76 | Maaf Dipinta

837 67 2
                                        

Air mata Dihya terus mengalir tanpa dapat ditahannya

Alamak! Gambar ini tidak mengikut garis panduan kandungan kami. Untuk meneruskan penerbitan, sila buang atau muat naik gambar lain.

Air mata Dihya terus mengalir tanpa dapat ditahannya. Dia menarik tangannya dari genggaman Zane, merasa tidak layak disentuh oleh lelaki itu. Rasa malu yang teramat sangat membakar wajahnya. Dia menundukkan kepala, tidak berani menatap mata Zane yang kini pasti dipenuhi kekecewaan.

                    “Dihya,” panggil Zane lembut, namun ada nada pilu yang jelas terdengar dalam suaranya. “Pandang saya.”

Dihya menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya semakin deras membasahi pipi. Dia merasa dirinya kotor dan penuh kepalsuan. Bagaimana mungkin dia menatap lelaki yang telah memberikan hatinya dengan tulus, sedangkan hubungan mereka bermula dari sebuah penipuan?

Zane bangun dari duduknya dan berlutut di hadapan Dihya. Dia meraih kedua tangan wanita itu dan menggenggamnya erat, meskipun Dihya berusaha menariknya kembali.

                      “Dihya, dengar cakap saya,” ucap Zane dengan nada yang lebih tegas, namun tetap lembut. “Saya mungkin terkejut… saya mungkin terluka. Tapi itu tidak mengubah apa yang saya rasakan tentang kamu.”

                        Dihya mendongak, menatap Zane dengan mata sembap dan tidak percaya. Semakin sesak dan sakit dia rasakan tatkala Zane berkata begitu. “Apa maksud awak?” bisiknya lirih. “Selama ini… semuanya palsu. Saya… saya dibayar untuk bersama awak.”

                        “Ya, itu yang Datuk beritahu saya,” jawab Zane, mengusap lembut air mata di pipi Dihya dengan ibu jarinya. “Tapi apa yang terjadi di antara kita… itu bukan palsu, kan?”

Dihya terdiam, air matanya sedikit mereda. Dia menatap mata Zane, mencari kebohongan atau kemarahan, namun yang ditemuinya hanyalah kesedihan dan… harapan?

                          “Saya… saya tak tahu,” jawab Dihya jujur, suaranya bergetar. “Awalnya… ya. Saya hanya menjalankan tugas. Tapi… lama-kelamaan… perasaan itu datang dengan sendirinya. Saya… saya betul-betul cintakan awak, Zane.” Air matanya kembali tumpah, kali ini bercampur dengan rasa takut dan harapan.

                           Zane menghela nafas lega mendengar pengakuan tulus Dihya. Dia mengeratkan genggaman tangannya. “Saya tahu, Dihya. Saya dapat rasakannya. Meskipun awalnya semua ini diatur, apa yang tumbuh di antara kita tu nyata. Cinta yang kita rasakan… itu bukan pura-pura."

                              Dihya menatap Zane dengan penuh sebak. Bagaimana Zane masih boleh menerima dirinya selepas apa yang dia lakukan?“Maafkan saya. Saya tahu saya patut jujur dari awal lagi. Tapi saya takut....saya takut saya sakiti awak Zane."

                               Zane tersenyum tipis, namun ada kesedihan yang masih tersisa di matanya. “Saya terluka karena kebohongan ini. Karena saya tidak tahu yang sebenarnya sejak awal. Tapi saya lebih terluka jika saya kehilangan kamu. Cinta saya pada kamu lebih besar dari rasa sakit ini.”

55. His Favorite Mistress Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang