48

2K 216 19
                                        

Semua mengangguk dengan penuh tekad, jika itu menyangkut keselamatan Ian, mereka mampu melakukan apapun walau harus mengorbankan nyawa mereka sekalipun.

.

.

.

.

.

.

Tiga hari telah berlalu sejak Ian dilarikan ke rumah sakit.

Selama tiga hari itu, seluruh keluarga Dirgantara seolah hidup di bawah bayang-bayang kecemasan. Tidak ada yang benar-benar tidur, tidak ada yang bisa makan dengan tenang.

Bahkan Bara, yang biasanya tegar dan penuh wibawa, terlihat sering menatap kosong ke arah jendela ruang ICU, seperti memohon agar waktu berjalan lebih cepat… atau justru berhenti sama sekali.

Di dalam ruangan ICU, tubuh kecil Ian terbaring tak bergerak. Selang infus, oksigen, dan kabel-kabel pemantau terpasang hampir di seluruh tubuhnya. Namun yang berbeda hari ini… garis-garis di monitor mulai menampilkan kestabilan.


---

Di ruang tunggu rumah sakit...

Marvin sedang duduk dengan kepala tertunduk, sementara Syella bersandar di bahunya. Arsen bolak-balik mondar-mandir seperti harimau yang gelisah di kandang. Sean duduk diam, kedua tangannya saling menggenggam kuat, seolah mencoba menyalurkan doa dalam diam.

Frans dan Martin tengah berdiskusi dengan dokter, membicarakan kemungkinan transfer ke rumah sakit internasional jika kondisinya tidak membaik. Namun di tengah semua kepanikan itu, alarm dari ruang ICU tiba-tiba berbunyi.

Bip! Bip! Bip!

Semua orang berdiri.

Dokter dan perawat berlari masuk, diikuti oleh Bara dan Marvin.

Namun yang mengejutkan mereka...

Bukan penurunan kondisi, tapi sebaliknya.

Monitor menunjukkan peningkatan tekanan darah dan saturasi oksigen Ian. Tubuh kecilnya mulai bergerak pelan, dan detak jantungnya kembali ke ritme yang lebih kuat.

“Dia... stabil!” seru salah satu perawat.

Dokter tersenyum lega. “Kita berhasil… dia bertahan.”

Beberapa jam kemudian...

Ian membuka matanya perlahan. Pandangannya masih buram, tapi suara lembut Sistem menyapanya seperti hembusan angin hangat.

"Selamat datang kembali, Tuan"

Ia mengerjap pelan, lalu melihat sekeliling. Wajah-wajah familiar menyambutnya.

“Baby?” suara Syella tercekat.

Ian menoleh perlahan, matanya berkaca-kaca.

“Ddy… Mymy…” bisiknya pelan.

Sean langsung memeluknya dari sisi ranjang, menahan tangis. Marvin mengusap kepalanya lembut, Syella mencium punggung tangannya berulang kali.

Arsen, Sasha dan si kembar berdiri di pintu, mata mereka merah karena menangis diam-diam. Bahkan Bara menghela napas panjang, lalu menatap Ian dengan mata teduh.

Baby Liandra  (Slow Update)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang