----------
Cobalah untuk pergi, maka jerat iblisku akan semakin menyiksamu...
----------
Bruaaaakkkk!!!
Suara itu! Suara tubuh yang terhempas ke tanah. Suara yang sama persis ketika tubuh Inessa Feodora menjemput mautnya. Suara yang sama persis ketika Khareena hampir kehilangan nyawanya!
Tidak! Aku tidak akan sanggup kembali melihat kejadian yang sama untuk ketiga kalinya, dan kali ini aku tidak akan pernah bisa melihat tubuh Alanis yang terkoyak dengan mengenaskan! Suara itu justru mengingatkanku pada memori-memori lalu yang bahkan sampai detik ini masih terus menghantuiku.
Mengingat bagaimana darah yang keluar dari raga Inessa, mengingat bagaimana jerit kesakitan Khareena. Mengapa harus dengan cara yang sama? Mengapa sepertinya kematian Inessa membawa sebuah firasat yang pada akhirnya terus menghantui hingga saat ini? Inessa dan Alanis, mereka adalah satu orang yang sama... dan itu artinya... apakah Alanis akan menjemput maut dengan cara yang sama pula?
Aaaarrrgghhh!!! Tidak!!! Alanis tidak boleh pergi!!!
Suara hatiku telah mengkhianati pikiranku. Aku mengangkat tubuhku yang berlutut untuk melihat ke bawah balkon. Jantungku berdegup dua kali lipat lebih keras. Kepalaku terasa pening dan langkahku gontai.
Di bawah, aku melihat Alanis benar-benar telah terhempas dalam keadaan terlentang. Napasku hilang seketika. Tetapi... ia bergerak! Dan... ada seseorang yang bawahnya yang berhasil menjadi penopang tubuh Alanis. Aku menghembuskan napas lega. Setidaknya Alanis masih hidup, meskipun kali ini aku harus merelakan ia bersama dengan Kenny.
Ya, seseorang itu adalah Kenny. Entah sejak kapan dan ada urusan apa ia kemari, tetapi keberadaannya benar-benar menyelamatkan Alanis. Seandainya tidak ada Kenny, aku tidak ingin membayangkan kemungkinan yang akan terjadi.
Aku tidak akan turun. Aku tidak akan mendekati mereka. Aku cukup melihat dari sini. Melihat Kenny yang mendekap Alanis dengan erat, membuat hatiku cukup sakit. Tetapi tidak apa-apa, biarlah Alanis bersama dengan Kenny untuk sementara waktu. Itu adalah reward yang aku berikan padanya karena sudah menyelamatkan istriku.
Tetapi jika sudah tiba saatnya, aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku dan tidak akan melepaskannya lagi. Untuk selama-lamanya. Alanis Caradoc adalah istriku dan aku tidak akan rela ia dimiliki oleh lelaki lain.
Aku melihat Kenny yang menggendong Alanis dan membawanya ke mobil. Aku tahu bahwa Alanis pasti akan lari. Saat berada dalam gendongan Kenny, ia sempat melihat ke atas. Mata kami bertemu, aku melemparkan pandangan dinginku padanya. Kemudian ia memilih untuk mengalihkan pandangannya.
Pergilah, istriku, kecaplah kebebasanmu untuk sementara waktu sebelum aku merengkuhmu kembali ke dalam pelukanku... Darah kita sudah bersatu dan siapa pun tidak akan ada yang bisa memisahkan kita.
***
Aku membuka kamar Khareena dengan perlahan. Ia sedang bermain bersama dengan buku sketsanya. Ia memang seorang desainer fashion. Sebelum kejadian mengenaskan itu, ia sekolah di sekolah khusus fashion designer. Sejak kecil ia memang pernah bercita-cita untuk menjadi seorang model terkenal. Tetapi pada akhirnya, ia harus mengubur mimpinya karena kedua kakinya yang lumpuh.
Tanganku terkepal. Seandainya hari sialan itu tidak pernah ada, tentu ia tidak akan seperti ini. Dan semua itu gara-gara Keanu! Keanu yang harus membayar atas apa yang telah ia lakukan pada Khareena. Seandainya... seandainya ia tidak... aaarrrggghh!!! Aku benci mengingatnya!
Aku berjalan mendekat dengan tidak menimbulkan suara. Khareena masih tidak menyadari kehadiranku. Ia duduk di atas kursi rodanya di depan jendela kamar yang terbuka dan menghadap langsung ke pemandangan pengunungan yang cukup indah. Ia masih berkutat dengan buku sketsanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alanis "a forbidden love"
RomanceDi bawah langit Rusia Kita meretas cinta Meleburkan batas ketidakbenaran Mengisi tiap gores kidung kehidupan Hingga takdir menentukan jalannya... Di bawah langit Rusia Aku, Alanis Caradoc... Dan inilah kisah cinta terlarangku... ...
