Zean mengendarai motornya dengan kecepatan penuh, membelah dinginnya udara malam yang terasa menusuk kulit. Roda motornya melaju seakan memburu waktu, memecah keheningan jalanan yang lengang. Namun, begitu pandangannya menangkap tembok pagar tinggi rumah Clara, ia memperlambat lajunya. Sepasang lampu motor menyorot gerbang besar yang megah, mengantarkan dirinya pada satu jeda singkat.
Di depan gerbang, seorang satpam setengah baya dengan seragam rapi membukakan pintu besar itu. Wajahnya menunjukkan sedikit keheranan namun penuh hormat ketika melihat siapa yang datang.
"Den Zean, apa mau masuk?" tanyanya, suaranya tenang, penuh basa-basi.
Zean hanya tersenyum tipis, pandangannya menyapu sekitar, lalu terhenti pada sebuah motor yang terparkir rapi di sudut. Pikirannya mulai runyam "Gak, saya cuma lewat," jawabnya dengan nada rendah.
"Tapi, motor yang di sana milik siapa?" Ia bertanya seraya menunjukkan lirikannya pada motor yang terparkir di depan rumah megah itu.
Satpam mengangkat bahu kecil. "Oh, kalau itu sih saya yo kurang tahu, Den. Tadi pake helm, jadi ndak kelihatan. Orang tingginya mirip aden, tak pikir sampean yang masuk, ternyata bukan." Ucapnya dengan logat Jawa yang medok.
Zean mengangguk paham, menyerap informasi itu. Tatapan matanya kembali menelusuri gerbang yang kini terbuka lebar, namun tidak ada niat untuk melangkah lebih jauh. "Makasih, Pak," ucapnya singkat, suaranya terdengar datar. Ia segera meraih stir motornya, bersiap untuk kembali melaju.
"Loh, mau langsung pergi, toh?" tanya satpam dengan nada penasaran.
Zean berhenti sejenak, lalu menoleh. "Iya, dan tolong jangan kasih tahu Clara saya ke sini," katanya tegas, namun tetap menjaga nada sopan.
Satpam itu mengangguk paham, ekspresi wajahnya berubah serius. "Hati-hati, Den."
Tanpa menunggu lebih lama, mesin motor Zean kembali menderu. Ia melaju pergi, membelah jalanan yang masih sama dinginnya, namun kini terasa lebih sunyi. Pikirannya berkecamuk, mengenai motor. Ia mengenali desain itu, warna hitam legam berpadu aksen merah, detailnya terlalu khas untuk dilupakan. Ia menggenggam erat stang motor, seolah menyalurkan emosi yang bergejolak di dadanya. Ia Membelah jalanan tanpa ampun dan berharap angin malam bisa menghapus segalanya.
♡♡♡
Pagi yang cerah, sinar matahari memantulkan kehangatan di balik jendela pesawat yang meluncur di antara lautan awan, membelah langit biru dengan jejak putih yang melukis jalur penerbangan. Di dalamnya, hiruk pikuk aktivitas remaja memenuhi kabin, obrolan dan tawa terdengar sesekali diiringi bunyi ketukan jari di keyboard laptop. Namun, ada hal yang berbeda di satu sudut, sosok yang hanyut dalam keheningan.
Satya, dengan pandangan yang tertuju pada horizon tak bertepi, membisu dalam lamunan. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya menyiratkan beban yang tak kasat mata. Ia seperti terjebak di antara langit dan bumi, pikiran yang tertinggal di satu tempat, sementara tubuhnya terbang jauh meninggalkannya.
Devan, yang duduk di sebelahnya, akhirnya menyadari keanehan itu. Tatapannya penuh heran, ia mengalihkan pandangan dari layar laptop ke Satya, memecah kesunyian dengan panggilan pelan, “Sat.” Namun, pemuda itu tak merespon. Lamunannya begitu dalam, hingga suara Devan tak mampu mencapainya.
"Sat, Satya," panggilan itu mengeras, hingga akhirnya memecah tembok khayal yang membungkus Satya. Ia menoleh, raut wajahnya menyiratkan keterkejutan, seperti baru saja ditarik kembali ke dunia nyata.
“Lo ngelamun? Lo baik-baik aja? Apa yang Lo pikirin?” tanya Devan dengan nada khawatir, rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja.
Satya tersenyum tipis, terlalu cepat untuk terlihat tulus. "Enggak ada, Bang. Gue gak papa," jawabnya singkat, seperti mencoba mengakhiri percakapan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
NYCTOPHILIAC
Teen Fiction⚠️MENOLAK PLAGIAT⚠️ Zean Drayn Lorenzo seorang pemuda berdarah dingin yang dipertemukan dengan Clara Avza Edward, gadis cantik yang hatinya telah hancur. Pertemuan yang tidak tepat membuat mereka saling membenci. Hingga Zean memutar keadaan setelah...
