FYI di chapter ini masi bertele-tele, gue rasa chapter ini wajib ada karena emang bagian penting juga. So, kalo ada yang komen gak suka dengan hal-hal yang berbau kenapa gak gini kenapa gak gitu, get out of my story rn! Kalo masih mau baca gue seneng, pesennya cuma satu be a good reader please!
***
Terkadang, hal paling sulit dari kehilangan bukanlah menyembunyikan perasaan sedih. Justru ketika kamu harus menjalani hari seperti biasa, sementara di setiap sudut, di setiap kebiasaan kecil, di setiap detik yang sunyi, ada jejaknya yang masih tertinggal. Bukan air mata yang paling menyakitkan, tapi bagaimana dunia tetap berjalan, memaksamu pura-pura lupa, sementara hatimu masih berbisik tentangnya.
Aku pikir menjadi Chika lebih mudah. Tidak terlalu banyak kenangan yang dilalui, pikirku mungkin saja lukanya tidak terlalu menganga. Rupanya aku keliru, lagi. Tidak ada yang lebih mudah dari setiap kehilangan, apapun situasinya.
Rasanya kini aku merasa egois. Bagaimana aku melalui semua ini bersama Kak Anin & Bang Boy, sementara dirinya?
Sebelum kami turun dari mobil. Aku merengkuhnya untuk lebih dekat dan mendekap erat. Dia semakin terisak. Jeritannya getir, bak seorang bayi yang kehilangan dotnya.
"Maaf," suaraku cukup pelan. Entah ia mendengarnya atau tidak.
Wajahnya masih bersembunyi dalam ceruk leherku, usapanku masih mengayun di punggungnya. "Maafin Mas yang mungkin masih belum ngertiin kamu ya."
Aku mengurai pelukan untuk menghapus air matanya.
"Aku juga minta maaf karena lagi-lagi nggak mau diajak diskusi baik-baik." Aku mengangguk, menyeka sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya. Meski tangisnya mereda, deru nafasnya masih turun naik tak beraturan. Aku memberikan kecupan hangat di dahinya lama. Memegang kepalanya dan memanjatkan doa dalam hati, semoga setelah ini semuanya berjalan baik.
"La-perrrr," rengeknya dalam suara yang sedikit serak.
"Utututu, sayangnya aku laper. Mau mam apa?" Aku sedikit mengusap-ngusap pipinya dengan dua tanganku.
"Telor mata sapi extra kecap."
"Okey. Berang-berang pergi ke cilacap, let's go bikin telor extra kecap." Aku mengecupnya sekilas lalu segera turun untuk membawanya naik menuju unit kami, ah tapi sepertinya akan ke unit Chika.
Di unit Chika aku sudah lebih dulu menuju lemari pendingin. Tapi tidak ada telur di sana. "Sayang, stok telur kita abis?" Aku bertanya saat dia baru saja keluar dari kamar mandi setelah mencuci tangan dan kaki.
"Hah? Emang iya?" Chika menghampiriku untuk melihat isi kulkas. "Iishh lupa, kita emang belum belanja."
"Beli dulu ya ke bawah? Ini cuma ada nugget." Di freezer ada sisa nugget yang kulihat masih berisi 7 potong lagi. "Nugget aja ya? Buat ganjel." Bujukku.
"Aku laper banget. Tapi udah males keluar," ujarnya yang sudah merebahkan diri di sofa.
"Okey aku masak nasi dulu, terus masukin nugget ke air fryer abis itu," gawat ternyata stok beras pun hanya tinggal setengah cangkir.
"Abis itu?" Tanyanya.
"Kita pesen online aja, soalnya beras juga abis." Jelasku menghampirinya, "gapapa online?"
"Boleh!" Jawab Chika cepat. "Tapi aku mau yang ada telornya."
Aku membuka aplikasi untuk mencari menu yang Chika inginkan, "padahal aku juga ada telornya, dua malah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Peri Cintaku
FanfictionTuhan memang satu, kita yang tak sama. "Akan seperti apakah akhir dari kisah ini?" Monolog Chika. #1 - Aran (6May) #1 - bedaagama (30June)
