45. Aku?

308 44 12
                                        

Ini 2400++ kata, sekitar 9 halaman di google doc. Cepet vote dulu biar author seneng!

***



Saat ini, Chika adalah pusat semestaku. Melihatnya tersenyum, rasanya duniaku ikut terang. Tapi jika ada satu kerutan kecil di dahinya, itu seolah seluruh gravitasi di sekitarku terguncang.

Sejak sore tadi, senyumannya tak pernah luntur dalam wajah cantiknya. Tangannya sesekali mencubit lenganku yang duduk di sebelahnya, mungkin untuk memastikan bahwa semua ini nyata, dan pada akhirnya venue pernikahan impiannya jadi milik kami. "Aku masih nggak nyangka, Mas!" Dia menjeda untuk menarik nafas. "Tempatnya tuh sesuai ekspektasi, nggak kecil, nggak gede juga. Terus vibes-nya ituloh, intimate wedding banget."

Aku tersenyum melihatnya begitu bahagia. Meski pada akhirnya bukan hotel seperti sebelumnya, tapi kali ini benar-benar sesuai dengan segala bentuk pernikahan impian Chika yang sering ia ceritakan padaku.

"Mas, nanti kalo kita nikah, dekornya jangan banyak kain-kain gitu ya? Aku lebih suka yang full bunga, terus warna putih-ijo gitu, kayak garden fairy tale." Ucapannya itu masih selalu terngiang-ngiang dalam benakku. "Pokoknya serba bunga gitu, biar kesannya fresh dan nggak norak."

"Terus kalo ada lebah nyangkut gimana sayang?" godaku kala itu. Chika mencibir, "ya tinggal ditiup lah. Mending ada lebah sih daripada dekor kain yang lecek." Aku hanya menggeleng pelan.

"Nanti pokoknya intimate wedding aja, keluargaku bukan keluarga besar. Temen yang ku undang juga cuma temen kantor sama temen deket pas sekolah sama kuliah."

"Oh iya, aku nggak mau standing party. Kasian gasih tamunya, apalagi kalo makan mesti megang-megang piring yang berat gitu. Uhhh, no! No!" Ekspresi wajahnya masih jelas dalam ingatan dengan bibir mencebik lucu, "aku kalo kondangan standing party suka sebel aja. Nah kita nggak boleh ya."

Semua aku turuti tanpa terkecuali. Senyumnya tidak pernah luntur meski barang sebentar. "Cie yang dari tadi senyum-senyum terus, cantiknyaa ooeyyyyyyyy." Godaku menirukan salah satu anak TikTok kesayangan aunty uncle online.

"Haha, iya dong. Makasih ya Mas," ucapnya padaku. Kami sedang dalam perjalanan pulang setelah survey dan makan malam bersama Kak Anin & Bang Boy.

"Oh iya, aku mau check list dulu yang udah, biar keliatan progresnya sampe mana." Aku mengangguk.

Setelah pernikahan Kak Anin kemarin, Chika sempat membicarakan wedding planner dalam bentuk ebook, dimana di dalamnya ada beberapa list yang bisa di check list berdasarkan hal-hal yang sudah dipersiapkan. Termasuk dengan budget pernikahan dan juga moodboard untuk sesi pemotretan.

"MUA udah, photographer wedding dan prewedding udah, mc udah, venue dan catering udah, dekorasi udah sepaket juga sama sound dan hiburan. Tinggal-" Chika menjeda kalimatnya.

Aku bertanya, "tinggal apa sayang?"

"Attire nih belum, undangan, souvenir, ihh kok masih banyak."

"Coba sebutin apa yang belum?"

"Kita belum beli cincin, kalo mas kawin udah kamu siapin 'kan Mas?" Tanya Chika menatapku.

"Kalo mas kawin udah aman sayang, aku lupa bilang. Maaf ya," beberapa hari kebelakang aku menyempatkan untuk datang menemui salah satu kenalan baik yang memang biasa mengurus hal-hal seperti ini. "Cuma mungkin yang belumnya box-nya aja barangkali kamu mau dibuat duplikatnya dalem akrilik."

Peri CintakuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang