Ch.45 Boleh Dil ? (+21)

6.4K 192 38
                                        

UPDATE UPDATE BEPP!!!

SORRY banget aku telat update hari ini, baru pulang huhuhu, tapi masih tetep update kok.

BEP, ini chapter panas ya bep, khusus malam Jumat, buat kalian, hahaha.

Selamat membaca ya bep, jangan lupa di vote dan komen yaaa bep, biar aku makin semangat.

Siapkan tissue hahaha.

See you di malam Minggu bepp!!

❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️



CHAPTER 45
THIRD POV
Adil sengaja batuk kecil untuk menghindari rasa canggung diantara keduanya, Jepri, dengan wajah yang memerah membalikan badannya, mengambil toples kecil diatas meja, membuka satu bungkus kecil coklat dan memakannya, hening tidak ada suara, Adil diam sejenak kemudian berangsung mendekat ke arah Jepri, mengalungkan tangannya pada pundak Jepri, mereka berdua kembali saling memandang, kali ini, Adil yang memulai, ia mengecup bibir Jepri lagi, menghisap bibir bawah Jepri yang lembut dan manis, rasa coklat khas menguar dari bibir Jepri, mereka kembali berciuman, kali ini lebih pelan, lebih gentle, Jepri mendorong pelan tubuh Adil, melepaskan ciuman mereka.
“Coklat gue bikin kagok!.” Ujarnya, Jepri mengeluarkan bulatan coklat dari mulutnya, melemparkannya masuk kedalam tong sampah, Jepri langsung menerkam bibir Adil lagi, dalam pergulatan bibir itu, Adil sedikit terkekeh melihat tingkah Jepri.
Tidak terasa, tubuh Adil sudah terlentang diatas kasur, direbahkan oleh pria yang kini berada diatas tubuhnya, tangan Jepri mengusap rambut Adil, melepaskan pagutannya.
“Boleh Dil?.” Tanya Jepri, Adil mengangguk, kali ini Jepri menciumi leher Adil, mengecup singkat pada beberapa titik, tangan Adil melingkar di leher Jepri, memejamkan mata, merasakan geli geli hangat dari setiap sentuhan bibir Jepri.
“Lu capek nggak?.” Adil mengangguk.
“Kalo gitu nggak usah Dil, nanti aja.” Jepri hendak turun dan melepaskan himpitannya pada tubuh Adil hingga kemudian Adil menarik kembali tubuh Jepri.
“Nggak usah apa? Udah nanggung, ini kasian.” Tangan Adil mengusap daerah selangkangan Jepri, setengah tegang dan hangat, kembali wajah Jepri memerah, ia mengangguk setuju, kembali dalam aksi, mengambil alih dominasi, tangan Jepri menaikan kaos yang dipakai Adil, membukanya hingga terlepas, membuat badan Adil bagian atas terekspos sepenuhnya, udara dingin dari AC yang menyala menerpa tubuh Adil, sedikit merinding dia.
Adil tidak mau kalah, ia juga menarik baju Jepri, memaksa Jepri untuk sama-sama membukanya, membuat mereka kini sudah sama-sama bertelanjang dada, tangan kasar Jepri mengusap perut rata Adil, menyusuri setiap lekuk dan tekstur perut Adil, kembali merinding Adil kegelian, kekehan kecil terdengar, tangan Jepri semakin naik ke atas, hingga berhenti tepat didada sebelah kiri Adil, telapak tangan itu mengusap lembut, memberikan rangsangan secara perlahan, menyentuh daging kecil didada Adil yang menonjol, reflek Adil menahan nafas dan memejamkan matanya, kegelian dan kaget.
“Ssshhh!.” Desis Adil, tangan Jepri berhenti bergerak, Adil membuka matanya, menatap ke arah Jepri yang sedang menatapnya.
“Kenapa?.” Tanya Adil.
“Lanjut?.” Jepri malah balik bertanya, anggukan kencang yang menjadi jawaban dari Adil, dua tangan Jepri kini yang bergerak, mengusap dada Adil dari dua arah, seperti gemas dan tak bisa menahan intrusive thought nya, Jepri mencubit daging kecil di dada Adil, membuat sang pemilik menjerit kecil dan mendesah, senyuman lebar terpasang di wajah Jepri, ia mengusap lembut bekas cubitannya, wajahnya ia dekatkan pada daging daging kecil yang menonjol tadi, lidahnya menjulur, mulai menjilati mereka bergantian, kiri dan kanan, tangan Adil bergerak, meremas rambut ikal Jepri, Jepri melepaskan hisapannya pada puting Adil, menatap wajah Adil yang sayu dan setengah terpejam, ia memberikan senyuman paling manis kepada Adil.
“Enak?.” Tanya Jepri, Adil hanya bisa mengangguk, Jepri kembali mengerjakan tugasnya, entah berapa lama, tapi yang pasti, kini Jepri dengan lihainya telah mampu membuat semua kain yang menempel pada tubuh Adil terlepas semua, begitu juga dengannya, mereka kini sama sama bertelanjang polos bak bayi baru lahir.
Adil sudah merasa puas, dadanya sudah memerah dan pegal, ia mendorong tubuh Jepri, giliran dia yang berada diatas tubuh Jepri, mengecup singkat bibir Jepri, tangannya menggerayangi seluruh tubuh pria dibawahnya, dada bidang, perut dengan Abs yang kentara, segaris rambut halus yang terus memanjang hingga ke selangkangan, tangan Adil merasakan hangatnya tubuh Jepri.
Jepri hanya bisa setengah terlentang pasarahh, ia tidak akan protes, bisa mencium Adil saja sudah menjadi kemenangan besar baginya, apalagi seperti ini, sudah seperti dewa saja ia merasa.
Badan Adil semakin turun, ia duduk diantara kaki Jepri yang terbuka, menatap ke arah benda pusaka Jepri, setengah tegang dengan gagahnya, baru sadar Adil, meskipun tampilan Jepri hampir menyerupai bule, tapi penisnya tidak secerah pria kaukasian, coklat terang kemerahan dibagian kepala dengan batang yang agak sedikit gelap, untuk masalah ukuran, tidak perlu dibahas lagi.
Cairan bening diujung lubang kepala penis Jepri, ibu jari Adil menyentuh cairan itu, lengket, ia ratakan di seluruh kepala penis Jepri, sang pemilik benda memejamkan mata sambil menjilat bibirnya basah, mulai menikmati permainan yang tengah mereka lakukan.
“Boleh Jep?.” Tanya Adil, Jepri membuka matanya, mengangguk sambil mengusap pipi Adil, senyuman lebar di bibir Adil terbentuk.
Memasukan kepala benda setengah tegang itu kedalam mulutnya, tidak terasa apapun, tidak ada rasa, hanya kesat saja, artinya Jepri menjaga kebersihannya dengan benar, hingga kemudian cairan bening itu menetes dilidah Adil, barulah terasa, asin yang khas, pekat dan sedikit pahit diujung tenggorokan.
“nghhh!.” Jepri mendesah pelan ketika dengan paksa Adil memasukan seluruh batang miliknya kedalam mulut kecil Adil. Entahlah, sepertinya Adil sangat ingin memuaskan diri Jepri, karena sangat terlihat bahwa Adil begitu berusaha, meskipun dengan mata merah dan urat di lehernya menegang, berusaha sekuat tenaga memasukan penis Jepri seluruhnya, meski beberapa kali hampir tersedak, ia berhasil mencapai ujung batang itu, hidungnya bersentuhan dengan rambut rambut kasar dibawah perut Jepri.
Jepri duduk dengan cepat, memegang kepala Adil, mengeluarkan penisnya dari mulut Adil, mereka saling memandang, mata merah dan berair milik Adil menatap Jepri dengan tatapan sayu, Jepri mengusap sedikit air mata dari wajah Adil, membersihkan ludah dari sekitar area bibir Adil.
“Jangan dipaksa Dil.” Ujar Jepri.
“Gue yang mau Jep.” Balasnya, Jepri terkekeh, membiarkan Adil kembali melakukan apa yang ia inginkan, lebih dari lima menit bibir Adil bermain diselangkangan Jepri, mengecup paha dalam Jepri, menghirup dan mencium rambut rambut kasar diselangkangan Jepri, memberikan kecupan pada setiap titik dipenis Jepri, ahh tentu saja, dua buah bola berkulit yang menggantung besar, wadah yang menampung cairan pemberi kehidupan, tidak luput dari sentuhan, pijatan, jilatan serta endusan yang dilakukan oleh Adil, Jepri hanya membuka dan menutup mata sambil sesekali mendesah mendesis kecil.
Benda pusaka Jepri sudah begitu keras, tegak dengan begitu gagahnya, tubuhnya panas dan berdesir, semakin bernafsu ia ketika melihat tubuh Adil yang meliuk, sedikit menungging dengan wajah terbenam di selangkangannya, tidak sabar, Jepri menghentikan aksi Adil, ia kembali merebahkan tubuh kecil Adil, mencumbu bibirnya, tidak perduli jika mulut yang ia kecup dan cumbu itu telah bersentuhan dengan selangkangannya sendiri.
Kecupannya menurun dengan cepat, dada Adil dikecup, kiri dan kanan, perut Adil, kedua pahanya, paha bagian dalam lalu mengangkat kaki Adil ke atas, menujukan sebuah pintu kecil yang akan membawanya kedalam kenikmatan.
Tanpa rasa jijik dan ragu, Jepri menciumi daging pantat bulat milik Adil, menggigit besar dengan gemas, tangannya meremas gemas sambil membuka lebih lebar, bibirnya bergerak mengecup pintu kecil itu, agak sedikit kemerahan, Adil mengerang, masih ada rasa sakit dan perih disana, bekas kegiatannya dengan Arman kemarin, tapi kecupan bibir Jepri disana seperti obat, mampu mengurangi rasa sakit yang Adil rasakan, semakin kaget ketika Adil merasa ada daging hangat dan basah yang menjilati pintunya, lubang kecil kemerahan itu merasa kegelian ketika lidah Jepri menyusuri setiap lekuknya, tangan Adil menjambak pelan rambut Jepri.
Bak melakukan frenchKiss dengan lubang milik Adil, begitu passionate dan penuh gairah, Jepri memperlakukan lubang itu bak bibir lembut, mencumbu, menjilat bahkan sesekali menghisapnya, basah sekali lubang Adil, ada lebih dari tiga menit Jepri beraksi disana, ia menyudahi kegiatannya, memandang Adil sambil mengecupnya singkat.
“Yakin Dil?.” Tanya Jepri, Adil mengusap wajah Jepri lembut, mengangguk sambil tersenyum, mempersilahkan benda tumpul milik Jepri untuk menekan, perlahan, pelan dan tanpa keraguan, kepala penis itu mulai masuk, sedikit demi sedikit hingga seluruh kepala penis itu terbenam, adil meringis dan sedikit menggeram menahan rasa sakit dan perih, meskipun sudah pernah dimasuki tapi tetap saja, apalagi milik Jepri lebih besar dan tebal dibanding milik Arman.
Keringat membasahi tubuh dan kening Adil, perjuangannya setelah menahan rasa sakit, ngilu dan nyeri di lubang dan perutnya.
Jepri menghentikan tekanannya, menunggu Adil membuka matanya, melihat untuk kembali mempertanyakan keyakinan Adil untuk lanjut atau berhenti saja.
“Lanjut Jep!.” Titah Adil meski dengan wajah meringis, sebenarnya Jepri tidak tega, tapi Adil begitu memaksa yang membuat Jepri juga tidak sanggup untuk menolaknya, pinggangnya ia terus tekan hingga setengah batangnya masuk, pantat Adil bereaksi, mengejang dan memijat batang Jepri, membuat Jepri meringis merasakan himpitan kuat, menjepit dan sempit, ia menggigit bibirnya sendiri, berusaha menahan agar dirinya tidak ejakulasi terlalu dini, akan sangat memalukan jika benar demikian.
Setelah bersusah payah, berkeringat basah, akhirnya seluruh batang Jepri masuk, menunggu selama beberapa saat hingga Adil terbiasa, barulah setelahnya ia mulai memompa, menggerakkan pinggangnya maju mundur, menarik dan mendorong organ reproduksinya keluar masuk didalam lubang kecil Adil.
Dilain sisi, Adil yang tadi bersusah payah menahan nyeri, kini dibayar tunai oleh kenikmatan, meski memang masih ada rasa ngilu dan sedikit nyeri, tapi kegelian dan rasa aneh yang ia kemarin rasakan kembali kini ia rasakan, hadir memberikannya kupu kupu yang berterbangan didalam perutnya, apalagi ketika Jepri dengan sengaja menekan batangnya hingga habis sepenuhnya, mata Adil hingga berkunang kunang, pahanya bergetar, dari penisnya tersembur cairan putih kental, membasahi perutnya sendiri, tangan Adil menarik tubuh Jepri, memeluk dan mencakar punggung Jepri pelan, rasa nikmat yang ia rasakan tidak bisa dibendung, ia melepaskannya, ingin membaginya dengan Jepri lewat pelukan dan cakaran.
Jepri tersenyum bangga karena bisa membuat Adil keluar terlebih dulu, ia mengusap rambut Adil, mengecup kening dan pipinya, pinggangnya kembali bergerak, tidak pernah ada kenaikan kecepatan, konstan dengan pompaan yang pelan dan dalam, ia tidak ingin dan berusaha membuat Adil tidak kesakitan.
Lama sekali pergulatan mereka, Jepri yang pintar mengontrol nafsunya, mampu berhenti ketika dirasa ia hendak meledak, lanjut ketika sudah tenang, serasa dipermainkan diri Adil, sudah tiga kali penis Adil menyemburkan cairan kenikmatan, 3-0 kalah dari Jepri, barulah di menit ke dua puluh, Jepri sudah tidak ingin menahan lagi, ia sudah sadar bahwa Adil sudah mulai kewalahan, pria dihadapannya sudah terkapar penuh keringat, mata terpejam dan mulut terbuka, kini, Jepri dengan gerakan yang pelan dan dalam, terus memompa hingga kemudian ia merasakan sesuatu yang dari tadi hendak datang, kali ini tidak akan ia tahan, ia memeluk tubuh Adil erat, menekan seluruh miliknya dalam dalam, badan Jepri menegang, mengejang dan bergetar, urat urat ditubuhnya menonjol, ia menggeram kencang dan semburan demi semburan menyembur dari ujung benda pusakanya, hangat, kental dan banyak, masuk seluruhnya didalam tubuh Adil, membanjiri bagian bawah Adil, tangan Adil mengusap lembut punggung Jepri, memberikannya support dan ketenangan pada pria yang masih bergetar diatas tubuhnya.
Mereka berpelukan, nafas mereka sudah kembali tenang, Jepri memandang wajah Adil sambil tersenyum, ia mengecup lembut dan dalam bibir Adil, kembali saling memeluk selama beberapa saat, Jepri mencabut penisnya, berjalan mengambil lap dan tissue, membersihkan bagian bawah Adil, mengambil minum lalu memberikannya kepada Adil, membantu Adil duduk dan bersandar dikasur.
“Jep!.” Panggil Adil, Jepri membuka jendela kamarnya, mematikan AC lalu menyalakan rokok, mendengar panggilan Adil, Jepri naik kembali ke atas kasur dan duduk dihadapan Adil.
“Kenapa hmmm?.” Tanya Jepri, ia memijat kaki Adil lembut.
“L-lu, cinta nggak sama gue?.” Tanya Adil, wajah Jepri berubah, agak sedikit kaget mendengar pertanyaan Adil, ia menghisap rokoknya, menatap Adil dalam dalam.
“G-gue..”
“Jangan dijawab Jep, gue udah tahu jawabannya.” Ucap Adil, ia melihat reaksi yang sama dari wajah Jepri, sama seperti saat ia bertanya seperti itu kepada Arman, Adil beringsut turun dari kasur, meski dengan jalan yang pincang karena rasa sakit di bagian belakangnya, ia memakai pakaiannya kembali, ia berfikir, setelah apa yang ia berikan kepada dua orang pria yang ia cinta, apakah hanya reaksi yang sama yang ia dapatkan, apa ia tidak berhak atas sebuah cinta? Apa ia tidak berhak? Atau ia memang tidak pantas.
“Dil! Hei!.” Panggil Jepri, ia berdiri, menarik tangan Adil.
“Gue mau pulang Jep!.” Ujarnya.
“Dengerin gue dulu!.”
“Nggak usah, gue tahu, gue gak pantes buat dapet cinta lu, siapa gue, gue emang pantesnya jadi bahan eksperimen aja, jadi pemuas nafsu doang!.” Ujar Adil, matanya sudah berair, ia merasa sakit hati, jika tahu akhirnya seperti ini, lantas, apa maksud Jepri yang selalu memberikan sinyal sinyal, apa itu semua hanya kepalsuan? Harapan besar yang Adil miliki, ah, sudah lah, ia ingin pulang saja.
“G-gue takut lu gak siap Dil! Gue cinta sama lu! Gue mau lu Cuma jadi milik gue, Cuma buat gue doang! Tapi gue takut lu gak mau Dil!.” Mendengar ucapan Jepri, Adil mendadak berhenti bergerak, ia menurunkan kembali baju yang belum ia pakai, berbalik badan menatap Jepri dengan mata basahnya, bibirnya bergetar, tangan Jepri mengusap Air mata dipipi Adil, tersenyum lembut.
“Dil, lu mau jadi pacar gue?.” Tanya Jepri pelan dengan senyuman lebar, Adil terisak pelan, matanya kabur, tapi pendengarannya begitu jelas dan jernih, seperti mimpi, Jepri, menyatakan cintanya pada Adil, dengan lemah, Adil mengangguk.
“I-iya Jep, gue mau, gue mau jadi pacar lu!.” Jawab Adil dengan serak terisak, Jepri menarik Adil kedalam pelukannya, Adil tersenyum lebar, kali ini ia berhasil, setelah memberikan segalanya, ia kini mendapatkan apa yang ia inginkan, bukan keraguan raguan, bukan kepalsuan, bukan juga penolakan, tapi permintaan, penerimaan dan kehangatan sebuah pelukan dari pria yang sama ia juga sayangi, Jepri, mereka berpelukan erat, dua hati bahagia yang kini terikat dengan status yang jelas, tanpa ada penggantungan, mereka berdua adalah sepasang kekasih, Adil dan Jepri.

ArmanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang