-49

44 5 1
                                        

"Gak masalah dong, mas, malah bagus kalo dia ikut sama Bi Cika!"

"Kamu tuh mikir gak sih, Dara? Jangan cuma pikirin diri kamu sendiri, pikirin juga gimana jelasin ke ibu!"

"Ya bilang aja Jisoo-nya yang mau ikut! Ibu juga tau sendiri mereka lengket banget," balas Dara tak acuh.

"Dan kita sebagai orang tua mengizinkan anak kita ikut, begitu? Ibu malah makin curiga!"

Dara berdecak. "Mas tuh kenapa sih?! Dari dulu gak terima Jisoo dibawa ke ibu, sekarang gak terima juga Jisoo ikut Bi Cika. Sebenernya mas lebih sayang aku atau dia?!"

Tristan menghela nafas, ia memegang kuat pundak istrinya untuk meyakinkannya. "Dara, kita pikirkan cara lain. Kita bikin rencana yang lebih logis. Bukan aku mau pertahanin anak itu di sini dan bikin kamu bad mood terus, aku cuma gak mau kita dicap 'orang tua gak bertanggung jawab' sama orang-orang. Ngerti, sayang?"

"Hmm!" Dara hanya membalas dengan deheman malas.

☀️

Dara masuk ke sebuah ruangan dengan gerakan pelan agar tidak menimbulkan suara. Namun, wanita di dalam menyadari pintu terbuka karena masuknya cahaya remang.

"Bi."

Wanita itu, Bi Cika menatap majikannya heran, ada apa datang ke kamar Jisoo malam-malam?

Bi Cika beranjak menghampiri Dara yang kembali menutup pintu.

"Bibi bawa aja Jisoo besok, gak usah nunggu setahun lagi."

Persetan, Dara sudah tidak tahan, ia muak! Dara harus menyingkirkan hama secepatnya.

Bi Cika tentu saja terkejut. Dua hari yang lalu, Bi Cika sudah berbicara pada Dara, dan sesuai perkiraan Bi Cika, respon Dara adalah senang. Namun, Tristan mendatangi dan berkata tidak perlu membawa Jisoo. Lalu sekarang mengapa?

"Bukannya tuan bilang gak usah ya, Nyonya?"

"Kamu gak usah pedulikan suami saya, kalo nurutin kemauan dia, lama! Ini gaji terakhir kamu, ada gaji untuk tahun depan juga, sekaligus bonus. Kamu pergi setelah suami saya berangkat kerja besok."

Bi Cika terdiam. Ia menerima amplop tebal itu sembari menatap Dara tak percaya. Segitunya ingin menyingkirkan Jisoo-anaknya sendiri?

"Baik," balas Bi Cika datar.

☀️

"Wah ... Bi Cica, liat, rumahnya bisa berjalan!"

Bi Cika hanya tersenyum. Sekarang ini mereka sudah berada di bus yang akan mengantarkan mereka ke kampung halaman Bi Cika. Perjalanan paling lambat delapan jam, semoga saja si kecil yang baru saja bebas melihat dunia ini tidak bosan.

Selama perjalanan Jisoo terus berceloteh tentang hal baru yang ia lihat. Bi Cika juga selalu sabar merespons, juga menegur jika perkataan Jisoo menyinggung, melewati batas, atau karena terlalu berisik, takut mengganggu menumpang lainnya.

Empat jam berlalu, kini anak berusia lima tahun ini terlelap setelah makan siang saat singgah di rest area.

Bi Cika tidak tertidur, atau malah tak ingin tidur. Untuk menjaga Jisoo, sewaktu-waktu gadis kecil itu bangun dan butuh bantuannya.

Lovely \ VsooCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang