Jangan lupa vote sebelum baca🖤
.
.
.
Cuaca hari ini cukup gelap, Olive menghela napas panjang ketika melihat tanah yang sejak semalam atau bahkan sejak kemarin terus membasah di sana. Aroma hujan kali ini membuatnya cukup terdiam lama, mengingat kembali kenangan-kenangan yang harus ia lupakan.
Hujan adalah saksi bisu, bagaimana perjuangan Sandy menyakinkan dirinya bahwa dialah pemenang dalam hati laki-laki itu.
Namun, tidak ada lagi kata kembali dalam hubungan yang sudah Olive kubur dalam-dalam itu. Semesta sudah menentukan takdir untuknya, takdir yang mau tidak mau harus Olive terima. Laki-laki itu adalah sumber kebahagian adiknya, bagaimana pun Sandy adalah orang satu-satunya yang Adiba harapkan di dunia ini setelah perempuan itu merasa dunianya sudah hancur dengan sekitarnya.
"Olive? Udah siap, Sayang?"
Dia adalah Gibran. Laki-laki yang menerima semua sisa-sisa rasa Olive, menerima semua apa yang Olive berikan walaupun itu hanya sebesar biji debu saja. Entah bagaimana kehidupan di depan nanti, Olive harap dia bisa menerima Gibran seperti Gibran menerimanya.
Olive tersenyum, ia mengangguk ketika Gibran turun dari mobil dan menghampirinya. Tanpa rasa malu, Gibran memeluknya dengan lembut dan mengecup pelan ujung kepala Olive. "Kamu yakin mau jalan, 'kan?"
Lagi-lagi Olive hanya mengangguk. Tak berselang lama, Arnold, Ratna dan kedua adiknya keluar dari rumah sembari menyeret koper milik Olive. Gibran pun melepaskan pelukan itu dan ikut tersenyum lembut melihat Arnold, Ratna dan kedua adik Olive.
"Om," sapa Gibran sembari mencium punggung tangan Arnold dan Ratna bergantian.
"Gibran, om titip Olive di sana, yah? Jaga dia baik-baik, jangan pernah sakitin dia, Nak," ucap Arnold menarik Olive ke dalam pelukannya. "Om udah sakitin dia dari kecil, jadi om harap kamu bisa kasih dia kebahagiaan di sana, yah."
Gibran mengangguk yakin. "Iya, Om. Gibran janji."
Kini, Olive membalas pelukan Arnold dengan dalam. Matanya terpejam sambil menarik napas sesaknya, setelah beberapa menit memeluk Arnold, Olive pun bergeser ke hadapan Ratna. "Mama, makasih udah mau terima Olive di sini, Ma. Olive pamit, ya? Olive titip adek-adek Olive sama Mama, sayangi mereka ya, Ma."
"Olive, kamu ini anak mama juga, Nak. Begitu pun dengan adek-adek kamu, Sayang. Jangan khawatir, ya? Jaga kesehatanmu di sana, kabarin kalau kamu kenapa-napa."
Ratna pun memeluk tubuh Olive, mengusap naik turun punggung perempuan berambut sebahu itu. Dan terakhir, Olive bergeser ke hadapan kedua adiknya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Fatah, Reza..., Kak Olive pergi dulu, ya? Kalian jangan nakal di sini, sekolah yang bener biar kalian bisa pergi ke luar negeri kayak Kakak. Kakak janji bakal sekolahin kalian nanti kalau Kakak udah sukses di sana, yah. Turuti apa kata Mama sama Ayah, jangan pernah bolos sekolah dan jangan bantah ucapan Mama sama Ayah."
Fatah mengangguk cepat, memeluk tubuh Olive. "Kakak juga, jangan lupain kita di sini."
"Enggak, Kakak enggak bakalan lupain kalian, Sayang."
Olive menatap Reza, mengusap sayang pipi laki-laki yang memasang wajah datarnya. "Kamu Reza, jaga kesehatan kamu, yah. Jangan pernah mabuk-mabukan di sini, Kakak enggak bakalan maafin kamu kalau kamu bikin onar di sekolah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hilang
Romansa[SELESAI] 18+ Sudah tidak heran dengan pergaulan bebas, kan? Sebenarnya aku sedikit syok, apalagi dengan lingkungan baru seperti ini. Ini juga aku lakukan karena terpaksa. Jika bukan karena mamaku yang sedang butuh uang untuk keperluan sehari-hari...
