-50

31 6 0
                                        

Jisoo menepati janjinya, yakni belajar dengan giat lebih dari siapapun, hanya untuk mengejar prestasi kakaknya. Ia membuang mimpinya untuk menjadi pelukis terkenal, agar setidaknya ibunya bisa mengakuinya sekali saja.

Walaupun awalnya Jisoo tidak diterima dengan baik di rumah baru mereka, Dara akhirnya mengalah karena semua orang seakan merundungnya, bahkan mertuanya yang ada jauh di Makassar sana ikut menelepon untuk membujuk.

Semester satu, Jisoo berhasil meraih ranking 3. Dan hari-hari berikutnya Jisoo hanya istirahat pada malam hari saja. Gadis itu benar-benar memaksakan dirinya. Jisoo merasa itu yang terbaik. Apalagi sekarang Jisoo mendapatkan banyak teman, dipuji oleh guru, tetapi tetap saja tidak menerima pengakuan dari ibunya.

☀️

Kelas 2 SMP, Jisoo berteman dengan setiap orang di kelasnya, dan jadi dekat dengan satu cowok. Awalnya mereka hanya teman biasa, namun cowok itu menembak Jisoo, karena tidak enakan, Jisoo menerima saja, ia merasa selama tidak mengganggu waktu belajarnya, tidak apa-apa.

Namun, beberapa hari menjali hubungan, terlihat sifat asli cowok itu, atau mungkin Jisoonya saja yang sudah muak lalu tersadar. Jelas sekali bahwa cowok itu hanya memanfaatkan Jisoo untuk mengerjakan tugas-tugasnya, jadi setiap hari Jisoo harus membuat dua tugas, untuknya sendiri, dan untuk cowok itu.

Jisoo pun akhirnya putus dengannya, karena sudah jelas mengganggu waktu belajarnya. Walaupun agak susah, karena sepertinya cowok itu kehilangan 'babunya', Jisoo berhasil lepas lewat bantuan kakaknya.

Di Tahun itu juga Jisoo akhirnya ditunjuk untuk mengikuti lomba cerdas cermat mewakili sekolah, Jisoo sangat tidak sabar menceritakan hal tersebut kepada mamanya. Namun, saat sampai di rumah ternyata tidak ada mamanya, katanya sedang liburan dengan teman-temannya.

Sudah dua tahun berlalu, kapan Jisoo akan mendapatkan pujian dari mama Dara, padahal di semester dua kelas dua kemarin Jisoo mendapat ranking 1, akhirnya. Jisoo tak kunjung mendapat perhatian sesuai ekspektasinya. Mama Dara tetap hanya fokus pada Yoona, kakaknya.

Sampai akhirnya, Jisoo memperhatikan kakaknya dengan seksama, barangkali jika ia meniru sifat dan sikap kakaknya, mama Dara akan menyukainya juga. Yoona terlihat sangat penurut, walau wajahnya selalu pucat, Yoona tetap terlihat cantik di mata Jisoo. Dengan balutan dress yang cukup mewah untuk seukurang anak SMA.

Benar juga, Yoona selalu memakai dress atau rok, Jisoo hanya memakai rok saat di sekolah. Tetapi, sepertinya mama Dara tak akan membelikan Jisoo baju mahal seperti itu, maka dari itu Jisoo menabung untuk membeli dress-nya sendiri.

"Baju punya siapa itu yang kamu pakai, Jisoo?"

Jisoo tersenyum cerah, akhirnya ibunya memperhatikan dirinya.

"Aku beli sendiri, Ma, aku-"

"Beli sendiri?" Dara berdecih. "Banyak duit ya kamu? Kalo gitu mama gak usah kasih uang sekarang!"

"Nggak gitu ...." Senyum Jisoo kembali memudar.

Dara menghela nafas dengan kasar. "Mau sok-sokan ngikutin gaya Yoona, kamu? Cih ... kamu tuh gak cocok pake dress, tau gak, apalagi dress cantik kayak gitu! Masalah terbesar kamu dalam hidup cuma ada di muka kamu yang jelek dan bawa sial itu! Jadi mama saranin kamu gak usah deh bertingkah, kamu gak cocok pake pakaian bagus! Dah sana, aku muak liat muka kamu! Jual lagi baju kamu itu, atau mama gak bakal kasih uang lagi!"

Belajar rajin siang malam seperti kakaknya ternyata tidak cukup, berperilaku seperti kakaknya tanpa cela sedikitpun juga tidak cukup, memakai dress atau rok kesukaan kakaknya juga tidak cukup, apakah Jisoo memang sudah terlambat untuk segalanya dan selamanya tak akan mendapat perhatian dari ibunya sendiri.

Lovely \ VsooCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang