40. Bergemuruh

182 3 0
                                        

Di sebuah rumah mewah yang tenang, cahaya matahari pagi mengintip dari sela-sela tirai yang berayun lembut oleh angin. Nisa, gadis dengan rambut biru pirang di ujungnya, telah siap dengan seragam sekolah yang rapi. Tas tersandang di punggung, sepatu mengkilap mengetuk pelan lantai saat ia melangkah menuju ruang tamu.

Di sana, Varel duduk dengan santai di atas sofa, mengenakan kaus hitam polos. Pemuda itu tak memperlihatkan tanda-tanda kesibukan. Ponselnya di genggaman, sementara matanya terpaku pada layar, seolah mengabaikan dunia di sekitarnya. Hari sekolahnya yang seharusnya sibuk tampak tak berarti baginya. Wajahnya tetap datar, pandangannya dingin.

"El, kamu belum ganti baju? Gak mau berangkat sekolah?" tanya Nisa, suaranya lembut, meski sedikit cemas.

Namun Varel tak menanggapi, seolah tak mendengar. Jari-jarinya terus sibuk di layar ponsel, duduk dengan punggung bersandar santai pada sofa.

"El," panggil Nisa lagi, suaranya lebih tegas.

Tak ada jawaban, hanya keheningan yang kian menyergap. Wajah Varel tetap tak berubah, dingin dan tak peduli. Nisa menghela napas pelan, sedikit gusar, namun ia mencoba menahan emosi.

"El, aku bicara sama kamu!" desaknya, suaranya kini sarat dengan campuran kekhawatiran dan frustrasi.

Tetap tak ada reaksi. Hati Nisa mulai terasa berat, ia menggigit bibirnya pelan, berusaha mengendalikan perasaannya. "El... kamu masih marah? Aku kan udah minta maaf," lirihnya, nada suara mulai merendah. "Kamu juga yang gak mau dengerin penjelasan aku..."

Namun Varel tetap membisu, diam seribu bahasa, wajahnya nyaris tak menunjukkan kehidupan.

"El jangan diem aja!" Kesal, suara Nisa terdengar putus asa.

Keheningan kembali menyelimuti, hanya suara langkah pelan Nisa yang akhirnya menyerah. "Yaudah, aku berangkat sendiri, kalo kamu gak mau berangkat terserah!" Putusnya sebelum mulai melangkah menjauh.

Akan tetapi tiba-tiba, suara dingin dari arah belakang menghentikan gerakannya. "Diam di sana." Varel berdiri, masih dengan ekspresi datar dan sikap dinginnya yang tak berubah.

Nisa menghela napas berat, seolah paham apa yang diperintahkan. Meskipun setengah tak percaya. Ia menunggu dengan perasaan bercampur aduk, menatap Varel yang perlahan melangkah ke kamarnya. Beberapa menit kemudian, pemuda itu kembali dengan seragam sekolah yang dikenakan asal-asalan. Dasi hilang entah ke mana, kemeja dikeluarkan, seolah tak peduli pada kerapian. Nisa hanya bisa menggeleng.

"El, dengerin aku sebentar," Nisa memulai, suaranya lembut, nyaris memohon. "Kemarin itu, Vita gak-"

"Anattha!" Tak dapat menyelesaikan penjelasannya Varel lebih dulu menyebut namanya dengan nada tajam yang jarang keluar dari mulutnya. "Aku diem dari tadi karena gak mau makin marah sama kamu!" Sorot matanya dingin, menusuk, dan penuh ketidakpedulian. "Jangan mancing emosi orang lain. Berhenti bicara soal cewek itu. Paham?!"

Nisa tercekat, dadanya sesak mendengar nada tegas itu, namun ia tetap mencoba mempertahankan diri. "Aku cuma mau jelasin, El... Kamu gak tau yang sebenarnya. Kamu gak kasih aku kesempatan buat bicara. Itu semua salah paham!" Frustasi, ia mencoba menjelaskan tapi tak diberi kesempatan.

Varel membuang pandangannya, seakan tak mau mendengarkan lagi. "Aku cuma minta kamu diem, apa susahnya?" Ucapannya penuh kejengkelan yang mendidih di bawah permukaan. "Aku muak sama pembahasan kamu. Kita satu rumah, bisa gak, berhenti ngomongin orang lain?" Nadanya meninggi memperjelas emosi.

"Kamu nyalahin aku, El? Kalau kamu gak suka, bilang. Aku bisa pergi dari rumah kamu. Kamu gak mau denger penjelasan aku, kamu ngerasa keganggu, oke... Aku akan keluar dari rumah kamu, aku bisa—"

NYCTOPHILIACCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang