18+ [Romance - Action]
Faye Zaniyah telah terbiasa hidup di bawah radar sebagai agen FBI, menjalani tugas-tugas penuh risiko dan identitas yang selalu dirahasiakan. Di tahun ketiganya bertugas, ia mendapatkan misi baru: melacak seorang wanita mister...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kegelapan termenung dalam diam, merasakan hawa panas perlahan menjalar, membakar setiap sudutnya. Apa yang selama ini disembunyikan mulai terungkap, perlahan memudar dalam api yang tak bisa dihentikan."
Hidden Hues Ayuureve
-
Tiga hari telah berlalu sejak Evrard mengunjungi Alderald di Meksiko. Kini, ia hanya tinggal menunggu kepulangan adiknya. Selama itu pula, ia memilih untuk tetap berada di mansion miliknya. Namun, hubungan antara dirinya dan Tessa belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Sudah hampir seminggu penuh Tessa terus menghindarinya, menolak berbicara atau bahkan bertatap muka.
Keadaan ini hanya menambah beban bagi Evrard. Kerja sama besar antara Demitrius Holdings dan Haega Corporation di Australia, yang seharusnya menjadi tonggak penting dalam ekspansi global perusahaannya, kini tertunda. Penundaan itu membuat saham Demitrius Holdings merosot, memberikan dampak langsung pada stabilitas bisnisnya. tekanan yang terus bertambah mulai mengacaukan pikirannya. Perlahan, ia merasa situasi ini bisa menghancurkannya.
Selama ini, Evrard juga tidak berhubungan dengan Faye. Wanita itu, yang selama ini menjadi pelampiasannya ketika amarahnya memuncak, kini tidak lagi. Ucapan tajam Alderald beberapa waktu lalu terus terngiang di kepalanya, membuatnya kesal. Baginya, Faye tidak lebih dari alat untuk melepaskan emosi—tidak ada perasaan yang terlibat di antara mereka. Namun, absennya pelampiasan itu justru membuatnya semakin frustrasi.
Evrard menghela napas berat, mencoba mengendalikan kekacauan dalam pikirannya. Hari ini, ia memutuskan untuk fokus pada satu hal: memperbaiki hubungannya dengan Tessa. Ia tahu, jika terus dibiarkan, jarak di antara mereka akan semakin sulit dijembatani.
Dengan tekad itu, Evrard melangkah menuju tempat Tessa berada. Ia menemukannya duduk di lantai dengan sebuah kanvas di depannya. Wanita itu tampak tenggelam dalam dunianya sendiri, kuas di tangan bergerak lembut di atas kanvas yang mulai menampilkan pola warna abstrak.
"Tessa, kenapa kau mengganti lagi pakaianmu?" tanya Evrard dengan suara tenang. Ia duduk di samping Tessa yang tengah bersila di lantai, kuas kecil di tangannya bergerak lembut di atas kanvas.
Tessa hanya meliriknya sekilas, tanpa sepatah kata, sebelum kembali memusatkan perhatian pada lukisannya.
"Sepertinya kau tidak suka dengan pakaian baru," ujar Evrard, mencoba memancing respons darinya.
"Itu terlalu putih," jawab Tessa singkat, nadanya ketus namun tetap jujur.
Evrard tersenyum kecil, mengamati Tessa dengan tatapan penuh makna. Hari ini Tessa tidak lagi sepenuhnya mengabaikannya seperti beberapa hari terakhir. Ia bicara, meski singkat, dan itu lebih dari cukup untuk membuat Evrard merasa ada kemajuan. Mungkin dia merindukannya.
"Putih itu bagus," ujar Evrard, "Kau terlihat sangat cantik dan... sangat Demitrius."
"Untuk apa terlihat seperti kalian, jika aku disembunyikan?" suara Tessa terdengar tenang, tetapi nadanya penuh luka yang menekan.