Tujuh lokasi yang minggu kemarin sempat kita kunjungi benar-benar tidak ada satupun yang menjadi pilihan Chika.
Dua hari aku didiamkannya hanya karena moodnya yang sedang tidak baik itu. Benar, Chika memasuki period.
Lagi-lagi aku harus banyak sabarnya bukan?
Beberapa hari ini kami seperti biasa, melakukan aktivitas dengan pergi bekerja setiap pagi, sorenya Chika kadang pulang lebih dulu. Karena akhir-akhir ini di kantorku sedikit lebih banyak pekerjaan yang harus segera selesai.
Pak Daniel tak jarang memberiku tambahan pekerjaan sampai harus lembur. Terlebih katanya akan ada mutasi kerja ke luar kota. Aku sedikit cemas dengan kabar ini.
Aku sudah memberitahu Chika jika jumat ini aku pulang malam lagi.
"Gapapa Mas, aku bisa naik ojol." Begitu katanya.
Jam tidurku pun semakin berantakan karena selain harus pulang lebih malam, juga beberapa peminat action figure lebih banyak sampai TikTok sudah memberikanku kesempatan untuk jadi akun yang diprioritaskan karena bisa live dengan pencapaian yang lumayan. Sehingga mau tak mau aku harus menyempatkan live meskipun lelah.
"Kamu udah makan belom?" Tanya Chika dari telepon. Ia menemaniku mengerjakan beberapa rekapan perusahaan lewat panggilan suara.
"Lagi nitip makan sama Azizi. Soalnya yang lembur juga ada Cio sama Zi," jawabku sambil mengetik beberapa kalimat.
"Kamu udah makan yang?" Tanyaku.
"Baru mau. Tadi aku bikin sayur asem, ini kuahnya enak banget seger."
"Ah jangan gitu dong, jadi pengen kan." Aku bisa membayangkan bagaimana Chika saat ini sedang excited karena masakannya berhasil dengan sempurna.
"Iya, ini the first sayur asem aku selama ini deh." Dia sedikit terkekeh diujung sana, "ya meski bumbu instan sih."
"Bumbu instan juga kalo yang masaknya gak jago mah sama aja yang, kamu kan emang jago. Ada banyak nggak itu?"
"Kenapa? Mau yaaa?" Godanya.
"Pake nanya," ucapku.
"Pake nasi sih enak banget, apalagi ada ikan asin yang kamu suka ituloh Mas."
"Please besok libur kamu harus masakin lagi buat aku." Mana bisa aku melewatkan ini begitu saja, jika tidak ada kerja lembur macam ini kupastikan nasi yang ada di rice cooker Chika akan habis oleh kita berdua maksudnya. Tak mungkin aku makan sebakul besar.
"Gak gratis tapi," baiklah kali ini dia sudah benar-benar siap menjadi ibu-ibu pada umumnya. Semua yang dikerjakan harus ada imbalan.
"Berapa aku harus bayar, hmm? Seratus ribu?"
"Mana ada sayur asem seenak ini, plus ikan asin dan nasi putih lengkap disuapin pake cinta harganya seratus ribu." Jelasnya panjang, "kurang itu minimal sejuta dikali sepuluh."
"Ambil! Ambil semua uangku sayang." Dia tertawa senang karena jawabanku. Suara sendok dan piring terdengar nyaring.
"Udah mulai makannya?"
"Baru mau."
"Jangan lupa berdoa sayang, bismillahirrahmanirrahim.." ucapku, "allahumma," aku membiarkan Chika yang melanjutkan doanya.
Dia sudah semakin lancar setiap membaca doa-doa. Dan ada yang lebih lancar lagi, dia semakin lancar melipat dan memasang kerudung tanpa harus bingung lagi. Ya meski menggunkannya baru sesekali saja. Aku sudah merasa senang.
"Selamat makan," ujarku. "Nanti besok aku masakin lagi ya, kamu jangan lupa makan juga kalo Azizi udah beli makannya."
"Siap bu bos. Kalo gitu aku lanjut kerja ya? Kamu lanjut makan ya sayang, abisin yang banyak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Peri Cintaku
FanfictionTuhan memang satu, kita yang tak sama. "Akan seperti apakah akhir dari kisah ini?" Monolog Chika. #1 - Aran (6May) #1 - bedaagama (30June)
