45. Kebetulan

205 5 0
                                        


Ada cinta, yang tak pernah sempat menjadi kata...
Ada rindu yang memilih bisu, lalu berlalu...

Dan memilikimu...
Adalah ketidakmampuan yang ingin ku paksakan...

♡♡♡

Suasana di dalam pusat perbelanjaan begitu ramai. Lantunan musik instrumen lembut mengalun dari pengeras suara, berpadu dengan suara langkah-langkah pengunjung yang berlalu-lalang. Lampu-lampu kristal di langit-langit memancarkan cahaya hangat, menciptakan suasana nyaman di setiap sudutnya.

Di salah satu toko mainan terbesar di mall, dua remaja tengah asyik memilih boneka. Rak-rak kayu dipenuhi berbagai jenis boneka berbulu lembut dengan aneka bentuk dan warna. Mulai dari kelinci mungil dengan telinga panjang, beruang cokelat dengan senyum menggemaskan, hingga karakter-karakter animasi terkenal yang seolah siap dipeluk kapan saja.

Clara menggenggam sebuah boneka, menimbang-nimbangnya di tangan sebelum menoleh ke arah temannya, Rey, yang berdiri tak jauh darinya. Senyum jahil terulas di wajahnya. Tanpa pikir panjang, ia mengangkat boneka itu dan menunjukkannya pada Rey. “Ini lucu tau, kayak lo.”

Rey melirik boneka yang ditunjukkan Clara. Matanya membulat seketika saat melihat sosok boneka monyet berbulu cokelat dengan ekspresi konyol.

“Hei! Enak aja gue disamain sama monyet!” protesnya, ekspresinya berubah seolah benar-benar tersinggung, meskipun nada suaranya masih terdengar main-main.

Clara tertawa lepas, nyaris terbatuk karena geli melihat wajah kesal Rey. “Haha! Lihat tuh! Makin mirip!” godanya, sambil mengayun-ayunkan boneka itu seolah ingin menekankan kemiripan yang ia maksud.

Rey mendesah berat, menggeleng pasrah. “Duh, terserah deh! Teruntuk hari ini gue terima,” ucapnya akhirnya, menyerah untuk berdebat. Bagaimanapun, hari ini hari spesial Clara, jadi untuk kali ini saja, ia mengalah.

Gadis itu masih tersenyum puas, lalu kembali menelusuri rak, pandangannya tertuju pada boneka lain. “Hmm… Gue mau yang ini,” katanya antusias, menunjuk seekor boneka kelinci berwarna abu-abu dengan perut putih lembut.

Rey mengangguk tanpa pikir panjang. “Ambil yang lo mau. Jangan cuma satu,” ucapnya, memberi izin tanpa ragu.

Clara menoleh sambil menyipitkan mata curiga. “Harusnya lo ajak Nay sama Vita juga. Mereka kan yang paling suka ngabisin duit lo,” katanya sambil terkekeh.

Rey mengangkat bahu santai. “Oh, gue udah suruh Vita ke sini kok. Tapi kalo Nay, dia bilang gak bisa.”

“Hah! Serius?” Clara mengerutkan kening. “Terus Vita di mana sekarang?” tanyanya, matanya mulai mencari-cari sosok temannya itu di sekitar toko.

“Dia bilang mau cari sesuatu dulu, nanti nyusul ke sini,” jawab Rey dengan nada santai.

Clara mendesah, lalu melipat tangan di dada dengan ekspresi sebal. “Kenapa lo gak kasih tahu gue?” omelnya, merasa sedikit kesal karena tidak diberi kabar lebih awal.

Rey menggaruk tengkuknya, senyumnya mengembang canggung. “Hehe… Gue lupa,” katanya polos, memperlihatkan deretan giginya dalam seringai kecil.

♡♡♡

Sebuah mobil mewah berhenti perlahan di parkiran gedung pusat pembelajaran. Bodinya berkilau akibat pantulan sinar matahari pada kendaraan itu, menarik perhatian beberapa orang yang kebetulan melintas. Tidak banyak yang memiliki mobil seperti ini di kota mereka, dan siapa pun pemiliknya pasti bukan orang sembarangan.

Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok pemuda berbalut jaket hitam yang turun dengan gerakan tenang. Masker menutupi sebagian besar wajahnya, tak lupa dengan topi dan kacamata hitam yang dikenakan. Meski begitu, ada aura khas yang terpancar dari dirinya, sadar tidak sadar sekeliling mulai memperhatikan.

NYCTOPHILIACCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang