Di sebuah gedung tua yang berdiri angkuh, diselimuti tumbuhan merambat pada dindingnya, serta cat yang mulai mengelupas. Aroma debu menyatu dengan udara lembap, mempertegas aura mistis yang membungkus bangunan itu. Tiga remaja melangkah masuk, terasa dingin dan begitu sunyi. Tatapan mereka liar, menjelajah setiap celah ruangan yang dipenuhi bayangan. Rasa penasaran berbaur dengan was-was, menelusuri sudut demi sudut.
Langkah kaki menggema di lorong sempit, membangunkan insting hewan-hewan kecil yang bersembunyi di balik reruntuhan. Dari celah tembok yang retak, seekor tikus kecil menyelinap keluar, matanya berkilat memantulkan cahaya redup yang masuk dari jendela berdebu.
"Aaaa kecoa, eh! Tikus arghh!" Teriakan Doni melengking, tubuhnya reflek mundur menghindari si tikus yang melesat ke sudut gelap.
Raka menoleh cepat, alisnya menaut, menahan gemas sekaligus geli
"Astaghfirullah bang! Badan aje yang besar, sama tikus aja takut!" Nada suaranya terdengar setengah kesal, setengah menertawakan.
Alis Doni menaut, menoleh menatap Raka tajam. "Apa! Gue gak takut, tadi cuma kaget aja ya!" Serunya tidak terima.
"Halah, malu kan lo!" Raka mencibir, ekspresinya begitu blak-blakan. Seolah tak peduli pada harga diri temannya yang baru saja tercoreng.
"Dih, kagak kali!" Doni mendengus, mencoba bersikap tegar meski nada ketusnya terdengar sedikit goyah.
Laura yang sedari tadi menahan tawa, tiba-tiba mendekat dengan ekspresi jahil. Bibirnya tersenyum tipis, penuh rencana. "Doni awas, kecoa!" Telunjuknya mengarah ke lantai.
"Arghh! Dimana, dimana?!"
Reflek Doni langsung mundur, melompati kaki bergantian, matanya liar menatap ke bawah. Reaksi itu begitu alami hingga membuat Raka dan Laura tak bisa lagi menahan diri.
"Pfttt..."
"Bwahahaha!"
Tawa mereka meledak, bergema di antara dinding-dinding usang.
"Kalian..." Geram Doni, rahangnya mengatup menahan kesal.
"Becanda sayang, maaf." Laura tersenyum manis, seolah tak berdosa. Matanya berbinar penuh kenakalan.
Doni mendengus berat, memilih mengabaikan. "Udahlah, ayo fokus!"
Suasana kembali serius. Mereka berpencar, menjelajahi setiap ruangan yang terasa semakin mencekam. Debu-debu beterbangan saat pintu tua berderit dibuka. Cahaya matahari yang menerobos dari sela jendela pecah menambah kesan kelam di dalam gedung.
Doni mulai memeriksa tumpukan dokumen usang di salah satu meja. Jari-jarinya yang terbungkus sarung tangan bergerak teliti, memilah satu per satu. Kebanyakan hanya kertas-kertas tak berguna, hingga akhirnya...
Matanya terpaku pada sebuah dokumen berwarna kebiruan pudar. Ia membuka lalu membacanya. " Catatan pembelian, Biodata, jenis Obat-obatan, Narkoba? gila" Doni menelan ludah, menahan debar jantung yang tiba-tiba berpacu lebih cepat. Namun sebelum ia sempat meneliti lebih jauh tiba-tiba seseorang berteriak.
"Aaaaaa!"
Teriakan Laura melengking, memecah konsentrasinya.
"Laura?" Doni mendongak, napasnya tertahan. Tanpa pikir panjang, ia meninggalkan berkas itu dan bergegas keluar mencari keberadaan Laura.
"Laura?!" Seruan Doni terdengar khawatir.
"Ada apa ?!" Raka juga datang dengan wajah panik
Laura berlari ke pelukan Doni, tubuhnya gemetar. Jemarinya menunjuk ke sudut ruangan. "Itu... di sana..." bisiknya lirih dengan wajah pucat.
KAMU SEDANG MEMBACA
NYCTOPHILIAC
Teen Fiction⚠️MENOLAK PLAGIAT⚠️ Zean Drayn Lorenzo seorang pemuda berdarah dingin yang dipertemukan dengan Clara Avza Edward, gadis cantik yang hatinya telah hancur. Pertemuan yang tidak tepat membuat mereka saling membenci. Hingga Zean memutar keadaan setelah...
