Ch.43 Dia Lagi

2.9K 173 78
                                        

UPDATE UPDATE BEPP!!!!

Selamat datang kembali sayang sayangkuuu, siapa yang sudah menanti cinta segi delapan ini? Siapa yang masih kesel sama Arman? Huhuhu, bep, aku mau bikin time jump ah, biar nggak terlalu lama gitu sampai ke konflik selanjutnya, semoga kalian nggak bingung yaaa, mungkin di chapter chapter selanjutnya deh.

Anyways!

Selamat membaca yaaa, jangan lupa di vote dan komen cintaku! Biar bebep mu ini lebih semangat nulisnya, biar cerita ini juga naik di Tag nya huhuhuhu.

Udahlah, gitu aja notes nya, see you di hari Selasa yaaa bepp ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️.


CHAPTER 43

ADIL POV

“Jadi basah kuyup begini kan?!.” Kak Arman menghanduki kepalaku yang basah, gentle dan tidak rusuh, padahal badan dan kepalanya juga sama basahnya denganku, tapi ia mendahulukan diriku.

“Simpen dulu dong Dil!.” Ia mengambil plastik berisi telur gulung ditanganku, lanjut mengeringkan kepalaku, aku memandang wajah seriusnya, bibir tipis kak Arman yang tadi menciumi bibir dan wajahku, oh, mengapa aku harus menaruh hati pada orang ini.

“Ibu belum pulang ya?.”

“Masih ujan Dil, kayaknya nunggu reda dulu deh, jauh nggak pasarnya? Mau gue jemput ibu?.” Aku menggelengkan kepalaku.

“Gak usah kak, kalo ujan gini ibu biasanya mampir ke toko temennya yang jualan roti, neduh disana.” Ia mengangguk, aku mengambil handuk dari tangannya, giliranku mengeringkan kepala Kak Arman, kami mengganti pakaian, ia membuatkan aku segelas teh panas dan duduk berdua denganku diatas karpet.

“Makasih Kak.” Ia mengangguk, menyalakan sebatang rokok, hendak membuka ponselnya hingga ia melihat mataku yang menatap tajam ke arahnya, mengurungkan niatnya dan menyimpan kembali ponsel itu.

“Sorry.”

“Sorry Mulu!.” Jawabku ketus.

“Gue nggak seharusnya ngekang lu Dil, gue tahu gue salah, gue gak ada hak buat ngelarang lu buat Deket sama siapapun, atau ngelarang Jepri buat Deket sama Lo.” Ujarnya, aku mengangguk.

“Tau kenapa begitu kak?.” Tanyaku.

“Karena gue nggak bisa ngasih kepastian buat lu?.” Jawabnya ragu, aku mengangguk sambil menepuk pundaknya.

“Iya betul, kalo kakak nggak bisa ngasih keputusan buat hubungan kita, Adil minta, kakak nggak usah ngelarang Adil atau siapa pun buat Deket sama Adil, itu yang Adil minta kak.” Ia menatapku serius, kemudian mengangguk pelan.

“Tapi, lu nggak bakalan marah kan kalo gue juga Deket sama orang lain?.” Diam sejenak, menarik nafas panjang.

“Sebenernya Adil agak gak terima kak, tapi mau gimana lagi, kita nggak bisa memaksakan hati kak, kayaknya juga ini kesepakatan baru yang kita ambil, kesepakatan yang Adil harap, bisa menguntungkan buat kita, kakak bisa tetep Deket sama orang lain, Adil juga sama.” Ia mengangguk setuju, mengambil tanganku dan mengusapnya lembut, hangat tangannya, senyumnya melebar.

“Tapi Dil, kalo gue lagi a-anu?.” Tentu saja dia akan bertanya seperti itu, untuk saat ini, sepertinya aku akan menolaknya saja.

“Lagi apa?.”

“Itu Dil, yang tadi.” Aku memutar mata malas.

“Kakak masih pengen lanjutin hubungan kita, meski tanpa status?.”

ArmanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang