⚠️MENOLAK PLAGIAT⚠️
Zean Drayn Lorenzo seorang pemuda berdarah dingin yang dipertemukan dengan Clara Avza Edward, gadis cantik yang hatinya telah hancur.
Pertemuan yang tidak tepat membuat mereka saling membenci. Hingga Zean memutar keadaan setelah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
H A P P Y R E A D I N G
◍◍◍
Hujan turun perlahan, seolah langit sedang menumpahkan sisa rasa yang enggan usai. Tetes-tetesnya jatuh seperti bisikan kecil dari awan yang lelah menangis, menciptakan riak-riak halus di permukaan tanah. Udara mengandung aroma tanah basah dan udara dingin yang menyelinap masuk ke pori-pori kulit.
Di bawah naungan teras rumah yang sepi dan hangat, dua remaja berjalan berdampingan. Jejak langkah mereka bersisian. Tempat itu cukup baik untuk berlindung dari rinai hujan, sekaligus memberi mereka ruang untuk berbicara tanpa tergesa. Tempat yang terasa seperti semesta kecil milik mereka berdua.
Sesekali, tatapan mereka bertemu, lalu cepat-cepat teralihkan. Ada malu yang belum luruh, menggantung di antara keduanya seperti kabut tipis yang belum tersibak.
Kulit tangan keduanya hampir bersentuhan, jarak tipis itu seolah menciptakan aliran listrik yang tak kasatmata. Udara di antara mereka mendadak terasa lebih rapat, seolah semesta sengaja memperlambat detik-detik yang berlalu.
Namun, tepat sebelum sentuhan itu benar-benar terjadi, Clara buru-buru menarik tangannya ke belakang. Gerakannya gugup, pipinya menghangat, dan ia pura-pura memperbaiki ujung rambut yang tak perlu dibenahi, hanya untuk menyembunyikan kegugupan yang pelan menyelimuti dirinya.
Zean sempat melirik, sudut bibirnya melengkung dalam senyum kecil yang samar, ia paham betul arti dari gerakan gugup itu, dan diam-diam menyukainya.
Clara menyembunyikan tangannya di balik punggung, dan melangkah lebih cepat, menyembunyikan keraguan di balik langkah ringan yang dipaksakan. Namun, siapa sangka jika Clara tiba-tiba berhenti.
Nyaris saja Zean menabrak tubuh gadis itu jika tidak berhenti melangkah, beruntung dia cepat menyadari pergerakan Clara. Gadis yang sebelumnya membelakangi Zean itu kini berbalik menghadapnya. Tatapan mereka bersua, dan sejenak waktu terasa menahan napasnya.
“Kenapa?” tanya Zean pelan, suaranya tenang namun ada perasaan waspada.
“Lo gak lagi main-main kan Zean?” tanya Clara. Mata gadis itu menatap Zean dengan serius.
Zean menghela napas, menahan gejolak yang menyeruak di dada. Merasa kecewa, karena semua ini hanya terlihat seperti candaan bagi Clara. Dia masih diam, enggan untuk menjawab. Namun tatapan Clara yang terus menatapnya seperti mengharapkan sesuatu, membuat Zean akhirnya bersuara.
“Clara, apa wajah gue terlihat seperti lelucon?” kata Zean. Ada nada kesal yang nyaris tak terdengar, tertahan dalam kalimatnya.
“Bukan, bukan Itu…” Clara buru-buru menjawab, namun kata-katanya terhenti. Ia menunduk sedikit, menyadari nada suara Zean barusan berubah.
“Maaf, gue terlalu takut kehilangan lo sampai terjebak dengan pikiran gue sendiri, maaf udah sengaja menghindari lo selama ini...” lanjutnya dengan suara lirih. Bahunya sedikit merosot, menunjukkan beban yang ia lepaskan.