke jalan dengan fokus penuh.

"Aku tahu," jawab Evrard singkat, suaranya dingin dan sarat dengan ketegangan.

Kecepatan mobilnya bertambah, dan dia memberi isyarat melalui radio kepada bawahannya yang mengikutinya di belakang. "Siapkan semua unit. Begitu sampai, tidak ada yang diam. Kita masuk, dan kita bawa Tessa keluar."

Salah satu suara bawahannya merespons cepat. "Dimengerti, Tuan Demitrius. Semua tim siap."

Evrard merasa detik-detik terasa seperti jam. Pikirannya dipenuhi dengan kemungkinan terburuk Tessa dalam bahaya, dikelilingi orang-orang yang tidak peduli pada nyawanya. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak peduli apa pun yang harus dia lakukan, bahkan jika itu berarti menumpahkan darah di tempat itu.

Tak lama, gedung besar yang disebutkan oleh Alderald mulai terlihat dari kejauhan, dikelilingi oleh pagar tinggi yang mencolok di tengah padang kosong. Evrard melirik gedung itu dengan tatapan penuh amarah. Dia berbicara lagi ke earpiece.

"Aku sudah sampai. Semuanya bersiap. Kita buat tempat ini jadi neraka mereka."

Suara balasan dari bawahannya terdengar serentak. "Siap, Tuan."

Hidden HuesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang