14. Pembahasan sederhana

180 19 0
                                    

"Warna dan sang peminat tengah berdiskusi dalam diam, membayangkan apa yang akan terjadi jika warna berhasil dibebaskan dari genggaman kegelapan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Warna dan sang peminat tengah berdiskusi dalam diam, membayangkan apa yang akan terjadi jika warna berhasil dibebaskan dari genggaman kegelapan. Apakah keindahannya akan memancar dengan gemilang, atau justru memudar di bawah cahaya yang terlalu terang? Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di antara mereka, penuh harap dan keraguan."

Hidden Hues
Ayuureve

-

Langit biru yang jernih membentang luas di luar jendela pesawat pribadi milik Evrard. Kabin pesawat itu memancarkan kesan mewah dan elegan. Kursi kulit berwarna krem yang empuk terletak rapi di sepanjang sisi pesawat, sementara meja kayu berlapis pernis memantulkan cahaya matahari yang lembut, menciptakan suasana yang hangat namun tetap profesional.

Suasana dalam kabin terasa sunyi dan tenang, hanya dipenuhi oleh suara lembut mesin pesawat yang melaju lancar di udara. Sesekali, ketenangan itu terganggu oleh suara Evrard yang berbicara dengan tenang namun tegas melalui layar laptopnya. Ia sedang mengikuti rapat online dengan timnya di Amerika, membahas berbagai laporan yang tampaknya tidak ada kaitannya dengan Faye.

Faye duduk di kursi lain, bersandar dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Kedua tangannya menggenggam ponsel dengan erat, mengetik pesan singkat untuk memberitahukan rekan kerja timnya tentang kepergiannya yang mendadak. Matanya melirik Evrard dengan tajam, kesal karena tidak diberikan kesempatan untuk menolak. Panggilan Mr. Hadyan yang memintanya untuk mendampingi Evrard, membuatnya terpaksa mengikuti perjalanan ini meskipun hatinya menolak.

Evrard melirik sekilas ke arah Faye yang tampaknya sedang menggerutu kecil, namun ia tidak menghiraukannya. Dengan sikap yang tetap tenang, ia kembali fokus pada layar laptopnya, melanjutkan rapat online dengan timnya di Amerika.

Setelah lamanya rapat berlangsung, hingga Evrard menyelesaikan poin pembicaraannya dengan tim, lalu menutup laptopnya dengan gerakan santai. Matanya kini tertuju penuh pada Faye, pandangan itu seperti selalu, tajam namun penuh kendali.

"Perjalanan nya akan membutuhkan 13 jam, lebih baik kau istirahat"

Faye menoleh pada Evrard, yang sedang menatapnya seakan membawanya kesini bukanlah kesalahan dirinya.

Faye mendesah keras. "Apakah ini sepenuhnya sifat mu? Memaksa orang yang bahkan tidak ingin mereka inginkan?"

"Ini bukan pemaksaan, ini pekerjaan, Faye, atau lebih tepatnya, Mr. Zaniyah?" Evrard berkata dengan nada meledek, matanya tetap tajam namun ada senyum tipis yang tersirat di sudut bibirnya.

Faye mendengus, ekspresinya semakin serius. "Tetap saja, seharusnya kau memberitahunya jauh-jauh hari," jawabnya dengan tegas. "Agar Mr. Hadyan bisa mengosongkan waktunya untuk mendampingimu. Aku hanya asistennya, Evrard."

Evrard menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai, terlihat begitu tenang meskipun Faye semakin kehilangan kesabarannya. "Saya tidak bekerja sama dengan 'dukun' masalahnya," katanya, "Jadi saya tidak tahu ada pekerjaan mendadak di Melbourne."

Hidden HuesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang