Shalat Maghribku selesai. Saat tadi berpamitan untuk shalat aku bukan tidak ingin mengajak Chika, dia baru saja mendapati jadwal bulanannya dua hari yang lalu.
Kini bingung melandaku, apakah aku harus benar-benar memenuhi semua keinginannya agar semua berjalan sempurna? Atau kali ini aku sedikit lebih tegas karena aku juga ingin andil meski hanya sedikit?
"Nikah tuh kalo cuma mikirin ego emang gak bakal ada ujungnya Mas," seseorang duduk di sampingku untuk memakai alas kaki. Sepertinya ia juga salah satu pelanggan disini.
"Jangan terlalu diambil pusing, selalu ada jalan keluarnya kok." Ia menepuk bahuku lalu berlalu lebih dulu.
Aku tidak mengenalnya sama sekali, apakah dia cenayang? Begitu lihai membaca isi pikiranku yang bahkan rasanya sudah aku usahakan untuk terkubur oleh rasa sabar.
Sebelum naik, aku membeli empat cup kopi. Galeri ini selain pusat penyewaan gaun dan baju pernikahan, di halaman belakang tepat di samping gedung galeri terdapat cafe yang cukup mewah, interiornya hampir mirip dengan bangunan galeri bernuansa klasik ala eropa.
Aku menghampiri Chika yang sedang sibuk dengan ponselnya, kedua pegawai tadi sepertinya sedang pamit untuk shalat.
"Sayang," sapaku duduk di sampingnya. "Hmm," dia hanya menyahutiku dengan suara dalam tanpa membuka mulutnya.
"Kemana mbaknya?" Dia menyimpan ponselnya ke atas meja di samping tas.
"Lagi sholat dulu." Aku mengangguk. Kuberanikan untuk duduk di sampingnya.
"Maaf ya, salah aku juga kenapa dari awal aku nggak beraniin diri buat diskusi sama kamu soal ini." Aku menusuk satu cup almond coffee dengan sedotan berwarna hitam, dan memberikan pada Chika.
Dia meraihnya, lalu menatapku datar.
"Kalo kamu maunya pake baju melayu, ayo aku gapapa. Itu cakep juga kok, nanti kita pilih warna yang cocok buat kita ya." Aku menurunkan kembali egoku kali ini.
"Tapi," ucapnya. "Stttt, gapapa. Adat sunda atau melayu bajunya gak beda jauh kok."
Saat ia akan bersuara lagi, lagi-lagi aku memotongnya. "Nanti kita prewedding=nya aja pake adat sunda kan bisa ya?"
Aku meminum kopi milikku. "Mas," aku menoleh cepat.
"Kenapa sayang?"
"Aku yang minta maaf," dia menghela nafas berat. "Aku salah. Dari awal aku terlalu aku, aku, dan terus aku. Aku nggak pernah mikirin atau nanya kamu mau gimana."
"Bahkan, aku aja nggak tau kamu suka atau nggak sama konsep yang aku pilih?" Lanjutnya lagi.
Jujur, aku merasa sedikit tidak karuan. Meskipun aku sudah mengenyampingkan egoku, tapi kalimat Chika benar. Aku suka atau justru terpaksa suka?
"Jangan maksain diri ya Mas, maaf aku telat nanya. Kamu boleh protes atau bilangan ke aku, kalo ada yang menurut kamu nggak setuju." Aku tersenyum, membawa tangan kiri Chika untuk digenggam.
"Makasih ya," ucapku yang dihadiahi anggukan dengan senyuman manis.
"Tapi aku mau adat melayu."
Aku menatap Chika datar, lalu menghela nafas untuk melengkungkan sudut bibir ke atas cukup lebar. Ralat, sangat lebar.
"Becanda ih, tegang banget." Ledeknya yang sudah tertawa.
Aku bingung harus menyikapinya dengan bagaimana. "Jadi baju adatnya gimana?" Tanyaku pelan.
"Sunda aja gapapa," jawabnya dengan senyuman paling manis. "Bener?" Tanyaku lagi.
"Iya Mas gapapa, aku juga suka. Nanti kamu pake samping atau celana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Peri Cintaku
Fiksi PenggemarTuhan memang satu, kita yang tak sama. "Akan seperti apakah akhir dari kisah ini?" Monolog Chika. #1 - Aran (6May) #1 - bedaagama (30June)
