UPDATE UPDATE!!!
BEP, kita udah mulai masuk ke third act ya, konflik baru mulai muncul nih, kemungkinan hubungan Adil sama Jepri akan aman aman aja beberapa chapter ke depan, gak tau sih kedepannya, semoga langgeng deh.
Anyways, selamat membaca yaaa, jangan lupa, di vote dan komen yaaa bepp, biar aku makin semangat nulisnya huhuhu.
Makasih banyak cintaku yang sudah selalu komen di tiap chapter aku yaaa, see you di hari Rabu bebep bebepkuuu.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
CHAPTER 47
ADIL POV
“Mau nyari kemana?.” Tanya Jepri, kami baru saja selesai dari kost Kak Rendi, hasilnya nihil, tidak ada Kak Arman disana, sedikit bingung aku, harus kemana lagi, karena memang aku tidak terlalu mengenal teman-teman Kak Arman di kampus, jika masih SMA sih aku kenal banyak, bahkan hingga nomor ponsel mereka aku simpan, ah, Rai dan Hasbi juga teman Kak Arman saat SMA dulu, sekarang, hanya Kak Rendi saja yang aku kenal, itu juga karena dia pernah main ke rumah, nomor ponselnyapun aku tidak punya.
“Gue nggak tahu lagi siapa temen Kak Arman Jep, kagak kenal, kira-kira anak kuliahan gitu kalo nongkrong dimana? Kali aja lu tahu Jep.”
“Biasanya ya di cafe cafe Dil, tapi ini udah hampir tengah malem, udah pada tutup lah cafe bagus mah.” Jawab Jepri, aku mengangguk setuju dengannya, kecuali memang ada cafe 24jam, belum pernah dengar aku.
“Kita coba cari aja deh, gue tahu cafe yang tutupnya jam 1 pagi deh, kita kesana ya?.” Ajak Jepri, aku mengiyakan.
Lumayan jauh dari kost Kak Rendi, melewati sekolahku, masih dikota, tapi memang jaraknya lumayan, jika ini siang hari, aku yakin akan macet parah daerah sini, dan akan terasa lebih jauh lagi perjalanan kami. Kami sampai dicafe yang Jepri tuju, sebuah bangunan cantik dan bercahaya karena lampu hias yang mengitari bangunan, benar apa kata Jepri, masih banyak orang disini, apa mereka tidak ada kegiatan besok ya? Bisa sampai larut betah di cafe, meskipun jika memang besok libur, sepertinya akan lebih baik jika tiduran dan beristirahat dikamar saja.
“Sambil lihat di parkirannya Dil, ada motor Arman gak?.” Mataku menelusur setiap kendaraan yang terparkir, mencari motor trail KLX milik kak Arman, harusnya bisa standout sih karena kebanyakan motor di sini adalah motor matic, aku menggeleng pelan ketika tidak ada motor Kak Arman.
“Kagak ada?.” Aku mengangguk.
“Coba cek didalem deh yuk!, siapa tahu dia pake motor temen nya, atau diboncengin.” Saran Jepri, kami masuk kedalam, untungnya tidak ada ruangan ruangan seperti rumah bersekat, saru ruangan luas dengan beberapa kursi dan meja, aku dan Jepri mengitari ruangan itu, melihat setiap meja siapa tahu ada pria tinggi berambut cepak yang kami cari, hasilnya? Nihil, tetap tidak ada, aku mengajak Jepri keluar cafe, kembali masuk kedalam mobil, Jepri menyuruhku untuk pergi duluan, ia memberikanku kunci mobilnya agar aku bisa masuk.
Beberapa saat kemudian, Jepri masuk kedalam mobil, ditangannya ada satu cup besar yang kemudian ia berikan kepadaku.
“Apaan?.” Tanyaku.
“Bibir lu, warnanya ungu gitu Dil, lu kedinginan ya? Gue beli minuman anget nih.” Ujar Jepri, aku menerima cup besar itu.
“Duh Jep, kalo kopi sih sorry banget gue gak minum ya, udah malem, nanti gue gak tidur.”
“Bukan kopi itu, coklat anget.” Ia memasangkan sabuk pengaman kemudian mulai melajukan kembali mobilnya, ke arah rumah.
“Mau pulang aja?.” Tanya Jepri.
“Makasih coklatnya Jep, kalo ke kost Nadhifa gimana?.” Tanyaku, Jepri memandangku sejenak.
“Jam segini? Ke kost khusus cewek?.” Tanya dia.
“Ya kan siapa tahu dia belum bangun, Nadhifa kan pacarnya Kak Arman, bisa aja dia bilang ke Nadhifa, izin mau kemana kek.”
