Ada kalanya kita perlu merelakan
segala yang pernah terasa milik,
agar kita tahu,
bahwa kehilangan pun bisa mengajarkan
lebih dalam daripada memiliki.
♡♡♡
Cahaya matahari semakin terang, bersamaan dengan lampu yang menerangi ruangan, cahaya itu memantul diantara warna abu putih dinding yang baru dicat ulang. Di atas sofa, duduk seorang remaja laki-laki yang terfokus pada layar laptop, matanya menelusuk isi setiap file penting untuk diperiksa.
Sejak dinding kamarnya dicat ulang dengan warna putih abu, ruangan ini terasa lebih luas dan nyaman dipandang. Mama nya yang mengubah tanpa izin, tapi Zean tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Saat ini, ada hal-hal yang lebih penting dari sekadar cat dinding, yaitu dokumen-dokumen di layar laptopnya.
Kali ini, ia mendadak harus menjadi seorang detektif untuk mempelajari kasus-kasus penyelundupan narkoba yang terjadi beberapa tahun lalu. Kasus yang masih menggantung tanpa kejelasan. Kelompok ‘Avirgous’ katanya, mereka yang dulu menjadi anggota geng balap liar, berubah menjadi kelompok pengedar narkoba. Dan diantara orang-orang itu, ada sosok pelaku yang harus dia cari, orang yang sepantasnya di hukum atas kejahatan yang dia lakukan.
Namun, dia masih belum menemukan titik terang siapa pelaku dibalik semua itu, meskipun beberapa pelaku penyeludupan narkoba itu telah ditangkap. Akan tetapi, akar dari semua masalah itu belum ditemukan. Pelaku utamanya masih bersembunyi dibalik topeng X yang entah berada dimana. Zean masih harus mencari banyak bukti untuk menemukan sekaligus menangkap si pelaku.
Pemuda itu mendesah pelan, menatap layar dengan sorot mata tajam. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja, berpikir keras. Namun, lamunannya buyar seketika terdengar suara berat dan tegas dari luar kamar.
"Drayn! Buka pintunya!"
Zean sedikit terkejut, ia mengenali suara itu, ayahnya, Lorenzo. Nalurinya langsung memberi peringatan, waspada. Kenapa ayahnya itu harus berteriak hanya untuk meminta dibukakan pintu, bikin kesal saja.
Dengan berat, Zean menutup laptop, bangkit dari duduknya, beranjak membukakan pintu. Namun, begitu ia membukanya, hal yang tidak terduga terjadi.
Brak!
Sebuah benda besar melayang ke arahnya dengan cepat. Zean reflek mundur, tapi tetap saja buku besar itu menghantam dadanya, membuatnya terhuyung sedikit. Benda itu jatuh ke lantai, menimbulkan suara gedebuk yang cukup keras. Ia menunduk, matanya menangkap sosok buku tebal berwarna putih kebiruan, mengkilap saat terkena cahaya lampu. Pada bagian depan, tercetak logo segitiga yang tergabung, lambang khas dari ‘Diamond Class.’
Zean lansung sadar, itu rapornya.
"Mengecewakan!" Suara ayahnya menggelegar memenuhi ruangan, tajam dan penuh amarah.
Zean mengerutkan kening. Ada sesuatu yang tidak beres. Dengan cepat, ia membungkuk, meraih buku itu dari lantai, lalu membukanya. Mata elangnya segera menangkap lembaran tambahan yang terselip di dalamnya. Huruf-huruf besar yang tercetak jelas di atasnya membuat napasnya tercekat.
PIAGAM PENGHARGAAN
ZEAN DRAYN LORENZO
DIAMOND CLASS A
JUARA DUA UMUM
Zean terpaku pada kata ‘dua,’ kedua matanya menatap kertas itu dengan tidak percaya. Batinnya berseru keras. Tidak mungkin!
Zean berada di posisi kedua. Dan itu cukup untuk membuat ayahnya murka.
"Kamu dihukum, jangan bertemu geng-gengmu itu!" Suara Lorenzo kembali terdengar, nadanya dingin, tegas, dan tak terbantahkan. Tanpa menunggu respons Zean, pria itu berbalik, lalu melangkah pergi dengan amarah yang masih membara.
KAMU SEDANG MEMBACA
NYCTOPHILIAC
Teen Fiction⚠️MENOLAK PLAGIAT⚠️ Zean Drayn Lorenzo seorang pemuda berdarah dingin yang dipertemukan dengan Clara Avza Edward, gadis cantik yang hatinya telah hancur. Pertemuan yang tidak tepat membuat mereka saling membenci. Hingga Zean memutar keadaan setelah...
