Yuhuuu! Update Update!!
Siapa yang udah nunggu??? Cungggg!!
Bepp, hari ini chapternya agak lumayan panjang yaaa, chapter jembatan buat AdilxArman untuk yang pertama haha, tapi tenang, sama Jepri juga bakalan kok, habis itu baru bertiga hahahaha
Saking enjoynya aku nulis ini chapter, hampir 3000 kata anjrritttttt, anyways, selamat membaca yaaa, jangan lupa, di vote dan komen, biar aku makin semangat nulisnya.
HAPPY READING GUYS!!
See you di hari rabuuuuuu
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
CHAPTER 40
BUGHHHH! BUGHHHH!!! BUGHHHH!!!
Aku berulangkali memukuli mereka bergantian, punggung mereka aku hantam dengan kayu panjang yang aku pegang, awalnya mereka masih tetap tidak bergeming dan masih bergulat didalam lumpur sawah, saling meninju, saling mencakar, tapi semakin keras aku memukul mereka, barulah mereka mulai berhenti, Jepri yang berada dibawah Kak Arman bangkit dan memegangi tangannya yang aku pukul sambil meringis menggeliat.
“Awww!!!.”
“ADUHHH!.”
Mengaduh dan berteriak, menyuruhku untuk berhenti, aku baru berhenti ketika mereka sudah tidak saling memukul lagi.
“Apaan si lu anjing! Sakit tauu!.” Ujar Kak Arman sambil mengusap punggungnya.
“LU YANG ANJING!, LU BERDUA YANG ANJING! NAIK GAK LU BERDUA, CEPET!.” Aku berteriak saking kesalnya, membuang kayu yang aku buang ke belakang, baik Kak Arman mau pun Jepri diam tak menjawab lagi, mereka mengangguk dan naik dari lumpur ke atas tanah kering jalan setapak. Mereka berdiri seperti dua anak kecil tak berdosa yang telah bertengkar, memandangi wajah menyesal mereka yang masih memendam nafsu amarah pada masing-masing.
“Ngapain diem disitu kayak orang bego?!, jalan lurus ke sana! Turun ke sungai, bersihin badan kalian!.” Titahku ketus, mereka mengangguk, Jepri mulai mendorong tubuh Kak Arman agar ia jalan duluan, Kak Arman tidak terima dan mulai membalas mendorong Kak Arman.
“GOBLOK! Mau mulai lagi?!!!.” Marahku kepada mereka, mereka kembali diam dan menggelengkan kepala, Jepri mengalah dan mulai berjalan duluan, aku harus berjalan dibelakangnya, memisahkan Jepri dan Kak Arman, lurus hingga sampai di sungai, air yang lumayan deras bekas hujan semalam, tapi anehnya, airnya masih bening saja, tidak ada warna kecoklatan khas air banjir kota, aku menyuruh mereka untuk turun dan membersihkan diri mereka.
Berendam dan menggosok badan yang dipenuhi dengan lumpur, ahhh sialannnnn!!!! Padahal aku mengharapkan mereka masih dalam keadaan bersih ketika kami mandi disungai ini, agar mereka bisa membuka pakaian mereka ketika mandi, syukur syukur aku bisa melihat dia kontol besar mereka, sekarang, kesempatan itu hilang, mereka harus berbasah basahan sambil berendam, tanpa membuka pakaian mereka, duhhh sayangnya.
“Udahh?!.” Tanyaku, aku duduk di sebuah batu besar, memperhatikan mereka membersihkan badan mereka, sudah lebih dari lima menit, sepertinya sudah bersih, aku memanggil mereka untuk kembali naik dan pulang, sama seperti tadi, aku berjalan diantara mereka, tidak ingin ada lagi pertengkaran yang terjadi, nasi kuning yang mereka beli, aku bungkus kembali dan membawanya ke rumah.
“Handuknya gantian aja! Cuman ada satu handuk barunya.” Ucapku sambil melemparkan handuk ke arah Kak Arman.
“Gue pake punya lu aja boleh gak Cil?.” Tanya Jepri.
“Gak bisa!.” Ucapku ketus, Kak Arman duluan masuk ke kamar mandi, Jepri berdiri di luar, didekat pintu rumah.
“Kayak bocah tau gak? Udah gede masih berantem aja sih!.” Aku menghardik Jepri, ia hanya menatapku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arman
RomanceBercerita tentang Adil yang sejak kecil hidup susah setelah ditinggal Ayahnya hingga ia hampir putus sekolah ketika ia SMA, sehingga mau tidak mau ia harus bersedia untuk di urus dan disekolahkan oleh orang tua angkatnya, ia kira hidupnya akan mulai...