“Aneh banget, sama nyokap sendiri gak izin, tapi sama pacar izin.” Jawab Jepri ketus.
“Ya kan misalnya Jep.” Ia diam tidak menjawab, matanya fokus menatap ke arah jalan didepan.
“Minta gue Dil!.” Ucap Jepri, aku mendekatkan sedotan coklat hangat ke bibirnya, ia menyedot pelan coklat hangat, nikmat sekali di malam hari yang dingin ini, coba saja Kak Arman tidak menghilang tanpa izin seperti ini, akan lebih nikmat sepertinya, apalagi diminum didalam kamar sambil berselimut dan menonton Netflix.
“Kemana nih arahnya? Gue gak tau Nadhifa kostnya dimana?.” Tanya Jepri, aku melihat ke arahnya, tersenyum jahil.
“Ah masa? Yakin nggak tahu kostnya Nadhifa?.” Jepri berdecak mendengar pertanyaanku.
“Mulai.” Ujarnya singkat, matanya memutar kesal.
“Mulai apaan dah? Kan cuman nanya doang, masa gak tau kostnya Nadhifa?.” Jawabku sambil terkekeh.
“Ya kagak tau lah, gue kan belum pernah kesana.” Aku kembali terkekeh.
“Coba aja kalo udah tahu ya? Pasti bakal sering main, ya nggak Jep?.” Ia kembali berdecak kesal.
“Udah deh Dil, jangan mulai ah, nanti gue bales bercandain lu marah lagi.” Aku mengangguk sambil tertawa, memang benar haha, aku selalu menjadi orang yang memulai bercanda dengannya, namun ketika ia membalas candaanku, aku pasti akan marah kepadanya, memang seharusnya mas pacar hanya menjadi korban candaan kan? Hahaha.
“Iya iya Jep, ke arah kampus Kak Arman, Deket dari situ, seratus meter lah, yang Deket apotik itu kostnya.” Jepri mengingat ingat kemudian mengangguk, aku tahu karena aku pernah meminta share location pada Kak Arman, dia bilang dia sedang menjemput Nadhifa, aku sempat tidak percaya makanya meminta shareloc sebagai bukti.
Kami sudah sampai, parkir di pinggir jalan, berjalan sedikit, masuk gang hingga mentok dan berujung pada pagar hitam yang tinggi, baru datang langsung disambut dengan tulisan besar pada kertas yang menempel di pagar, ‘TAMU MAKSIMAL HINGGA JAM 10’ aku dan Jepri saling memandang.
“Gimana?.” Tanya Jepri, aku menaikan kedua bahuku bingung juga dengan apa yang harus dilakukan, kalo izin, izin kepada siapa? Kalo langsung masuk? Takut nanti disangka maling.
“Telfon aja!.” Usul Jepri.
“Gue nggak punya nomor Nadhifa, lu yang punya!, coba telfon!.”
“Itu nomor udah lama banget Dil, udah lama juga gue nggak pernah chatting, gak tau masih aktif atau enggak.”
“Yaudah makanya, coba aja telfon!.” Jepri mengangguk, mengeluarkan ponselnya.
“Berdering Dil!.” Ujar Jepri sambil tersenyum senang, aku mengangkat jempolku, berdering tapi tidak diangkat, apa sudah tidur ya? Aku menyuruh Jepri untuk kembali mengulanginya, barulah pada percobaan kedua, Jepri langsung memberikan ponselnya kepadaku.
“Halo? Siapa?.” Tanya Nadhifa, suaranya serak, sepertinya dia sudah tidur deh.
“Nadh? Ini, ini Adil.” Jawabku.
“Adil? Adil adiknya Arman kan?.”
“Iya Nadh, gue.” Terdengar suara gerakan, bangun dari kasur sepertinya.
“Kok pake nomor orang? Pake nomor.. Jepri ya, iya nih namanya Jepri, kenapa Dil?.”
“Kita lagi ada didepan gerbang kost lu.”
“HAH? Ngapain?!, bentar gue turun dulu, tapi ngobrol di depan gerbang aja ya, Ibu kost gue ribet.” Panggilan berhenti, aku memberikan ponsel Jepri kepadanya, tidak lama dari itu, Nadhifa turun, wajahnya menggunakan masker putih, sedang maskeran ternyata, rambutnya ia tutupi menggunakan handuk, ia membuka pagar gerbang.
“Beneran dong! Pada ngapain? Udah malem ini, kalo ibu kost gue liat, bisa diceramahin ini.” Mata Nadhifa melihat ke arah Jepri, tersenyum tipis kemudian fokus kembali ke arahku.
