🔉🔉kata lebah kecil, kakak-kakak yang baca jangan lupa klik bintang di pojok kiri ya,komen juga biar teh almi semangat nulisnya hihi😋😋
Happy reading all,hope you enjoy 😘😘
🐝🐝🐝
"Linda bilang, dia pengen ketemu Harsa." Ayung berusaha berucap tenang, walau tangannya mengepal. Rasanya emosi lelaki itu seketika naik jika membahas Linda.
"Jangan dikasih." Kata Ayah mantap. "Gak inget dia dulu mau buang Harsa?"
"Makannya, kesel Ayung juga. Mana nelpon pas lagi sama Sinar. Anaknya denger pas itu," lanjutnya sambil menghela nafas.
"Terus gimana dia?" Tanya Nila langsung.
"Gak gimana-gimana, dia bilang terserah Ayung aja. Dia bilang mau Ayung ngizinin atau ngelarang, Ayung ada hak."
"Gue jadi dia overthinking sih." Nila mengoceh. "Pantes dia bilang gitu pas ketemu." Lirihnya lagi ntah sadar atau tidak.
"Bilang apa?" Tanya Ayung.
"Dia bilang, nerima tawaran buat jadiin karyanya jadi film buat norehin prestasi baru, dia masih tetep takut kebanting sama lo, dek. Dia bilang, keluarga kita bisa oke aja nerima, tapi yang lain belum tentu. Dia, berusaha keluar dari zona nyamannya demi sama lo."
"Denger cerita lo barusan, bisa aja dia antisipasi Linda beneran balik. Seengganya, kalopun dia balik Sinar tetep punya power biar gak direndahin. Cewek lo terbiasa banget buat berdiri sendiri, Dek. Lo harus lebih effort lagi kasih perlindungan ke dianya."
Ayung mengangguk. Lagi, Sinar selangkah lebih maju memikirkan tameng untuk mereka. Sinar tidak ingin direndahkan dan tidak ingin Ayung dianggap salah memilih pasangan, jadi langkah yang ia ambil adalah memperkuat lagi pondasinya.
"Halo?"
Tak berselang lama, terdengar lantunan suara yang lembut dari arah belakang. Kepala gadis itu menyembul lucu, terlihat kikuk antara gugup dan serba salah.
"Sayang?" Ayung otomatis berdiri melihat gadis yang sedang jadi topik pembicaraan mereka ternyata ada di sana. Ia lantas melirik Nila yang menggeleng, seolah berkata 'bukan gue. '
"Bunda lupa, ngundang Sinar juga. Hehe." Ah bunda ternyata.
"Hehe, hai? Maaf yaa gak ngabarin. Ibu bilang buat kasih suprise ke Akang." Kata Sinar begitu Ayung sampai di depannya.
Tapi, Ayung tak langsung menjawab. Ia menelisik wajah Sinar yang terlihat lelah bukan main. "Are you oke?" Tanyanya langsung.
"Aman dong, yuk ah masuk. Gak enak itu ditungguin." Bisik Sinar.
Dan akhirnya, mereka berdua berjalan bersama untuk memulai acara makan malam itu.
Lagi, Sinar selangkah mendekat pada keluarga calon suaminya. Lagi, Sinar merasa bahagia karena mereka teramat baik kepadanya. Malam itu, ia paham bagaimana Bunda tak hanya lembut dalam berkata, tapi juga amat lembut saat mengurus sang suami. Pun dengan Ayah yang jenaka dan selalu banyak cerita, sehingga topik tidak pernah habis. Keduanya amat cocok, apalagi mengingat humor mereka yang sama-sama cetek. Terakhir, Sinar baru mengetahui bahwa Nila memiliki pengetahuan yang smat luas. Ia bisa dengan mudah masuk kedalam topik apapun, mirip seperti Ayah. Tapi, meski begitu anehnya Sinar tida merasa kecil saat berada di tengah keluarga itu. Sinar merasa, ia bisa menjadi dirinya sendiri. Dalam diamnya, Sinar berharap bahagia ini mampu bertahan hingga nanti.
~~~
Ayung terus melangkah mencari di mana ruang rawat Sinar. Tadi, saat ia baru keluar dari kelasnya, Ayung mendapat banyak panggilan tak terjawab dari Huba dan Purin. Lalu, ada satu pesan yang memberitahunya bahwa Sinar masuk ke IGD dan kini tengah dirawat. Demi Tuhan rasanya Ayung ingin lari saat itu juga, 2 tahun mengenalnya baru kali ini Sinat tumbang. Ia, khawatir bukan main.
Dan begitu ia sampai di kamar rawar Sinar, ia langsung masuk begitu saja. Dilihatnya Sinar yang sedang berbaring dengan selang infus di tangannya.
"Sayang."
Sinar saat itu refleks membola, ia sengaja tak memberitahu Ayung.
"Hehe, kerjaan gue sama Huba, Teh. Sorry yaa." Sinar mendelik, mau marah pun tenaganya tidak ada.
"Gue balik dulu kalo gitu ya." Purin bangkit, lalu saat ia akan berpapasan dengan Ayung ia berucap. "Titip teteh ya, Ga."
"Iya, thanks Pu."
Setelah itu, Ayung melangkah lebar untuk mendekat pada Sinar. Ia menduduki kursi yang tadi dipakai Purin. Dan tanpa Ayung tau, diam-diam Sinar merafalkan doa agar lelaki ini tak memarahinya.
"Sayang, kok bisa sampe dilariin ke IGD? Tadi kata dokter apa?" Tanya Ayung lembut. Perasaanya tentang Sinar yang terlihat lelah hari kemarin terbukti kini.
"Aku, gejala tifus hehehee." Jawab Sinar cengegesan.
"Kamu, kecapean itu. Kemarin saya tanya kamu bilang gak apa-apa."
"Iya maaf, kemarin emang gak kenap-"
"Saya tau, dari kemarin kamu gak enak badan. Pas saya pegang tangan kamu aja itu udah panas. Saya tanya berkali-kali kamu bilang gak apa-apa." Omel Ayung.
"Harusnya saya culik ke dokter kemarin," lanjutnya lagi.
"Haha aku gak apa-apa." Kata Sinar, kali ini ia mengelus pelan tangan Ayung. Berharap omelannya berhenti di situ.
"Lagian jadwal kamu emang berantakan banget akhir ini, toko lagi sibuk belum lagi kerjaan kamu sama Huba juga, kan?"
"Iya, gimana ya? Aku kira bakal aman aja."
"Cari apa coba kamu ini? Sayanya khawatir, sayanya juga suka lupa dikabarin." Dumel Ayung masih berlanjut.
"Udah dong, lagi sakit akunya, Kang."
"Kamu kalo gak diomel gak bakal denger. Saya harus lebih galak baru kamu nurut."
"Iya udah, maafin." Sinar menunduk. "Jadwal aku juga udah dikit lagi kok. Cuma sisa 2 podcast aja nantinya, jadwal sama Huba udah rampung 90% terus toko, udah aku closed P.O nya."
"Saya tanya sekali lagi, kamu cari apa? Dari waktu itu saya nanya kamu kenapa tiba-tiba acc pinangan Huba gak dijawab bener." Ucap Ayung sedikit menuntut jawaban.
"Supaya, aku gak begitu kebanting kalau suatu hari nanti kamu ke publish maju jadi penerus. Supaya setidaknya orang ga judge pilihan kamy, supaya nanti kalay someday Linda balik aku gak bisa dia remehin karena aku ada sedikit prestasi lewat karyaku, walau baru beberapa."
Ayung tidak menyangka Sinar akan langsung jujur. Tetapi ia senang saat Sinar membeberkan fakta yang sebenarnya. Setidaknya ia merasa mulai cukup dipercaya oleh Sinar.
"Habis ini, aku bakal rest kok. Aku janji, job nulis gak akan aku ambil banyak-banyak. Aku bakal tetep jadiin pekerjaan utamaku toko kue, karena kalau aku udah jadi istri, aku mau ngurus keluargaku pake tanganku sendiri. Gak apa kan ya kalo aku gak nerima semua job itu?"
"Gak apa-apa sayang, gak apa-apa. Makasih buat selalu mikirin kami, kalaupun kamu gak kerja gak apa, saya jamin bisa menuhin kebutuhan kamu."
"Bukan aku gak percaya kamu, tapi aku juga perlu tokoku, jadi izinin aku tetep kerja ya? Aku janji prioritas aku tetep kalian."
Ayung tak menjawab, ia memilih bangkit dan memeluk Sinar sebagai bentuk terima kasih dan cintanya. Tuhan tidak pernah ingkar bahwa kesabarannya dahulu membuahkan bahagia yang sebesar ini.
🐝🐝🐝
Udah lama ga update, maafffff:((((
Semoga masih ada yg nunggu😭🙏🙏
KAMU SEDANG MEMBACA
BUNGSULUNG
General Fiction"Persetan dengan alasanmu mencintaiku, aku hanya tak ingin menarikmu pada seluruh masalahku" - Osinara Amara "Osinara selalu bercerita tentang kekurangannya, tanpa sadar ada banyak kelebihan di dalam dirinya. Lantas, adakah alasan bagi saya untuk ti...
