UPDATE UPDATE!!!!
Bepp, siapa yang gak sabar menunggu update hari ini???? Siapa yang nunggu keputusan Arman????
Siapa yang dukung Jepri!!!!!
Makin panas aja ini persaingan,hahaha, kita lihat siapa yang mau berjuang, anyways, selamat membaca yaaa sayangku, jangan lupa di vote dan komen, biar aku makin semangat.
Enjoy this chapter and see you di hari Minggu ❤️❤️❤️❤️❤️❤️😘
CHAPTER 42
Kak Arman turun dari badanku, mengambil tissue, mengusap dan membersihkan kontolnya, membuang tissue ke tempat sampah kecil disamping lemari, aku masih terlentang dikasur, ia mendudukkan dirinya, memakai kembali celana dalam.
“Kenapa nanya gitu?.” Ia bertanya, tatapannya lurus kedepan, ke arah ruang tengah.
“Gak ada alasan Kak, cuman pengen tahu aja.” Aku bangun dari tidurku, duduk dan bersandar pada tembok.
“Lu pengen kita punya label? Pengen kita ada kepastian?.” Aku menaikan kedua bahuku, tidak mengiyakan, tidak juga membantah, dia masih diam,beranjak menuju tas yang dia bawa, mengambil celana dan kaos yang ada ditasnya.
“Kalo gue maunya kita gini aja gimana?.” Kembali ia duduk, kali ini menghadap ke arahku.
“Gini aja gimana?.”
“Ya gini aja, gak usah pake label, gak usah ada apa-apa, yang penting lu tau gue sayang sama lu, gimana?.” Jawabnya jujur, kami saling memandang, sedikit sakit hatiku mendengarnya, bukan ini yang aku harapkan untuk didengar, aku masih diam tidak menjawab, menatap matanya lekat-lekat, pria yang sudah mengambil hatiku ini, aku kira akan lebih mudah jika kami sudah bersatu didalam persetubuhan, apakah aku bodoh? Tidak tahu juga sebenarnya, aku melakukan ini bukan karena terpaksa, aku juga yang menginginkan ini, aku tergoda dengan fisik Kak Arman, dia tidak memaksaku, seperti inikah rasanya menyimpan dan berusaha memberikan hati untuk pria straight, pria normal? Aku tidak bisa menjawab tawarannya, aku hanya menaikan kedua bahuku tidak perduli, wajahku datar, tapi jika dia tahu hatiku, ah, seperti terjatuh dengan lutut berdarah, ia bantu mengangkat tubuhku hanya untuk didorong dan dijatuhkan kembali, lebih keras.
Menurutku, akan lebih baik jika dia langsung saja bilang ‘tidak’ pada pertanyaanku tadi, lebih sakit memang, tapi sakitnya hanya saat itu saja, tidak perlu aku berlarut larut dalam sebuah hubungan yang tak pasti, tamparan keras satu kali akan lebih baik daripada usapan lembut yang disertai tamparan pelan tapi terus menerus dan tak berhenti.
“Kalo gituu..” aku membuka mulutku, masih menatapnya tajam, aku tidak tahu apakah mataku berkaca kaca saat ini, aku harap tidak, aku tidak mau Kak Arman melihatku sebagai orang yang vulnerable, lemah dan tak berdaya.
“Hmm?.”
“Kalo, Kak Arman, mau kita tetep kayak gini, aku juga mau Kak Arman ngasih aku kebebasan.”
“Maksud lu?.”
“Kak Arman kan sekarang lagi chatting dan pdkt sama Nadhifa.” Ia mengerutkan alisnya bingung.
“Ya? Apa hubungannya?.” Aku melotot terkejut.
“Apa hubungannya kakak bilang? Ya jelas ada hubungannya dong, jelas banget, aku juga mau apa yang kakak lakuin, aku mau, kakak gak usah iri sama Jepri.” Jawabku, nadaku sedikit meninggi, wajahnya semakin terlihat bingung.
“Hah?.”
“Iya, tiap kali Jepri ada usaha buat deketin aku, Kakak selalu aja ngasih halangan dan rintangan buat dia, seolah-olah kakak nggak mau aku Deket sama Jepri, tapi kakak sendiri, chatting, FaceTime, terang-terangan ngeliatin kalo kakak lagi ngejar Nadhifa, curang itu namanya kak.” Ia berdiri, tertawa satir, mengambil tissue dan bercermin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arman
RomanceBercerita tentang Adil yang sejak kecil hidup susah setelah ditinggal Ayahnya hingga ia hampir putus sekolah ketika ia SMA, sehingga mau tidak mau ia harus bersedia untuk di urus dan disekolahkan oleh orang tua angkatnya, ia kira hidupnya akan mulai...