“Mau tanya Nadh, tadi Kak Arman ada kesini gak? Atau bilang gitu mau kemana?.” Tanyaku, Nadhifa menggelengkan kepalanya.
“Terakhir kesini sih dua hari yang lalu Dil, tapi tadi siang dia sempet ngehubungin gue, katanya mau ada acara di kost Rendi, mau barbeque-an.” Jawab Nadhifa, kebohongan yang sama seperti yang diucapkan Kak Arman kepada Tante Anisa.
“Justru itu Nadh, kita barusan udah ke kost Kak Rendi, tapi dari awal acara juga Arman gak ada disana.” Wajah Nadhifa berubah, ia terlihat sedikit khawatir.
“Bentar.” Ucapnya, ia membuka ponselnya, melihat sesuatu.
“Pantes aja chat gue masih ceklis satu, gue kira ya karena emang lagi sibuk sama temen temennya, ternyata gak ada ya?, ini barusan gue chat lagi juga masih sama ceklis satu kok.” Lanjut Nadhifa.
“Lu ada tahu biasanya dia kemana nggak Nadh?.” Kali ini Jepri yang bertanya, Nadhifa hanya memandang Jepri sekilas lalu kembali memandang ke arahku.
“Selama kita pacaran sih ya, kalo main ya paling ke mall, ke cafe, atau nggak beli cilok didepan sana, dia nggak pernah cerita tentang temen-temennya selain si Rendi dah, kurang tahu gue dia biasanya main kemana.”
“Yaudah deh Nadh, kalo gitu kita pamit lagi, sorry udah ganggu malem malem, kalo Kak Arman ada hubungin lu telfon gue ya.” Pintaku, ia mengangguk, aku pamit kembali ke mobil bersama Jepri.
“Pulang aja?.” Tanya Jepri, aku mengangguk, yah, mau kemana lagi? Aku sudah tidak punya koneksi teman-teman Kak Arman lagi, lebih baik pulang saja, dan bilang pada Tante Anisa bahwa aku tidak menemukan kak Arman, mencoba menenangkannya agar tidak usah khawatir, kemungkinan Kak Arman menginap di rumah temannya yang lain selain Rendi.
“Mau mampir beli apa dulu gitu?.”
“Gak usah Jep, langsung pulang aja.” Ia mengangguk, mulai mengarahkan mobil menuju rumah, sudah melewati sekolahku hingga kemudian ponselku berdering, Kak Arman? Aku langsung menerima panggilan itu.
“Halo Kak?.” Ucapku, Jepri langsung menoleh ke arahku, kami saling menatap.
“Siapa?.” Tanya Jepri pelan, aku diam tidak menjawab.
“Arman?.” Lanjut Jepri, aku mengangguk.
“Dil?.” Sebuah suara yang sangat familiar, suara yang sering aku dengar, tapi ini bukan suara Kak Arman, ini suara, Kak Rendi.
“Kak Rendi?, kok pake handphone Kak Arman?.” Tanyaku.
“Nanti gue ceritain deh, lu bisa kesini sekarang juga nggak Dil? Penting!.” Suara Kak Rendi terdengar khawatir, aku mengiyakan, menyuruh Jepri untuk putar balik dan kembali ke kost Kak Rendi.
Jepri parkir tepat didepan gerbang kost, aku langsung turun, ditempat tadi, masih ada beberapa orang, sekarang berkerumun, Bakaran sudah ditinggalkan oleh Kak Rendi, aku menghampiri mereka.
“Kak Rendi!.” Panggilku, ia berbalik, menatapku.
“Arman Dil!.” Ujarnya, aku mengangguk, berjalan ke arah kerumunan teman teman Kak Rendi, disana, didepan pintu kamar kost Kak Rendi, Kak Arman terduduk lemas, rambutnya basah berkeringat, matanya membuka dan menutup, merah matanya, kemeja yang Kak Arman gunakan terbuka beberapa kancing, hampir lepas malah, memperlihatkan perut rata Kak Arman basah oleh muntahan, lantai di sekitar pintu kamar Kak Rendi juga sama, ada muntahan basah yang lumayan banyak, anjing! Kak Arman mabuk?
Dua orang perempuan berjilbab teman Kak Rendi berada disamping Kak Arman, entah siapa nama mereka aku tidak kenal, tapi sepertinya mereka kenal dengan Kak Arman, yang satu mengusap wajah Kak Arman dengan handuk kecil yang sudah dibasahi, mencoba menyadarkan Kak Arman, perempuan satunya lagi, mengancingkan kemeja kak Arman hingga tertutup sepenuhnya.
Aku berlari ke arah gerbang, memanggil Jepri, ia keluar dari mobil, mengikutiku, meminta izin untuk meminta ruang, jongkok disamping Kak Arman, mengusap rambut Kak Arman lalu menampar pelan pipinya.
“Kak!, Kak Arman! Bangun Kak!.” Panggilku, matanya masih terpejam, membuka sekali, menatapku sayu tak jelas lalu kembali terpejam.
“Kak! Kak Arman! Ini Adil Kak! Bangun! Sadar Kak!.” Aku mengulangi panggilanku, ia hanya menggerakkan kepalanya lemah ke kiri dan kanan, mulutnya membuka, memanggil namaku beberapa kali, ah, sudah tidak beres.
“Jep! Bantu gue!.” Ujarku, aku mengalungkan tangan Kak Arman pada bahuku, Jepri disebelah kanan, aku dikirim, Kak Rendi kemudian menggeser badanku, menyuruhku untuk jalan duluan kedepan untuk membuka pintu mobil, jadilah Kak Rendi dan Jepri yang memboyong Kak Arman, fikiranku kacau, sejak kapan Kak Arman menyentuh Alkohol? Sampai separah ini lagi?
“Dia dari mana dia Kak?.” Tanyaku kepada Kak Rendi setelah Kak Arman duduk dikursi belakang.
“Gak tau gue Dil, dia dianterin pake mobil, tapi keluar sendiri, terus ngerangkak sampe depan gerbang, mobilnya langsung pergi lagi.” Jawab Kak Rendi.
“Nanti gue kesini lagi Kak, mau minta kronologi lengkapnya, makasih ya Kak, gue mau bawa Kak Arman pulang dulu!.” Kak Rendi mengangguk, aku masuk kedalam mobil, duduk dikursi belakang, sedangkan Jepri menyetir.
“Pulang langsung?.” Tanya Jepri.
“Ya pulang lah!.” Sedikit membentak Jepri, emosiku tidak stabil saat ini, Jepri mulai melajukan mobilnya.
Aku memegang tangan Kak Arman, baru sadar bahwa suhu tubuhnya begitu dingin, panik, aku mencakup wajah Kak Arman, mengarahkannya kepadaku, mulutnya sedikit terbuka, aroma alkohol yang kuat menguar, bibirnya pucat, mendekatkan jariku pada hidungnya, memastikan ia masih bernafas, lemah tapi masih bernafas, agak sedikit tenang aku, aku panik karena memang mata Kak Arman terpejam terus, dan suhu tubuhnya dingin.
Mobil sudah melewati sekolah, sebentar lagi sampai, aku melihat ke arah samping, Kak Arman masih terpejam tenang, rasa panik menyambutku lagi ketika dengan tiba-tiba, badan Kak Arman bergerak, mengejang pelan, lalu muntah, hanya air saja yang keluar, Kak Arman menyandarkan kembali badannya.
“Anjing, nanti kalo dia sadar, gue suruh dia yang steam mobil gue luar dalem!.” Sewot Jepri, ingin sekali aku tertawa mendengarnya, tapi melihat kondisi Kak Arman, rasa khawatirku lebih mendominasi.
Aku mengambil tissue dari dashboard depan, hendak melap bibir Kak Arman, kembali aku dibuat kaget ketika melihat liur Kak Arman bercampur dengan darah merah, jantungku berdetak kencang, belum selesai, badan Kak Arman tiba-tiba kejang, tambah panik aku.
“JEPP!!! JANGAN KE RUMAH JEP! LANGSUNG KE IGD AJAA!.” Aku berteriak panik, padahal Jepri berada didepanku, belokan pertigaan Jepri lewati, melaju lurus menuju rumah sakit.
Tanganku memegang mulut Kak Arman, takut jika ia akan melukai dirinya sendiri dengan menggigit lidahnya atau bibirnya, mata Kak Arman terpejam, tapi tubuhnya masih mengejang, suhu tubuh Kak Arman mengapa terasa semakin dingin seperti ini, jangan kenapa-kenapa Kak, Aku bingung, aku takut, bagaimana reaksi Tante Anisa dan Om Abas jika mereka melihat kondisi Kak Arman, anak lelaki satu-satunya mereka dalam kondisi seperti ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Arman
RomanceBercerita tentang Adil yang sejak kecil hidup susah setelah ditinggal Ayahnya hingga ia hampir putus sekolah ketika ia SMA, sehingga mau tidak mau ia harus bersedia untuk di urus dan disekolahkan oleh orang tua angkatnya, ia kira hidupnya akan mulai...
