49

2.8K 178 11
                                        

‎/Ting

‎Suara itu terdengar ringan, ‎bukan suara monitor ICU, bukan juga suara alarm.

‎Ian mengerjap.

‎Kelopak matanya terasa berat, kepalanya berdenyut seperti baru saja dihantam gelombang besar. Bau antiseptik masih ada… tapi berbeda. Tidak menusuk. Tidak menakutkan.

‎“……” ‎

Pandangan Ian perlahan fokus.
‎Langit-langit putih, lampu kamar, tirai jendela yang tertiup angin pelan, ini jelas bukan ICU. Ia mencoba menggerakkan jarinya—berhasil. Yang ia lihat adalah ruang rawat inap rumah sakit, tapi dengan ranjang lebih besar, monitor berbeda.

Dan tunggu....TANGANNYA!

‎Ian menatap kedua telapak tangannya dengan napas tercekat, bukan tangan balita. Tangan ini lebih panjang, kurus. Ada bekas luka dan infus di punggung tangan.

‎"Hah? ini....”

Ia refleks bangkit… lalu kembali terjatuh ke atas kasur.

Suaranya serak dan lebih berat, bukan lagi suara anak kecil. ‎Di samping ranjang, seorang perawat wanita mendelik sambil memegang clipboard.

‎“Jangan tiba-tiba bangun kayak gitu dek, kalau tadi maksa bangun, jahitan di kepala bisa kebuka.”

‎Ian menelan ludah, Jahitan? ‎Kepala?.

‎Perlahan, ingatan lain menyeruak. ‎Lampu merah, rem yang terlambat, benturan keras, lalu jeritan.

‎“Kecelakaan…” Gumamnya.

‎“Ya iyalah” sahut perawat itu datar. “Motor lawan truk, menang truk. Dan kamu koma hampir dua bulan.”

‎Dua bulan.

‎Ian memejamkan mata kuat-kuat, ‎Dua bulan…‎tapi semua yang dia alami itu terasa seperti dua kehidupan nyata.

‎“Mom?… Dad?…” Suaranya lirih tanpa sadar, nada polos itu keluar refleks.

‎Perawat itu langsung berubah ekspresinya.
‎“Oh— mereka di luar. Dari tadi nungguin.”

‎Lalu suara pintu terbuka, dan dunia Ian terasa benar-benar berhenti.

‎“IAN!”

‎Suara itu menggema, seorang wanita berlari masuk lebih dulu, wajahnya pucat, mata sembab, tangannya gemetar saat memegang bahu Ian.

‎“Kamu sadar… kamu beneran sadar…” Suaranya pecah, itu adalah Syella.

‎Di belakangnya, seorang pria dewasa berdiri kaku. Rahangnya mengeras, matanya merah, tangannya mengepal kuat seolah menahan sesuatu yang hampir runtuh.

‎Marvin Dirgantara.

‎Lebih tua dari versi yang Ian ingat—‎namun tatapan itu… sama.

‎“Dad…” Ian berbisik tanpa sadar.

‎Kata itu keluar begitu alami, tubuh Marvin bergetar. Langkahnya maju satu, lalu berhenti, tangannya terangkat… ragu… lalu mendarat di kepala Ian dengan sentuhan berat tapi hangat.

‎“Kamu bikin semua orang hampir gila” Ucapnya serak. ‎“Tapi… syukurlah.”

‎Di belakang mereka, satu per satu masuk, Martin dan Reina, ‎Arsen, ‎Sean, ‎Sasha dan si kembar, disusul oleh kakek dan neneknya. ‎Lebih tua, tapi wajah-wajah itu… sama persis dengan yang Ian lihat sebelum ia pergi.

‎Ian menatap mereka satu per satu, dadanya terasa sesak.

‎Air mata jatuh tanpa peringatan. ‎“Kenapa… kenapa kalian nangis?” ucapnya polos.

Baby Liandra  (Slow Update)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang