"Tidurlah kesayangan daddy" bisiknya pelan "Daddy ada di sini dan semuanya akan baik-baik saja."
.
.
.
.
.
Suasana pagi di mansion keluarga Dirgantara terasa tenang. Hujan semalam menyisakan embun yang masih menempel di dedaunan, dan udara dingin membuat siapa pun enggan beranjak dari hangatnya tempat tidur.
Namun tidak dengan Ian.
Ia duduk memeluk lututnya di sudut jendela, mata kecilnya menatap kosong ke luar. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui tirai tipis menyinari wajahnya yang masih sembab setelah semalaman menangis dalam diam.
Hari ini bukan hari biasa.
Hari ini adalah hari ketika ia harus pergi.
Bukan pergi jauh, tapi cukup jauh untuk membuat hatinya berantakan.
---
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.
Tok… tok…
“Baby?” suara Sean terdengar dari luar.
Ian diam saja.
Tok… tok…
“Boleh abang masuk?”
Tak lama, pintu terbuka pelan dan Sean masuk. Ia tersenyum kecil ketika melihat tubuh mungil Ian sedang menyendiri di dekat jendela.
“Dingin di situ” katanya sambil mendekat. “Yuk duduk sini sama abang.”
Ian tidak menjawab, tubuhnya tetap kaku memeluk lutut, pandangan kosongnya seperti terkunci di luar jendela.
Sean duduk di lantai, menyamakan tinggi dengan adiknya mungilnya itu. Ia tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat, hanya diam di samping Ian mencoba menunjukkan bahwa ia ada di situ.
“Kalau baby mau nangis, gak apa-apa.” gumam Sean akhirnya.
Ian menggigit bibirnya pelan, menahan gelombang emosi yang hendak tumpah.
“Tenapa Ian ndak bolleh tinggal dicini celamanya…” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Sean terdiam, hatinya ikut mencelos. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab.
“Bukan karena kita gak mau, baby. Tapi karena hidup itu… kadang gak adil.”
“Kenapa… semua olang lebutin Ian cih…” suaranya mulai bergetar.
Sean menoleh. “Karena kamu berharga.”
---
Sementara itu, di ruang makan…
Syella menatap kosong ke secangkir kopi yang sudah dingin, tangannya mengepal di bawah meja, dan napasnya tidak teratur.
Marvin duduk di sampingnya, menggenggam tangannya pelan.
“Sayang…” katanya lembut. “Kita gak kalah. Kita hanya berbagi.”
“Berbagi anak?” gumam Syella dengan suara nyaris tak terdengar. “Apa kamu sadar kamu lagi bicara soal anak kita?”
Marvin terdiam, ia tahu kata-kata semacam “adil” dan “hukum” tidak ada artinya bagi seorang ibu yang merasa akan kehilangan anaknya, walaupun hanya setengah hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Baby Liandra (Slow Update)
Teen FictionBercerita tentang seorang anak berumur 14 tahun yang hidup sebatang kara karena dibuang oleh orang tuanya kita sebut saja Liandra. Diumur yang seharusnya masih sekolah, bermain, dan mendapatkan kasih sayang dari orang tua, ian justru harus bekerja...
