Gagal. Satu kata yang menjadi alasan pertengkaranku dan Chika saat ini karena kalah cepat 15 menit dengan calon pengantin lain yang lebih dulu melakukan deal dan payment untuk booking venue yang kami kunjungi kemarin sore.
Setelah mencoba memilih menu catering dan mendiskusikannya dengan Chika, admin yang menemani kami untuk melihat-lihat dan menunjukkan beberapa menu serta memperbolehkan langsung mencobanya berkata, "Mas Zhafran, mohon maaf sekali Mas sebelumnya."
Perasaanku sudah buruk, sementara aku melihat Chika sudah begitu semangat dengan senyum lebarnya memperhatikan sekeliling lokasi ini.
"Kenapa Mbak?" Tanyaku.
"Barusan banget baru update, untuk tanggal dan jam yang sama sudah ter-booked. Gimana ya Mas?" Benar saja perasaan tidak enak ini langsung membuatku kalang kabut. Aku mengurut sedikit pelipis yang masih menatap Chika dengan posisi tiga meter.
"Mbak tapi," aku mencoba memastikan, "tapi tadi katanya kosong belum ada yang isi." Protesku.
"Iya Mas, maaf banget. Di tanggal yang sama emang sebetulnya sudah ada dua calon yang bertanya, Mas yang ketiga. Tapi yang dua setau saya memang belum ada survey atau kunjungan kesini."
"Lah terus gimana?" Aku bingung bagaimana cara menyampaikannya pada Chika. Dia sudah berjalan ke arah kami.
Chika menatap bingung, "ada apa Mas?" Tanyanya.
Aku menatap admin tadi, dia pun sama bingungnya. "Sayang, maaf aku kalah cepet untuk tanggal segitu udah ada yang booked baru aja."
"Kok bisa? Bukannya kamu tadi uda mau bayar DP juga?" Nada Chika bukan marah lagi, tapi marah sekali.
Aku berusaha menenangkan dengan mengusap bahunya, "Mba gimana tadi katanya kosong?" Kali ini Chika yang protes.
"Mohon maaf ya Mba Chika, Mas Zhafran. Ada yang booking online dan saya baru tau setelah 15 menit karena baru di cek, mereka sudah lebih dulu payment."
Chika membuang nafasnya kasar, "gapapa sayang kita cari yang lain. Mungkin belum jodoh, gapapa ya?"
"Sekali lagi saya atas nama venue ****** space mohon maaf atas kesalahan teknis dan penolakan sepihak ya Mas, Mba. Tapi untuk tanggal yang sama di lantai 35 ada venue yang sama, paling upgrade 100an aja."
Mana bisa seperti itu? Chika sudah pasti tidak akan menerima, tadi ia datang dengan antusias yang luar biasa. Kini ia berlalu tanpa permisi dan meninggalkanku bersama admin tersebut.
"Mas maaf ya." Mohonnya. Mau bagaimana lagi bukan? "Yaudah Mba gapapa, ini saya harus payment atau apa gitu tadi udah sempet food tester juga soalnya."
"Nggak Mas, itu free. Tapi mohon untuk tidak membuat rating buruk ya Mas, ini pure kesalahan teknis dan miss information dari bagian admin lainnya." Aku mengangguk, sudah tidak ada energi lain karena pasti Chika benar-benar akan sulit lagi untuk dibujuk.
Setelah pamit aku menyusul Chika, dia sudah menunggu di samping mobil. Kuraih tangannya untuk menenangkan tapi dia melepaskan begitu saja dan berkata, "buka, aku mau masuk." Bahkan tangannya sudah meraih handle pintu.
Kususul masuk untuk segera membicarakan ini, "sayang maaf, gapapa ya kita cari yang lain?" Bujukku.
"Ck. Kamu tuh bisa gak kalo apa-apa itu tuh sat set dikit jangan lelet, itu cuma tinggal proses payment aja jadi harus batal." Ada sedikit perasaan sakit ketika mendengar Chika berkata seperti itu. Tapi mungkin Chika benar, ini salahku yang kurang gesit. Seharusnya sebelum 15 menit tadi aku langsung melakukan transaksi. Aku diam sebentar, mengatur nafas agar tidak turut mengeluarkan egoku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peri Cintaku
FanfictionTuhan memang satu, kita yang tak sama. "Akan seperti apakah akhir dari kisah ini?" Monolog Chika. #1 - Aran (6May) #1 - bedaagama (30June)
