50. The Day? 🔞

977 69 44
                                        

Warning! Midly spicy content ahead.

***



"Yaudah jangan bete, pake tangan aja kayak biasa ya?" Bujuk Chika.

Bak mendapatkan undian 1 miliar, mataku yang redup berbinar kembali. "Pake mulut sayanghhh," kedua tangan lembut Chika entah sejak kapan sudah memijat perlahan setelah berhasil menurunkan celana dan ikat pinggangku.

Rasanya selalu sama, memabukkan.

Aku tahu ini salah. Bahkan aku sudah melanggar apa yang sudah aku janjikan, menjaga Chika dari diriku sendiri.

"Ahhh.." ya, sebentar lagi. Rasanya aku hampir sampai. Gelombang itu semakin dekat, Chika pasti merasakan denyutannya, karena usapan tangannya seolah berlomba dengan hisapan-hisapan hangat yang ia berikan.

Seolah akan meledak, roket panjang ini semakin terasa berat dan keras.

Aku mendesah lebih panjang, saat Chika berhasil mengurutnya dari luar hingga benih-benih yang mungkin saja akan ada salah satu kandidat presiden itu harus terpaksa mati berserakan di atas lantai kamarnya.

"Ahh udah udah, gak kuat yang." Ia terkekeh saat sentuhannya berhasil mendatangkan perasaan gelenyar aneh, antara sedikit geli dan nikmat.

"Huuu, cupu." Soraknya padaku.

"Hehe, makasih sayang. I love you," ucapku yang mengusap kedua tangannya dengan tisu basah lalu mencium keningnya lebih lama.

"Bersihin sendiri, aku mau cuci tangan."

"Siap ibu negara. Abis ini aku order makan ya?" Sedikit berteriak karena Chika sudah masuk ke dalam kamar mandi.

"Mas kamu udah makan banyak tadi, masih laper?" Tanyanya sedikit memunculkan kepala dan menatapku. Aku memberikan cengiran kuda, "kan abis olahraga. Cape!"

"Dih, orang aku yang gerak." Suaranya masih terdengar meski sedikit samar.

Tapi aku tetap memesan beberapa makanan, agar mood Chika lebih baik.

Dua puluh lima menit membersihkan diri, dan aku pun sudah merapikan kembali kamar Chika. Kami kembali menuju unitku.

Aku melupakan satu hal, bahwa tadi Kak Anin & Bang Boy datang dengan membawa beberapa makanan untuk kami.

"Apa itu?" Tanya Kak Anin.

"Pizza."

"Order?"

"Iya lupa, tadi asik ngobrol sampe gak inget kalian kesini bawa makanan banyak."

"Heuuuu, kurang komunikasi." Sahut Kak Anin.

Aku menggaruk tengkuk yang tak gatal, "ya udah gapapa rezeki gak baik ditolak."

"Jangan kebablasan, Chika belum dihalalin Aran." Celetuk Kak Anin.

Apakah Kakakku ini cenayang, seolah tahu apa aktivitas kami sebelum bergabung kembali di unitku ini.

"Kakak tau ya gimana kamu!"

"Aman kok, lagian aku juga tau batasan." Godaku menatap Chika dengan satu kedipan mata.

"Kalo Aran aneh-aneh pukul aja Chik! Suka ngelunjak dia tuh emang."

"Haha, boleh kan Kak beneran?" Chika ingin dikonfirmasi sekali lagi. Kak Anin memberikan jempol tangannya ditambah dengan kedipan mata sepertiku tadi, "sepuasnya."

Peri CintakuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang