46. Ditolak

309 5 0
                                        

Katanya,
Senja adalah panorama indah yang menyita setiap mata.

Katanya,
Senja membawa ketenangan di balik kerinduan yang tak dapat diutarakan.

Nyatanya...
Senja tak lebih dari keindahan sesaat.
Tak lebih dari pertemuan singkat,
Ada hanya ketika hari menjelang gelap.

Senja katanya?
Apakah kehadiranku hanya sekedar senja untukmu?
Atau, diriku hanyalah awan mendung yang tidak berarti apa-apa?

Senja katanya? Apakah kehadiranku hanya sekedar senja untukmu? Atau, diriku hanyalah awan mendung yang tidak berarti apa-apa?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

- H A P P Y R E A D I N G -

◍◍◍

Gerbang tinggi terbuka lebar, dua mobil hitam tampak melaju pelan dan berhenti beriringan di halaman depan yang luas. Suara mesin yang baru dimatikan membelah kesunyian sore itu.

Clara yang mendengar suara mobil dari balik jendela segera bergegas menuruni tangga. Langkahnya cepat, terburu-buru. Tanpa ragu, ia membuka pintu utama dengan cemas yang berubah menjadi haru begitu melihat siapa yang turun dari dalam mobil.

"Papa! Mama!" serunya lantang, penuh kerinduan. Suaranya melengking seiring langkah panjang yang dilayangkannya menuju kedua orang tuanya.

Clara memeluk kedua orang tuanya, yang juga dibalas dekapan hangat oleh mereka. Sama sama saling melepas rindu atas ketidak jumpaan yang sudah sekian lama.

Luna mencium pipi anaknya dengan lembut, menyalurkan rasa sayang yang selama ini terhalang oleh waktu dan tempat. Edward pun sama, ia mencium puncak kepala anaknya dengan sorot yang memancarkan kerinduan terhadap satu satunya putri yang sangat ia cintai.

Clara masih terus memeluk, tidak ingin melepas sedetikpun. Perasaan rindu yang dia pendam belum tercurahkan sepenuhnya. Matanya sudah berkaca-kaca, bahunya naik turun menahan tangis. "Clara rindu kalian," katanya pelan, dengan suara serak dan gemetar.

Edward memejamkan mata sesaat, ikut merasakan Penderitaan yang anak perempuannya alami tanpa kehadiran mereka. "Kami juga, Nak," jawabnya penuh ketulusan. Tak ada yang bisa menggantikan kehadiran Clara di pelukannya.

Di saat yang sama, Cain dan Elvy yang baru saja keluar dari mobil ikut menghampiri, membiarkan diri mereka larut dalam suasana reuni keluarga yang begitu menghangatkan hati.

"Maafin Mama dan Papa, ya, sayang," ucap Luna sambil mengusap puncak kepala Clara dengan lembut. Ketiganya melepas pelukan, tapi masih saling merangkul dan mengenakan Clara selayaknya anak kecil.

Clara menggeleng kecil sambil tersenyum tipis, walau matanya masih digenangi air. "Yang terpenting sekarang, kalian di sini, itu udah cukup," jawabnya tulus.

Kedua orang tua itu tersenyum, mengusap air mata anaknya dengan penuh kasih "udah sayang, mama papa udah di sini, jangan nangis lagi." ucap Luna yang diangguki oleh Clara. Ia mengiringi gadis itu masuk dalam rumah.

NYCTOPHILIACCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang