18+ [Romance - Action]
Faye Zaniyah telah terbiasa hidup di bawah radar sebagai agen FBI, menjalani tugas-tugas penuh risiko dan identitas yang selalu dirahasiakan. Di tahun ketiganya bertugas, ia mendapatkan misi baru: melacak seorang wanita mister...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Semuanya kini hanya soal waktu, menanti ke mana sang cahaya akan berlabuh. Apakah ia akan terus memancarkan keindahannya, atau justru kembali tenggelam dalam kegelapan yang pernah memeluknya erat?"
Hidden Hues Ayuureve
-
Di ruang keluarga yang sunyi, Edgar duduk dengan tenang di sofa, pandangannya terpaku pada putrinya yang duduk di seberangnya. Virra, ibunya, berdiri tak jauh, menyilangkan tangan sambil menatap Faye dengan campuran kekhawatiran dan rasa lega. Tiga hari lalu, Faye hampir kehilangan nyawanya, dan kini ia kembali ke rumah dengan cerita yang membawa lebih banyak kegelisahan.
Edgar menghela napas panjang, suaranya terdengar datar namun tegas. "Kau mencintainya?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi.
Faye menunduk sejenak sebelum mengangguk pelan. "Aku mencintainya," jawabnya lirih, seakan mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun, sorot matanya tak mampu menutupi keraguan yang tersembunyi di balik kata-katanya.
Edgar mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, tatapannya tajam menusuk. "Lihat mata Daddy, Faye," ujarnya, suaranya lebih tegas. "Kau mencintainya?"
Faye mengangkat wajahnya, menatap mata Edgar dengan hati-hati. Ada keraguan di wajahnya, tetapi ia tidak bisa menghindari kejujuran yang ia tahu harus ia ungkapkan. "Iya, Dad. Tapi—"
Edgar segera mengangkat tangannya, memotong ucapan Faye sebelum ia bisa melanjutkan. "Tidak ada tapi, Faye. Jika kau mencintainya, cukup katakan iya. Jangan mencari alasan untuk mengurangi apa yang sudah jelas di hatimu."
Faye terdiam, menatap Edgar yang tidak mengalihkan pandangannya. Di sisi lain, Virra berdiri lebih dekat, tetapi memilih tidak ikut campur. Akhirnya, Faye menarik napas dalam-dalam dan menjawab dengan tegas, meskipun suaranya tetap lembut. "Iya, aku mencintainya, Dad."
Ruangan itu seketika hening. Edgar duduk kembali ke posisi semula, kali ini dengan ekspresi yang lebih lembut. Ia mengangguk pelan, seakan menerima jawaban putrinya. Sementara itu, Virra hanya mendesah kecil, matanya menatap Faye dengan rasa khawatir.
Edgar menatap Faye dengan lebih lembut, sorot matanya mencoba menyelami hati putrinya yang tampak diliputi emosi. Ia menghela napas pendek, lalu bertanya dengan nada yang jauh lebih tenang, "Kau bahagia jika bersamanya?"
Faye mengangguk tanpa ragu kali ini. "Iya, Dad. Aku bahagia."
Edgar tersenyum tipis, anggukan kecilnya seolah memberi restu. "Itu cukup untuk Daddy," ujarnya dengan suara penuh kepastian. "Apapun latar belakangnya, Faye, jika kau bahagia dengannya, Daddy akan selalu setuju."
Mata Faye mulai berkaca-kaca. Ia tidak menyangka ayahnya, yang biasanya begitu kritis dan penuh perhitungan, bisa memberikan dukungan yang begitu tulus. "Terima kasih, Dad," bisiknya, suaranya bergetar.