“Apa yang sakit?” Tanya Chika. Ia sudah meraih tanganku. Dengan perlahan aku melepaskan genggamannya.
“Mas, apa yang sakit?” Kami bertatapan.
Banyak sekali hal yang ingin aku ungkapan saat ini, kekesalan sore tadi, barusan dan mungkin sisa-sisa kesalku di setiap kali ia selalu tak ingin mengalah untuk persiapan pernikahan kami.
Aku lebih dulu memutus pandangan kami, beranjak bangun dan mengambil jaket. Namun baru saja ingin keluar, Kak Anin dan Bang Boy masuk dengan tergesa. Sementara Chika masih berusaha memanggilku dengan pertanyaan kenapa.
“Mas, kamu kenapa? Mau kemana?”
“Ran, gimana keadaan kamu?”
Pertanyaan itu saling bersahutan dari dua orang yang beda. “Kamu mau kemana Ran?” Kali ini Bang Boy yang bertanya.
Kak Anin menghampiriku dan memeriksa keadaanku, tangannya mengusap halus area jahitan yang tertutup perban. “Ini luka?” Aku mengangguk, “di jahit karena sobek.”
“Ya Allah, kok bisa? Gimana ceritanya?”
“Lagi macet ya itu jadi kejebak dan masuk tabrakan beruntun?” Tanya Bang Boy.
Aku menuju sofa dan mendudukan bokongku di sana, mereka turut mengikuti langkahku. Chika duduk di sisi kiriku. “Iya tadi gak tau tiba-tiba mobil depan berhenti dadakan taunya emang yang depan juga nabrak, eh aku juga ditabrak dari belakang. Terus gak tau tiba-tiba di rumah sakit, tiba-tiba dikasih tau udah di jahit aja.”
“Nggak sama kamu kan Chik?” Kak Anin bertanya pada Chika yang diam sedari tadi. “Nggak kak, aku lagi nggak bareng Mas Aran.”
“Syukurlah, terus ini kata dokter gimana?” Aku melihat Chika menuju pantry. Sepertinya ia akan membuatkan minum agar Kak Anin tidak terlalu panik.
“Gapapa Kak, ini Aran aman. Paling lecet-lecet doang dikit.”
“Nggak harus rontgen kan?” Aku menggeleng, menggenggam tangan Kak Anin untuk mendapatkan kekuatan bahwa saat ini adik satu-satunya yang baru saja menjadi korban tabrakan beruntun tidak memiliki rasa sakit selain daripada hatinya yang terluka.
Dia membawaku dalam dekapannya, hangat. Seperti pelukan ibu yang aku rindukan. “Jadi kangen ibu.”
“Minum Kak, Bang.” Chika menyimpan dua gelas teh untuk kedua kakakku. “Makasih Chik.”
“Manja banget si kalo sakit gini, yaudah mulai sekarang Bang Boy sama Kakak nginep sini ya. Kamu harus dipantau, ini kalian h-3 loh.” Aku hanya mengangguk setuju.
Tapi pikiranku berkecamuk, apakah masih ada harapan untuk diteruskan? Pikirku.
“Semuanya udah lengkap kan? Apa lagi yang belum?”
Seharusnya aku bisa menjawab pertanyaan Bang Boy dengan baik. Entah aku ataupun Chika yang memberikan jawaban tentang persiapan kami yang sudah 95% itu. Tapi beberapa detik berlalu tidak ada satu pun yang membuka suara.
“Kok pada diem?”
“Berantem lagi?” Tanya Kak Anin. Aku masih betah bersembunyi di ketiak kakakku.
“Chik, kenapa? Ada sesuatu?” Tanya Kak Anin lagi.
“M-ma..”
”Aman kak udah 95% kok,” aku memotongnya lebih dulu. Tensiku sedikit lebih naik, ada gelombang yang sudah ingin meletup tapi aku kembali mengatur ritme pernapasan agar tidak terlihat bergejolak, aku tidak ingin membuat masalah lainnya.
“Kak maaf ya, sebenarnya Mas Aran gini gara-gara Chika.” Sedikit membetulkan posisi agar bisa duduk dengan benar, aku tidak menduga jika Chika akan menjelaskan seperti itu pada Kak Anin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peri Cintaku
FanfictionTuhan memang satu, kita yang tak sama. "Akan seperti apakah akhir dari kisah ini?" Monolog Chika. #1 - Aran (6May) #1 - bedaagama (30June)
