18+ [Romance - Action]
Faye Zaniyah telah terbiasa hidup di bawah radar sebagai agen FBI, menjalani tugas-tugas penuh risiko dan identitas yang selalu dirahasiakan. Di tahun ketiganya bertugas, ia mendapatkan misi baru: melacak seorang wanita mister...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sang peminat merindukan sang warna, namun segalanya telah terlambat. Kegelapan telah menelan warna itu sepenuhnya, menyisakan kehampaan yang tak dapat dijangkau oleh kerinduan apa pun."
Hidden Hues Ayuureve
-
Evrard berdiri di depan pintu apartemen Faye, menatap lurus ke arah kamera interkom dengan ekspresi yang sulit ditebak. Jari-jarinya yang dingin menekan bel tanpa ragu, dan suara nada bel terdengar bergema di dalam apartemen. Ia tahu Faye ada di sana.
Di dalam, Faye sedang menatap layar kecil interkom yang memperlihatkan wajah Evrard. Matanya menyipit, rahangnya mengeras. Ia tahu lelaki itu tidak datang dengan niat baik.
Evrard, yang masih berdiri di depan pintu, memiringkan kepalanya sedikit ke arah kamera. "Agen Zaniyah," panggilnya, suaranya tenang namun sarat tekanan. "Kau tidak perlu bersembunyi. Kita perlu bicara."
Faye mendengus pelan. Ia tahu lelaki ini berbahaya, terutama saat ia terlihat setenang itu. Namun, Faye tidak ingin memperlihatkan kelemahan. Ia menekan tombol interkom, suaranya terdengar dingin dan tajam. "Apa yang kau lakukan di sini, Evrard? Kau melacak lokasi ku kan?"
"Aku tidak datang untuk berdebat," jawab Evrard, tatapannya tetap fokus ke kamera. "Buka pintunya"
Faye terdiam sejenak. Ia tahu Evrard bukan orang yang main-main. Jika ia tidak membuka pintu, kemungkinan besar lelaki itu akan menemukan cara untuk masuk—entah dengan kekuatan, atau dengan caranya yang licik.
"Aku tidak punya waktu untuk berbicara denganmu."
"Buka pintunya, Faye. Kau tahu aku akan masuk bagaimanapun caranya."
Suara Evrard terdengar tegas dan dingin, menggema di balik pintu. Faye menghela napas panjang, tangannya gemetar di atas tombol pintu. Keraguan memenuhi pikirannya. Membiarkannya masuk berarti membiarkan Evrard mengendalikan situasi, tetapi menolak hanya akan memperpanjang konflik yang tak terhindarkan.
Akhirnya, dengan desahan penuh frustrasi, ia menekan tombol untuk membuka kunci pintu. "Hanya berbicara"
Pintu bergeser perlahan, dan Evrard mendorongnya dengan santai. Tatapan matanya tajam, penuh kewaspadaan, dan senyum kecil yang terukir di bibirnya menyerupai ekspresi kemenangan yang ditahan. Langkah kakinya mantap ketika ia memasuki apartemen.
Sebelum Faye sempat bereaksi, Evrard bergerak cepat. Tubuhnya mendorong Faye dengan keras hingga punggungnya menabrak pintu yang baru saja ia tutup. Jantungnya berdetak kencang, rasa terkejut dan panas bercampur di tubuhnya. Sebelum satu kata pun sempat meluncur dari bibirnya, ciuman kasar Evrard sudah mendarat, menuntut dan mendominasi.
Bibirnya direnggut dengan paksa, napasnya terputus-putus di antara desakan yang tak memberi ruang untuk penolakan. Tubuh Evrard yang lebih besar menekan Faye sepenuhnya, menjebaknya dalam ruang sempit yang ia ciptakan. Kehangatan tubuhnya, kerasnya otot-otot yang bersentuhan, semua itu menambah intensitas yang memabukkan.