----------
Ketika cinta mulai membelai dalam simfoni merdunya, maka logika akan terkalahkan...
----------
Lelaki itu memandangku dengan pandangan rindu. Ia mengacak rambut panjangku, seperti kebiasaannya tiap kali bertemu denganku. Dan sugar, aku selalu suka saat ia memanggilku seperti itu. Itu akan mengingatkanku pada daddy. Ah daddy, bagaimana kabarnya sekarang? Baru dua hari berpisah membuatku begitu merindukannya. Aaahh!! Aku menepuk keningku sendiri. Melupakan sesuatu.
"Bodoh sekali aku!" pekikku tertahan.
Lelaki di depanku mengerutkan dahinya dan memandangku bingung. "Ada apa, Sugar?"
"Aku sama sekali belum menghubungi daddy dan mommy sejak tiba di sini! Mereka pasti khawatir!" dengan segera aku mencari ponsel di dalam tas kecilku. Pertemuanku dengan Leon rupanya mampu mempengaruhi kinerja otakku. Bisa-bisanya aku melupakan orangtuaku sendiri. Dan aku yakin, sebentar lagi aku akan mendengar omelan daddy. Aku segera membuka ponselku dan menghubungi daddy.
Tersambung...
"Halo, Sugar?" suara khas daddy terdengar merdu di telingaku.
"Dad, maafkan aku baru memberikan kabar. Aku sungguh lupa. Aku...." Rasanya aku bingung harus berkata apa.
"Hahaha... tidak apa-apa. Leon sudah memberi kabar pada daddy. Daddy Kean saat ini juga sedang berada di sini."
Mulutku ternganga. Tidak menyangka bahwa saat ini Daddy Kean sedang bersama daddy. Dua lelakiku yang paling aku sayangi bersama! Ugh, seandainya aku ada di sana! "Sampaikan salam sayangku padanya, Dad."
"Daddy juga mencintaimu, Alanis." Kini aku mendengar suara Daddy Kean. Aku yakin seratus persen bahwa daddy pasti menekan tombol loudspeaker karena aku mendengar kekehan mommy yang berada di dekat Daddy Kean.
"Daddy Kean cepat kembali ke sini. Aku kangen ingin bertemu," kataku dengan nada manja.
Hening sejenak sebelum aku mendengar Daddy Kean berdehem sekilas. "Untuk saat ini daddy tidak bisa pulang, Alanis. Ada urusan yang harus diselesaikan di sini. Titip Leon dan Khareena, ya? Mungkin mereka akan sedikit menyusahkanmu."
"Tenang saja, Dad. Mereka menyenangkan." Aku terpaksa berdusta karena tidak mungkin aku menceritakan pertemuanku yang kaku kemarin. Aku tidak ingin membuat mereka semua khawatir padaku.
Aku mendengar tawa renyah mereka, kemudian setelah lama ngobrol dan melepas rindu, aku memutuskan sambungan telepon. Aku menepuk keningku lagi, terlalu lama ngobrol dengan orang tuaku dan Daddy Kean membuat aku melupakan lelaki di depanku.
Aku melihat ke depan dan tidak mendapati apa-apa. Lelaki itu menghilang. Aku mencoba untuk menoleh ke kiri kanan mencari keberadaannya tetapi tetap saja nihil hingga aku merasakan dua telapak tangan yang menutupi kedua mataku dari belakang. Aku tersenyum. Ia memang tidak pernah melupakan kebiasaannya.
"Kak Kenny, jangan bercanda di tempat seperti ini, tidak enak jika dilihat orang," kataku sambil membuka telapak tangannya yang menutupi kedua bola mataku.
Tawanya makin terdengar nyaring. Itu yang selalu aku suka dari Kak Kenny, ia adalah lelaki hangat, tidak dingin seperti Leon. Mendengar tawanya saja selalu bisa membuatku merasakan kenyamanan. Dan itu juga membuatku betah lama-lama di dekatnya.
"Kak, kenapa kita bisa bertemu di sini? Padahal negara ini luas sekali." Aku menggeleng-gelengkan kepalaku bingung.
"Aku sudah tahu kalau kau akan melanjutkan studimu di sini. Leon yang memberitahu," jawabnya singkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alanis "a forbidden love"
RomanceDi bawah langit Rusia Kita meretas cinta Meleburkan batas ketidakbenaran Mengisi tiap gores kidung kehidupan Hingga takdir menentukan jalannya... Di bawah langit Rusia Aku, Alanis Caradoc... Dan inilah kisah cinta terlarangku... ...
