-- 41 -- Only Time

11.3K 862 279
                                        

----------

Terkadang hadirnya dalam benak lebih berarti dibanding diam menatap matanya...

----------

3 bulan kemudian...

Suara dua malaikat itu terdengar bagaikan melodi surga di telingaku. Mereka tertawa di dalam kereta dorong mereka dengan tangan yang mencoba untuk menggapai angin yang tak kasat mata. Dua bayi mungil dengan pipi chubby yang menggemaskan. Aku memandang keduanya sambil mencubit pipi mereka gemas.

Laqueena dan Laquisha, wajah mereka sungguh identik. Perpaduan antara aku dan Leon. Tetapi mudah sekali untuk membedakan mereka. Laqueena memiliki mata hazel ayahnya, sementara Laquisha memiliki mata biru lautku. Aku tersenyum sendiri, apalagi melihat dandanan mereka yang sungguh lucu. Dengan baby dress berwarna putih dilengkapi bandana mawar. Mereka berdua sudah siap untuk menyambut kedua orang tuanya di depan altar.

Aku berdiri dan melihat pantulan diriku sendiri di depan cermin. Aku yang mengenakan gaun pengantin indah ini. Gaun yang sama yang aku kenakan saat aku mengucapkan janji bersama dengan Leon kala itu. Tetapi kini, saat melihat gaun ini tidak ada rasa ngeri sama sekali. Aku justru merasakan gejolak hatiku yang membuncah oleh rasa bahagia.

Aku menarik napas panjang. Menekan dadaku sejenak yang tiba-tiba terasa nyeri. Aku membetulkan letak selang oksigenku. Memang benda itu kini tak akan pernah terlepas dariku. Bahkan ia mengantarku hingga di depan altar nanti dan mengucapkan janji pernikahan sekali lagi. Aku sudah menikah dengan Leon sebelumnya. Tetapi kali ini ada rasa yang berbeda. Pernikahan kami bukanlah pernikahan yang tak direstui.

Di sana tidak hanya ada aku, Leon dan pendeta. Tetapi Daddy Kean, Mommy Claire, Kenneth, Khareena, dan para tamu undangan. Termasuk... kedua buah cintaku dengan Leon. Aku tersenyum samar, mengabaikan rasa nyeri di dada yang semakin lama semakin menghimpit. Apakah nyeri ini datang karena daddy?

Daddy benar-benar menepati perkataannya. Ia tidak muncul di hadapanku dan Leon seminggu sebelum pernikahanku. Daddy memilih untuk kembali ke negaranya. Kata mommy, masih terlalu sulit bagi daddy menerima kami. Tetapi daddy akan kembali jika ia memang sudah merelakan semuanya.

Aku tersenyum pahit jika mengingat daddy. Sebagai putri satu-satunya, tentu aku ingin daddy yang akan menggandengn aku dan mengiringku ke depan altar. Saat ini, aku justru merindukan pelukan dan ciuman daddy. Apakah aku telah menjadi seorang anak yang kurangajar? Tanpa sadar setetes kristal bening meluncur jatuh dari netraku. Aku menghapusnya cepat, takut air mata itu dapat melunturkan netraku.

Suara derit pintu yang terbuka membuat aku sedikit tercekat. Aku menekan kembali dadaku yang terasa sakit. Aku melihat seseorang dengan tuksedo hitamnya tersenyum manis sekali padaku. Ia terlihat begitu tampan. Dengan mata hazel yang memancarkan aura surga. Ia mendekatiku dan mencium bibirku pelan.

Aku tersenyum saat melihat bekas lipstick di bibirnya dan mengusapnya dengan ibu jariku. "Pergilah dulu. Kita bertemu di depan altar gereja," kataku tidak pernah puas untuk menatap hazel-nya terus menerus.

Leon mengangguk dan memandang kedua bayi kami. Ia berjalan mendekat dan menggendong salah satu dari mereka sambil memeluk serta mencium lama. Aku sedikit tertegun melihat pemandangan itu. Mengapa terasa ada yang sedikit aneh dari cara Leon memandang Laqueena? Aku bahkan melihat genangan air mata di manik hazel itu. Setelah puas mencium Laqueena, ia menggendong Laquisha dan melakukan hal yang sama.

"Aku akan membawa mereka terlebih dulu, Alanis. Sampai bertemu nanti. Mommy akan segera kemari untuk menjemputmu."

Aku mengangguk. Sebelum keluar dari kamar, Leon memelukku lama sekali. Pandangannya sedikit sendu, namun ia kembali memancarkan binar penuh kebahagiaan. Punggung Leon yang mendorong kedua kereta bayi kami menggilang seiring dengan pintu yang tertutup. Aku menekan dadaku lagi. Tidak boleh. Aku tidak boleh sakit lagi. Aku benar-benar harus kuat di hari bahagiaku ini.

Alanis "a forbidden love"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang