Ch.59 Epilogue

3.6K 178 86
                                        

AKHIRNYA BEPPP, UPDATE TERAKHIR UNTUK CERITA ARMAN. HUUHUHU

BEPP!!!!

MAKASIH BANYAK BUAT KALIAN YANG SELALU HADIR DI SETIAP UPDATE CERITA INI, YANG SELALU KOMEN, YANG SELALU VOTE JUGA, MAKASIH BANYAK BUAT KALIAN.

JANGAN SEDIH, JANGAN RISAU, AKU PASTI KEMBALI LAGI DENGAN CERITA BARU YANG GAK KALAH SERUNYA, KALIAN CUKUP FOLLOW DAN NYALAKAN NOTIFIKASI, ATAU FOLLOW IG AKU UNTUK INFORMASI MENGENAI CERITA AKU, INGAT, SETIAP CERITA TAMAT, AKAN HADIR CERITA BARU, DI SERTAI DENGAN UPDATE KARYAKARSA SETIAP TANGGAL 5 DI AWAL BULAN.

TETAP STAYTUNE DAN NANTIKAN CERITA AKU YANG AKAN HADIR DAN UPCOMING, AKU SAYANG KALIAN SEMUAAAAAAAAAAAA PARA PEMBACA.

*jangan bingung karena aku pake capslock semua, aku lagi beneran seneng sedih terharu pokoknya 😭, sampai ketemu lagi sayangku cintaku, di next stories. ❤️❤️❤️❤️❤️

CHAPTER 59

EPILOGUE

ADIL POV

Jika kalian bertanya kepadaku, apa yang berlalu begitu cepat, memaksa manusia untuk berjalan terus menerus, tak pernah memperdulikan apapun yang ada didepannya, maka jawabannya ada waktu, begitu kejam, tak kenal ampun dan tak mau tahu, dia terus berputar, melaju dan berlalu, meski berbeda bagi setiap orang, ada yang merasakan begitu kencang ia berlari, ada juga yang merasakan betapa lambatnya ia merangkak, itu lah dia, bagiku, ia berjalan dengan kecepatan konstan, pelan tapi tak pernah berhenti, di kala hidupku sedang berada pada titik terbawah, aku ingin waktu berjalan dengan cepat, berlari malah, agar semua yang aku alami pada saat itu cepat berlalu, tapi kali ini, aku ingin ia merangkak lambat, aku tidak ingin ia berlari, bahkan berjalan, aku ingin menikmati saat saat bahagia ini lebih lama, bersama dengan orang orang yang aku sayangi.

Satu tahun yang lalu tepat hari ini, tepat di mana Kak Arman mengalami insiden yang traumatis, membuatnya terluka berat hingga koma, membuatnya tak bisa berjalan selama beberapa bulan, sudah terlewat sudah, tapi memori kenangan itu masih selalu berputar di kepalaku, hampir kehilangan Kak Arman adalah momen paling menakutkan pada saat itu, ingin aku menyuruh waktu untuk mulai berlari, mempersingkat setiap harinya hingga Kak Arman sembuh kembali.

“Udah siap?.” Suara Jepri terdengar, kepalanya nongol dari balik pintu.

“Bentar lagi Jep.”

“Jangan lama-lama!.” Ucap, aku mengacungkan jempolku, menatap layar tipis di genggamanku, sebuah kontak dengan foto Kak Arman yang sedang berdiri di samping salju yang dibentuk menjadi snowman, jaket tebal berwarna hitam ia gunakan, syal mengalung di leher, tersenyum ke arah kamera, aku sentuh gambar berbentuk telepon di samping namanya, layar berubah, menunjukan bahwa orang yang sedang berusaha aku panggil itu ponselnya berdering.

“Halo? Dil?.” Suara itu, masih sama, hangat dan playful.

“Kak? Udah nyampe di lokasi?.” Tanyaku, panggilan berubah menjadi permintaan FaceTime, aku menyetujuinya, sontak, wajah Kak Arman terpampang jelas di layar, ia tersenyum lebar, kumisnya semakin tumbuh, sedikit lebih tebal, membingkai bibirnya yang tipis dan kering.

“Udah nyampe?.” Aku mengulangi pertanyaanku, wajah Kak Arman begitu kering terlihat, bibirnya pecah pecah.

“Noh di belakang gue tempatnya, gede banget kan? Bagus lagi gedungnya!.” Ujarnya excited, ia membalikan kameranya, kini yang terlihat di layar adalah sebuah bangunan tua dengan design gothic yang begitu indah.

“Yang lain mana?.” Tanyaku, kamera kembali fokus ke wajah Kak Arman.

“Ada tuh, lagi pada duduk!.”

“Kak! Pake moisturizer deh! Kering banget itu kulit, bibir juga pecah pecah gitu.”

“Iya Dil, lupa gue, nanti minta sama temen gue deh, belum di bolehin kemana-mana soalnya, kudu tetep sama rombongan.” Ia tidak pernah berhenti tersenyum, tentu saja, ini adalah mimpinya yang sempat ia kira tidak akan tercapai, program study untuk olahraga futsal yang sudah ia dambakan, yang sempat terlewatkan juga, kini sudah ia capai, beberapa bulan rehat karena cidera ankle yang parah, hampir patah semangat dan sering melamun, kak Arman selalu kami semangati, hingga ia mau melakukan theraphy, Om Abas tidak pernah ragu untuk menggelontorkan uang demi kesembuhan Kak Arman.

Fisioterapi, bolak balik Singapura-Indo, tidak pernah mereka mengeluh, hingga kak Arman bisa kembali sembuh, berlatih keras kembali, meski belum perform sebagus sebelumnya, tapi Kak Arman masih bisa Excel dalam olahraga yang ia tekuni, program itu kembali di ajukan oleh pihak kampus, melihat track record Kak Arman, Napoli University akhirnya memberikan satu slot lagi tahun ini untuk Kak Arman.

Wajah Kak Arman begitu sumringah, senyumnya lepas, tatapan matanya tidak lagi kosong dan datar, ia bercahaya lagi.

“Yaudah, turutin aja, jangan bikin ulah! Nanti kalo udah selesai buat hari ini, Adil hubungin Kakak Lagi.” Ia mengangguk, melambaikan tangannya di kamera, aku mengakhiri FaceTime kami.

Kalian pasti bertanya, apa yang Om Abas dan Tante Anisa lakukan untuk mendapatkan keadilan untuk anak mereka? Jika harus aku jelaskan secara detail, itu akan menjadi cerita baru yang lebih panjang dan rumit, pertarungan yang panjang di pengadilan, lebih dari tiga bulan mereka bolak balik pengadilan, bayangkan, pengadilan, medical checkup, fisioterapi, Singapura, betapa lelahnya apa yang Om Abas dan Tante Anisa rasakan, berapa banyak uang yang dikeluarkan, pengacara, biaya lainnya, tahun kemarin mungkin menjadi rekor baru bagi Om Abas dalam pengeluaran di satu tahun penuh.

Meski begitu, Om Abas begitu puas dengan hasil yang di terima, Sela, Kakaknya dan teman-temannya, serta Pras masing masing dihukum seusai dengan apa yang telah mereka lakukan, Sela dan Pras mendapatkan hukuman kurungan penjara selama 9 tahun dengan aduan pencemaran nama baik serta tuduhan palsu tak terbukti, Sedangkan Kakak Sela dan teman-temannya, masing masing mendapat hukuman 15 tahun tahanan penjara dengan aduan Percobaan penghilangan nyawa.

Mengingatnya, membuat aku merasa lega dan bersyukur karena jarang sekali para pelaku kejahatan mendapatkan hukuman yang setimpal, jika kalian tahu bagaimana murkanya Kak Mira kepada Sela dan Pras, aku, Jepri dan Kak Mira sengaja hendak datang ke rumah Sela untuk membahas permasalahannya, tapi yang menyambut kami adalah sebuah pesta pernikahan, Sela dan Pras yang menikah, pesta meriah yang di datangi begitu banyak orang.

Kak Mira naik ke atas panggung, mengambil microfon dari penyanyi wedding, mencak-mencak dan ngamuk sambil menunjuk ke arah Sela, ia melempar microfonnya ke arah Sela, berlari ke arahnya dan menjambak hiasan kepala yang menempel pada Sela, memaksa Sela untuk turun dan ikut bersamanya, aku dan Jepri hanya memandangi saja dari jauh, sejak di perjalanan Kak Mira memang menyuruh kami untuk tidak menghalangi, memisahkan atau membantunya jika ia marah atau mengamuk, Kak Mira dan Sela sampai harus di pisahkan oleh para tamu undangan yang hadir, benar-benar chaos, Jepri, dia malah tertawa tawa sambil merekam semua kejadian dari awal, ia bahkan masih menyimpan videonya.

Semua orang di keluarga kami mendapatkan kepuasan masing masing atas kejadian yang menimpa para pelaku, Om Abas yang puas karena mereka semua telah masuk ke dalam sel bui, Tante Anisa yang bersyukur karena telah mendapatkan keadilan untuk anaknya, Kak Mira yang menuntaskan nafsu amarahnya pada Sela, di hari pernikahannya, dan Aku, yang bersyukur karena Kak Arman telah kembali menjadi pribadinya yang seperti sedia kala, kami semua mendapatkan setitik rasa nikmat keadilan yang memuaskan.

“Udah siap?.” Tanya Jepri ketika ia melihatku keluar dari kamar, aku mengangguk.

“Tas gue mana?.” Tanyaku.

“Tuh di sofa, mau jalan kaki atau naik mobil?.”

“Jalan kaki aja gimana? Cuaca lagi bagus banget ini.”

“Boleh.” Jawabnya, ia memasukan bekal yang tadi aku masak, memasukannya ke dalam tas.

Ia mengunci pintu flat, merangkulkan tangannya pada bahuku, berjalan bersama, berjalan di sidewalk Sydney, di temani cuaca yang cerah dan indah, terang, tidak terlalu panas, sedikit berangin, sempurna, mampir membeli kopi dan melanjutkan perjalanan menuju kampus, benar, aku kini berkuliah bersama dengan Jepri di Sydney, Jepri meminta pada Ayahnya untuk memberikanku beasiswa full ride dari yayasan non-profit milik Ayahnya, membuatku berkuliah di kampus yang sama dengan Jepri tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun, tidak perlu menyewa kost karena Jepri memiliki flat di sini, flat di tengah kota Sydney, dengan ukuran yang luas, satu kamar, tapi memang luas, lagi pula, Jepri tidak mau jika harus tidur terpisah denganku.

Di tahun ini, aku, Kak Arman, Jepri, kami semua bisa dibilang mencapai target keinginan dan harapan kami, Kak Arman dengan mimpinya untuk mengikuti program sport di Italia, Aku yang bisa berkuliah, bahkan di luar negeri, dan Jepri, well, mimpi dan harapan Jepri sebenarnya sudah ia gapai semua, ia sempat bercanda bahwa mimpi dan harapannya adalah bisa selamanya denganku, mimpi dan harapan yang panjang, tapi memang sedang kami jalani, semoga saja terus selamanya begini.
Tanpa aku sadari, tanpa pernah aku berfikir sejauh ini, apa yang menjadi penghalang di hadapanku aku lewati, aku tahan semua yang mencoba untuk merubuhkan semangat dan cita-citaku, bonusnya adalah, aku memiliki Jepri haha, oh iya, Kak Mira juga ada di satu negara bersama kami, hanya beda kota saja, jadi sesekali kami berkumpul bertiga, pacarnya seorang bule, tapi mereka tidak kumpul kebo seperti aku dan Jepri, Kak Mira menyewa sebuah apartment studio sedangkan pacarnya tinggal di rumah sendiri.

Perjalanan ini begitu panjang, sempat ada dimana waktu terasa begitu lama, dan sekarang, waktu terasa bergulir begitu cepat, seperti kata pepatah, waktu yang sulit akan terasa lama, sedangkan waktu yang bahagia akan terasa begitu cepat, masih panjang perjalananku, masih banyak mimpi dan harapanku selanjutnya yang harus aku capai, ini bukanlah sebuah akhir, apa yang sudah terjadi terjadilah, jangan bersedih karena semua ini berakhir, berbahagialah karena semua ini terjadi, kisahku masih panjang, kisah kalian juga.
Ketika tidak punya apa-apa yang bisa menjadi pegangan, Ingatlah, semangat hidup manusia, indomitable human spirit yang hidup dalam jiwa kalian, mulailah, merangkaklah, berjalanlah, berlarilah, kita gapai, kita capai semua harapan dan mimpi kita, sama sepertiku, kalian yang telah membaca kisahku, mengetahui apa yang terjadi selama beberapa tahunku ke belakang, ingatlah, jangan bersedih ini berakhir, berbahagialah karena semua ini terjadi.

TAMAT.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 11, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ArmanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang